Anggaran minim, frontage road Sidoarjo mandek
Kamis, 16 Agustus 2012 - 17:23 WIB
Anggaran minim, frontage road Sidoarjo mandek
A
A
A
Sindonews.com - Keinginan warga Sidoarjo agar terbebas dari kemacetan masih jauh dari kenyataan. Pasalnya, untuk pembangunan frontage road mulai dari Bundaran Waru hingga Sidoarjo hanya dianggarkan Rp1 miliar.
Padahal, pembangunan jalur pemecah kemacetan dari Surabaya ke Sidoarjo itu ditarget selesai dalam lima tahun kedepan.
"Kalau untuk menuntaskan frontage road butuh dana ratusan miliar," ujar Kepala Dinas PU Bina Marga Sidoarjo Sigit Setiawan, di Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (16/8/2012).
Sigit menambahkan, dana sebesar Rp1 miliar itu hanya sebatas rangsangan belaka. Rencananya, dana itu akan digunakan untuk pembebasan lahan. Dan, nantinya secara berkala akan dianggarkan dana untuk pembangunan jalan sepanjang 10 kilometer tersebut.
Untuk menyiasati besarnya anggaran untuk frontage road tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo menggandeng perusahaan swasta. Di mana perusahaan lahannya yang terkena proyek itu bisa menghibahkan lahannya untuk jalan.
Sejauh ini PU Bina Marga sudah koordinasi dengan beberapa perusahaan yang ada di sisi timur rel kereta api (KA) mulai Waru, Gedangan hingga Buduran.
"Kami berharap agar perusahaan mau menghibahkan lahannya agar pembangunan frontage road itu bisa cepat selesai," tandas Sigit Setiawan.
Beberapa perusahaan yang ada di sisi timur mulai Sidoarjo sampai Bundaran Waru, di antaranya lahan milik PT Avian di Buduran, PT Surya Pasifik Jaya (BLKTKI), PT Japfa Comfeed, dan beberapa perusahaan lainnya. Sedangkan yang paling prospek untuk pengembangan frontage road dimulai dari depan PT Maspion II.
Sebab, di depan Maspion II kondisi jalan di situ sudah lebar dan sudah menyambung ke arah lingkar timur. Sesuai rencana, jalan tersebut diperbaiki lebih dulu agar kelihatan jika frontage road itu ada.
Lahan yang dibutuhkan untuk frontage road lebarnya sekitar 10 meter dengan panjang jalan sekitar 13 km. Sedangkan lebar untuk jalan diperkirakan 7 meter terdiri dari dua lajur dan yang 3 meter untuk badan jalan.
Ketua Komisi C DPRD Sidoarjo H Nur Ahmad Syaifuddin mengatakan pembangunan frontage road itu bisa memecah konsentrasi kemacetan arus lalu lintas baik dari Sidoarjo atau Surabaya. Sebab, selama ini saat jam kerja mulai Sidoarjo sampai Surabaya dilanda kemacetan.
"Frontage road sangat dibutuhkan untuk jangka panjang. Jika tidak ada frontage road, kemacetan tidak terus berkepanjangan," ujar politisi asal PKB tersebut.
Pria yang akrab disapa Cak Nur tersebut meminta agar PU Bina Marga segera berkoordinasi dengan PT KA. Hal ini diperlukan untuk mencari titik aman keberadaan tanah milik PT KA.
Padahal, pembangunan jalur pemecah kemacetan dari Surabaya ke Sidoarjo itu ditarget selesai dalam lima tahun kedepan.
"Kalau untuk menuntaskan frontage road butuh dana ratusan miliar," ujar Kepala Dinas PU Bina Marga Sidoarjo Sigit Setiawan, di Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (16/8/2012).
Sigit menambahkan, dana sebesar Rp1 miliar itu hanya sebatas rangsangan belaka. Rencananya, dana itu akan digunakan untuk pembebasan lahan. Dan, nantinya secara berkala akan dianggarkan dana untuk pembangunan jalan sepanjang 10 kilometer tersebut.
Untuk menyiasati besarnya anggaran untuk frontage road tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo menggandeng perusahaan swasta. Di mana perusahaan lahannya yang terkena proyek itu bisa menghibahkan lahannya untuk jalan.
Sejauh ini PU Bina Marga sudah koordinasi dengan beberapa perusahaan yang ada di sisi timur rel kereta api (KA) mulai Waru, Gedangan hingga Buduran.
"Kami berharap agar perusahaan mau menghibahkan lahannya agar pembangunan frontage road itu bisa cepat selesai," tandas Sigit Setiawan.
Beberapa perusahaan yang ada di sisi timur mulai Sidoarjo sampai Bundaran Waru, di antaranya lahan milik PT Avian di Buduran, PT Surya Pasifik Jaya (BLKTKI), PT Japfa Comfeed, dan beberapa perusahaan lainnya. Sedangkan yang paling prospek untuk pengembangan frontage road dimulai dari depan PT Maspion II.
Sebab, di depan Maspion II kondisi jalan di situ sudah lebar dan sudah menyambung ke arah lingkar timur. Sesuai rencana, jalan tersebut diperbaiki lebih dulu agar kelihatan jika frontage road itu ada.
Lahan yang dibutuhkan untuk frontage road lebarnya sekitar 10 meter dengan panjang jalan sekitar 13 km. Sedangkan lebar untuk jalan diperkirakan 7 meter terdiri dari dua lajur dan yang 3 meter untuk badan jalan.
Ketua Komisi C DPRD Sidoarjo H Nur Ahmad Syaifuddin mengatakan pembangunan frontage road itu bisa memecah konsentrasi kemacetan arus lalu lintas baik dari Sidoarjo atau Surabaya. Sebab, selama ini saat jam kerja mulai Sidoarjo sampai Surabaya dilanda kemacetan.
"Frontage road sangat dibutuhkan untuk jangka panjang. Jika tidak ada frontage road, kemacetan tidak terus berkepanjangan," ujar politisi asal PKB tersebut.
Pria yang akrab disapa Cak Nur tersebut meminta agar PU Bina Marga segera berkoordinasi dengan PT KA. Hal ini diperlukan untuk mencari titik aman keberadaan tanah milik PT KA.
(mhd)