Jalur mudik di Sulsel belum siap
Selasa, 24 Juli 2012 - 09:25 WIB
Jalur mudik di Sulsel belum siap
A
A
A
Sindonews.com - Mudik Idul Fitri 1433 H tersisa sekitar tiga pekan lagi. Namun, dua jalur utama di Sulawesi Selatan (Sulsel) yakni lintas selatan dan lintas barat masih membahayakan bagi para pemudik yang melewati jalur tersebut.
Pengerjaan jalan pada dua jalur ini tak kunjung rampung. Pada lintas barat misalnya. Jalan poros Maros-Parepare sepanjang 132 kilometer, hingga saat ini belum rampung pengerjaannya. Pada sejumlah titik khususnya di Kabupaten Pangkep dan Maros, masih terdapat ruas jalan yang belum dikerjakan seperti di Barandasi, Kali Bone, serta di sekitar Jembatan Cina.
Selain itu, pada sejumlah titik terdapat ruas jalan yang belum rampung namun tidak dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas yang memadai. Ketua Organisasi Angkutan Daerah (Organda) Sulsel Opu Sidik menyatakan, kondisi tersebut rawan menimbulkan kecelakaan lalu lintas terutama pada malam hari. Tidak hanya itu,jalur tersebut sangat minim penerangan.
Untuk lintas selatan, pemerintah masih melakukan perbaikan jalan antara Kabupaten Jeneponto-Bantaeng. Lambannya perbaikan infrastruktur tersebut,selain mengancam keselamatan angkutan umum dan pemudik, juga dapat menghambat kelancaran arus mudik.
“Satu-satunya masalah yang bisa menghambat adalah masalah infrastruktur jalan. Kita harap pemerintah bisa segera menangani kerusakan jalan ini,” katanya kepada wartawan, Senin 23 Juli 2012.
Selain itu, Opu Sidik juga menyoroti kerusakan jalan parah yang terjadi di jalur Maros menuju Kabupaten Bone, Palopo, serta beberapa daerah lainnya di Sulsel. Karena itu,pemerintah diminta agar segera merampungkan pekerjaannya. Pasalnya, kondisi tersebut dinilai cukup mengganggu kelancaran mudik nantinya. Opu Sidik menyebutkan, dengan kerusakan jalan tersebut, biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh pengusaha angkutan bisa meningkat.
Hal ini dipastikan juga berdampak ke tarif angkutan mendatang. Kendati demikian, pihaknya bersama Dinas Perhubungan (Dishub) Sulsel telah mewanti-wanti kepada seluruh pengusaha angkutan agar tidak menaikkan biaya angkutan melebihi 20 persen dari tarif biasa. Kepada pengusaha angkutan yang bengal, pihaknya dan pemerintah siap memberikan sanksi keras berupa pencabutan izin angkutan.
Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika (Dishubkominfo) Sulsel Masykur Sulthan yang dikonfirmasi, mengaku jika kondisi kerusakan masih tetap terjadi menjelang puncak arus mudik, pihaknya hanya berusaha menempatkan rambu-rambu lalu lintas di sekitar titik kerusakan. Kendati demikian, dia pun meminta kepada pihak Balai Besar Jalan dan Jembatan serta Dinas Bina Marga Sulsel untuk bisa menangani masalah ini menjelang puncak mudik.
Pengerjaan jalan pada dua jalur ini tak kunjung rampung. Pada lintas barat misalnya. Jalan poros Maros-Parepare sepanjang 132 kilometer, hingga saat ini belum rampung pengerjaannya. Pada sejumlah titik khususnya di Kabupaten Pangkep dan Maros, masih terdapat ruas jalan yang belum dikerjakan seperti di Barandasi, Kali Bone, serta di sekitar Jembatan Cina.
Selain itu, pada sejumlah titik terdapat ruas jalan yang belum rampung namun tidak dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas yang memadai. Ketua Organisasi Angkutan Daerah (Organda) Sulsel Opu Sidik menyatakan, kondisi tersebut rawan menimbulkan kecelakaan lalu lintas terutama pada malam hari. Tidak hanya itu,jalur tersebut sangat minim penerangan.
Untuk lintas selatan, pemerintah masih melakukan perbaikan jalan antara Kabupaten Jeneponto-Bantaeng. Lambannya perbaikan infrastruktur tersebut,selain mengancam keselamatan angkutan umum dan pemudik, juga dapat menghambat kelancaran arus mudik.
“Satu-satunya masalah yang bisa menghambat adalah masalah infrastruktur jalan. Kita harap pemerintah bisa segera menangani kerusakan jalan ini,” katanya kepada wartawan, Senin 23 Juli 2012.
Selain itu, Opu Sidik juga menyoroti kerusakan jalan parah yang terjadi di jalur Maros menuju Kabupaten Bone, Palopo, serta beberapa daerah lainnya di Sulsel. Karena itu,pemerintah diminta agar segera merampungkan pekerjaannya. Pasalnya, kondisi tersebut dinilai cukup mengganggu kelancaran mudik nantinya. Opu Sidik menyebutkan, dengan kerusakan jalan tersebut, biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh pengusaha angkutan bisa meningkat.
Hal ini dipastikan juga berdampak ke tarif angkutan mendatang. Kendati demikian, pihaknya bersama Dinas Perhubungan (Dishub) Sulsel telah mewanti-wanti kepada seluruh pengusaha angkutan agar tidak menaikkan biaya angkutan melebihi 20 persen dari tarif biasa. Kepada pengusaha angkutan yang bengal, pihaknya dan pemerintah siap memberikan sanksi keras berupa pencabutan izin angkutan.
Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika (Dishubkominfo) Sulsel Masykur Sulthan yang dikonfirmasi, mengaku jika kondisi kerusakan masih tetap terjadi menjelang puncak arus mudik, pihaknya hanya berusaha menempatkan rambu-rambu lalu lintas di sekitar titik kerusakan. Kendati demikian, dia pun meminta kepada pihak Balai Besar Jalan dan Jembatan serta Dinas Bina Marga Sulsel untuk bisa menangani masalah ini menjelang puncak mudik.
(azh)