Tahanan Rudenim Surabaya rawan kabur

Selasa, 22 Mei 2012 - 00:02 WIB
Tahanan Rudenim Surabaya...
Tahanan Rudenim Surabaya rawan kabur
A A A
Sindonews.com - Pelarian tahanan imigran gelap dari Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Surabaya, di Bangil Kabupaten Pasuruan, agaknya tidak akan berhenti. Setelah 35 tahanan berhasil melarikan diri pada Sabtu-Minggu lalu, belasan deteni asal berbagai negara di Timur Tengah mencoba kabur dengan memanjat pagar setinggi lima meter.

Beruntung, aksi nekat tahanan pencari suaka politik ini keburu ketahuan petugas jaga Rudenim. Padahal sebuah kasur busa dan rangkaian kain sprei telah dipasang untuk melintasi rintangan kawat berduri.

"Petugas kami memergoki deteni yang akan melarikan diri. Peralatan yang digunakan sudah terpasang di pagar pembatas. Mereka sudah memanjat," kata Agus Susdamajanto, Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban Rudenim Surabaya di Bangil, Senin (21/5/2012).

Mudahnya tahanan imigran kabur ini juga didukung konstruksi bangunan Rudenim yang hanya berjarak satu meter dengan pagar pembatas. Dengan memanjat genteng, para imigran gelap ini sudah bisa menjangkau ujung pagar kawat berduri. Sebuah kasur busa untuk melapisi kawat berduri dan rangkaian kain sprei sudah cukup untuk mempermudah pelariannya.

Untuk mengantisipasi kaburnya tahanan imigrasi lebih banyak lagi, pihak Rudenim terpaksa memangkas ujung bangunan yang berdekatan dengan pagar pembatas. Pemangkasan dengan melepas genteng selebar satu meter ini diharapkan dapat menghambat pelarian deteni.

"Keterbatasan petugas juga menjadi faktor lemahnya pengamanan Rudenim. Satu orang harus mengawasi 64 deteni. Sementara bantuan personil kepolisian tidak bisa dilakukan untuk menjaga selama 24 jam," tandas Agus.

Selama ini, pihaknya sudah berupaya memberikan pelayanan maksimal dan memfasilitasi tahanan dengan UNHCR, badan PBB yang mengurusi pengungsian. Menurutnya, ketidak sabaran menunggu proses administrasi mendapatkan suaka politik menjadi penyebab utama tahanan yang kabur.

Musa, seorang deteni asal Sudan, mengaku jenuh berada didalam Rudenim. Hal ini karena tidak adanya kepastian adimistrasi untuk mendapat suaka politik dari UNHCR.

"Saya sudah satu bulan berada di Rudenim. Saya ingin segera mendapatkan suaka ke Australia. Tapi tidak tahu kapan akan selesai," ujar Musa yang cukup fasih berbahasa Indonesia.(azh)
()
Berita Terkini
Dukung KNMP, SPHC Dorong...
Dukung KNMP, SPHC Dorong Penguatan Kapasitas Nelayan di Kabupaten Pati
8 jam yang lalu
Restoran Steak di Menteng...
Restoran Steak di Menteng Kebakaran, 6 Mobil Damkar Dikerahkan
10 jam yang lalu
Jakarta Ecotourism Festival...
Jakarta Ecotourism Festival 2026, Siswa SMKN 8 Jakarta Diajak Belajar Kelola Sampah
10 jam yang lalu
Unusa Gandeng Gapoktan...
Unusa Gandeng Gapoktan Tingkatkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Petani Tuban
11 jam yang lalu
Bupati Lombok Barat...
Bupati Lombok Barat Terjaring OTT KPK, 7 Orang Langsung Diboyong ke Jakarta
13 jam yang lalu
Polisi Tembak Pelaku...
Polisi Tembak Pelaku Curanmor yang Melawan, Sahroni: Sudah Tepat dan Terukur!
13 jam yang lalu
Infografis
Kabur dari Perang Lawan...
Kabur dari Perang Lawan Hamas, Komandan Israel dan Wakilnya Dipecat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved