Karyawan toko cat gorok teman
Kamis, 26 Juli 2012 - 09:12 WIB
Karyawan toko cat gorok teman
A
A
A
Sindonews.com - Kesal terus diolok-olok, seorang karyawan toko cat Amin Syahputra (21), tega menggorok leher temannya M Arzadli (19), di Jalan Sekata Medan.
Akibatnya, warga Jalan Sekata Lorong Teratai,Kelurahan Silalas, Medan Barat mengalami luka serius di bagian leher dan dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Pirngadi Medan untuk mendapatkan perawatan. Sedangkan Amin yang beralamat di Jalan Letda Sujono Lorong Bali, Kelurahan Bandar Selamat, Medan Tembung, diringkus polisi dua jam setelah kejadian itu di kediamannya.
Ditemui di Kantor Kepolisian Sektor Kota (Mapolsekta) Medan Barat, Rabu 25 Juli 2012, Amin mengungkapkan, dia tak bisa membendung kemarahannya karena terus diolok-olok Arzadli saat berada di Jalan Palangkaraya. Sudah sering dia diejek korban.
“Dia (Arzadli) mengatakan kepadaku aku adalah anak buangan. Semula aku diam saja dan tidak membalas ejekannya. Namun, ejekan itu diulangnya,dan lama-lama aku tak bisa menahan amarah,” tuturnya di hadapan wartawan.
Menurut pelaku, sebenarnya dia dan korban teman karib sejak kecil. “Aku dengan korban dari dulu memang sudah berteman akrab. Tapi, dengan ejekan itu aku merasa sangat kesal,”imbuhnya.
Korban juga sering berkunjung ke Jalan Sekata, tempat tersangka tinggal. Pada malam nahas itu, korban melintas di Jalan Sekata, Lorong Teratai dengan mengendarai sepeda motor. Lalu dipanggil Amin, dan Amin naik ke boncengan sepeda motor.
“Aku meminta tolong diantarkan ke rumah teman yang juga berada di Jalan Sekata juga. Dalam perjalanan teleponku bunyi,dan aku meminta dia berhenti,” papar Amin.
Begitu sepeda motor berhenti, tersangka langsung menggorok leher korban dengan memakai pisau dapur. Korban pun terkapar di jalan. Amin langsung kabur. “Aku menggoroknya dengan pisau dapur.Aku memang sudah merencanakan kejadian ini sebelumnya,” tandasnya.
Kepala Unit (Kanit) Reserse Kriminal (Reskrim) Polsekta Medan Barat Ajun Komisaris Polisi (AKP) Antony Simamora mengatakan, mereka masih memeriksa Amin. “Dua jam setelah kejadian, pelaku kami amankan dari kediamannya,” tukasnya.
Psikolog Irma Mirnauli mengatakan, kejadian kekerasan yang dilakukan korban bullying (olok-olokan) terhadap si pengolok lantaran tidak punya keberanian melawan langsung secara fisik.
Namun, hinaan dan perasaan yang dilecehkan yang akhirnya terakumulasi menyebabkan ledakan kemarahan terjadi. Masyarakat sebaiknya bisa belajar pengaturan kemarahan dan tidak menganggap melampiaskan kemarahan bisa menjadi penyelesaian karena akan menimbulkan masalah baru.
“Secara sosial, kemarahan itu mengganggu hubungan yang satu dengan orang lain. Marah, emosi-emosi negatif, iri, cemburu, sedih, dendam bisa menggerogoti kejiwaan dan berpengaruh kepada kondisi fisiknya. Imbasnya, kita jadi tidak terampil mengatasi masalah dan malah bisa menimbulkan banyak masalah baru,” ungkapnya.
Menurut dia, setiap individu hendaknya bisa belajar lebih baik untuk berinteraksi dengan orang lain dan tidak kebablasan dalam berteman.
“Kita harus bisa mengatur ucapan kita, dan mempertimbangkan apakah ucapan tersebut mungkin menyakiti perasaan orang lain. Interaksi sosial ini harus membuat kita bisa berempati,” pungkasnya.
Akibatnya, warga Jalan Sekata Lorong Teratai,Kelurahan Silalas, Medan Barat mengalami luka serius di bagian leher dan dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Pirngadi Medan untuk mendapatkan perawatan. Sedangkan Amin yang beralamat di Jalan Letda Sujono Lorong Bali, Kelurahan Bandar Selamat, Medan Tembung, diringkus polisi dua jam setelah kejadian itu di kediamannya.
Ditemui di Kantor Kepolisian Sektor Kota (Mapolsekta) Medan Barat, Rabu 25 Juli 2012, Amin mengungkapkan, dia tak bisa membendung kemarahannya karena terus diolok-olok Arzadli saat berada di Jalan Palangkaraya. Sudah sering dia diejek korban.
“Dia (Arzadli) mengatakan kepadaku aku adalah anak buangan. Semula aku diam saja dan tidak membalas ejekannya. Namun, ejekan itu diulangnya,dan lama-lama aku tak bisa menahan amarah,” tuturnya di hadapan wartawan.
Menurut pelaku, sebenarnya dia dan korban teman karib sejak kecil. “Aku dengan korban dari dulu memang sudah berteman akrab. Tapi, dengan ejekan itu aku merasa sangat kesal,”imbuhnya.
Korban juga sering berkunjung ke Jalan Sekata, tempat tersangka tinggal. Pada malam nahas itu, korban melintas di Jalan Sekata, Lorong Teratai dengan mengendarai sepeda motor. Lalu dipanggil Amin, dan Amin naik ke boncengan sepeda motor.
“Aku meminta tolong diantarkan ke rumah teman yang juga berada di Jalan Sekata juga. Dalam perjalanan teleponku bunyi,dan aku meminta dia berhenti,” papar Amin.
Begitu sepeda motor berhenti, tersangka langsung menggorok leher korban dengan memakai pisau dapur. Korban pun terkapar di jalan. Amin langsung kabur. “Aku menggoroknya dengan pisau dapur.Aku memang sudah merencanakan kejadian ini sebelumnya,” tandasnya.
Kepala Unit (Kanit) Reserse Kriminal (Reskrim) Polsekta Medan Barat Ajun Komisaris Polisi (AKP) Antony Simamora mengatakan, mereka masih memeriksa Amin. “Dua jam setelah kejadian, pelaku kami amankan dari kediamannya,” tukasnya.
Psikolog Irma Mirnauli mengatakan, kejadian kekerasan yang dilakukan korban bullying (olok-olokan) terhadap si pengolok lantaran tidak punya keberanian melawan langsung secara fisik.
Namun, hinaan dan perasaan yang dilecehkan yang akhirnya terakumulasi menyebabkan ledakan kemarahan terjadi. Masyarakat sebaiknya bisa belajar pengaturan kemarahan dan tidak menganggap melampiaskan kemarahan bisa menjadi penyelesaian karena akan menimbulkan masalah baru.
“Secara sosial, kemarahan itu mengganggu hubungan yang satu dengan orang lain. Marah, emosi-emosi negatif, iri, cemburu, sedih, dendam bisa menggerogoti kejiwaan dan berpengaruh kepada kondisi fisiknya. Imbasnya, kita jadi tidak terampil mengatasi masalah dan malah bisa menimbulkan banyak masalah baru,” ungkapnya.
Menurut dia, setiap individu hendaknya bisa belajar lebih baik untuk berinteraksi dengan orang lain dan tidak kebablasan dalam berteman.
“Kita harus bisa mengatur ucapan kita, dan mempertimbangkan apakah ucapan tersebut mungkin menyakiti perasaan orang lain. Interaksi sosial ini harus membuat kita bisa berempati,” pungkasnya.
(azh)