Pencapresan Ical: Cawapres saya harus dari Jawa
Kamis, 02 Agustus 2012 - 09:05 WIB
Pencapresan Ical: Cawapres saya harus dari Jawa
A
A
A
Sindonews.com - Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical) memastikan bakal memilih tokoh beretnik Jawa sebagai calon wakil presiden (cawapres) pendamping dirinya yang akan maju sebagai calon presiden (capres) 2014.
“Sesuai dengan kebiasaan, kalau presiden dari luar Jawa, berarti wakil saya harus dari Jawa,” katanya seusai buka puasa bersama dan silaturahmi dengan masyarakat Gresik di Pendapa Kabupaten Gresik, Jawa Timur, kemarin.
Dari sejumlah nama yang sudah beredar, Ical belum bersedia menyebutkan tokoh yang dipilihnya.
Mantan Menteri Koordinator Bidang Kesra itu menyatakan bahwa saat ini belum waktunya menyebutkan nama cawapres.
“Saya juga perlu istikharah supaya tidak keliru memilih,” akunya. Hanya saja, dia menekankan, selain beretnik Jawa, cawapresnya harus orang yang berpengalaman di pemerintahan, kiprahnya bermanfaat bagi masyarakat banyak, dan tentu saja berpeluang besar menang dalam Pilpres 2014.
Dalam kesempatan itu, Ical juga membantah kabar tentang keretakannya dengan Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Akbar Tandjung dan mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla.
Sementara itu, Ketua DPP Partai Demokrat Ruhut Sitompul kemarin juga memastikan bahwa partainya akan mengusung capres beretnik Jawa. Selain Jawa, kriteria lainnya adalah berkualitas terbaik, santun, cerdas, bersih, track record baik, berprestasi, dan tidak ada catatan tercela.
“Sekarang, untuk kuartal pertama persiapan capres dari Jawa sedang dalam proses penggodokan. Kami sudah mendapat beberapa nama dalam proses awal ini,” bebernya.
Ruhut membantah bahwa partainya terjebak faktor kesukuan. Dia menjelaskan,60 persen masyarakat Indonesia berasal dari Jawa. Kemenangan Joko Widodo dalam Pilkada DKI Jakarta bisa jadi karena faktor Jawa.
“Jadi bukan masalah SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). Tapi memang yang kami perjuangkan adalah capres dari suku Jawa, karena itu budaya kita yang melekat kuat,” tandasnya.
Di tempat terpisah, Ketua DPP Partai Demokrat Jafar Hafsah lebih menilai kabar pengusungan capres dari Jawa hanya pendapat pribadi kadernya. Menurut dia, stereotipe capres harus dari suku Jawa adalah bagian dari konstelasi, realitas perjalanan sejarah Indonesia, karena para presiden Indonesia sebelumnya berasal dari Jawa.
Sebagian besar penduduk Indonesia pun berasal dari Jawa. “Tapi sebenarnya kita tidak punya aturan itu. Tidak ada prioritas capres harus berasal dari Jawa. Semuanya dapat porsi yang sama,” terangnya.
“Sesuai dengan kebiasaan, kalau presiden dari luar Jawa, berarti wakil saya harus dari Jawa,” katanya seusai buka puasa bersama dan silaturahmi dengan masyarakat Gresik di Pendapa Kabupaten Gresik, Jawa Timur, kemarin.
Dari sejumlah nama yang sudah beredar, Ical belum bersedia menyebutkan tokoh yang dipilihnya.
Mantan Menteri Koordinator Bidang Kesra itu menyatakan bahwa saat ini belum waktunya menyebutkan nama cawapres.
“Saya juga perlu istikharah supaya tidak keliru memilih,” akunya. Hanya saja, dia menekankan, selain beretnik Jawa, cawapresnya harus orang yang berpengalaman di pemerintahan, kiprahnya bermanfaat bagi masyarakat banyak, dan tentu saja berpeluang besar menang dalam Pilpres 2014.
Dalam kesempatan itu, Ical juga membantah kabar tentang keretakannya dengan Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Akbar Tandjung dan mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla.
Sementara itu, Ketua DPP Partai Demokrat Ruhut Sitompul kemarin juga memastikan bahwa partainya akan mengusung capres beretnik Jawa. Selain Jawa, kriteria lainnya adalah berkualitas terbaik, santun, cerdas, bersih, track record baik, berprestasi, dan tidak ada catatan tercela.
“Sekarang, untuk kuartal pertama persiapan capres dari Jawa sedang dalam proses penggodokan. Kami sudah mendapat beberapa nama dalam proses awal ini,” bebernya.
Ruhut membantah bahwa partainya terjebak faktor kesukuan. Dia menjelaskan,60 persen masyarakat Indonesia berasal dari Jawa. Kemenangan Joko Widodo dalam Pilkada DKI Jakarta bisa jadi karena faktor Jawa.
“Jadi bukan masalah SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). Tapi memang yang kami perjuangkan adalah capres dari suku Jawa, karena itu budaya kita yang melekat kuat,” tandasnya.
Di tempat terpisah, Ketua DPP Partai Demokrat Jafar Hafsah lebih menilai kabar pengusungan capres dari Jawa hanya pendapat pribadi kadernya. Menurut dia, stereotipe capres harus dari suku Jawa adalah bagian dari konstelasi, realitas perjalanan sejarah Indonesia, karena para presiden Indonesia sebelumnya berasal dari Jawa.
Sebagian besar penduduk Indonesia pun berasal dari Jawa. “Tapi sebenarnya kita tidak punya aturan itu. Tidak ada prioritas capres harus berasal dari Jawa. Semuanya dapat porsi yang sama,” terangnya.
(lns)