Salah urus, sistem pendidikan di Jakarta buruk
Sabtu, 05 Mei 2012 - 16:07 WIB
Salah urus, sistem pendidikan di Jakarta buruk
A
A
A
Sindonews.com - Kabar buruk datang dari dunia pendidikan Ibu Kota. Kelompok guru yang menamakan dirinya Forum Musyawarah Guru Jakarta (FMGJ) mengeluarkan keterangan mengejutkan terkait dunia pendidikan di Jakarta. Terus menurun dan buruknya manajemen sekolah, membuat dunia pendidikan di Jakarta semakin buruk.
Ketua Umum Forum Musyawarah Guru Jakarta Retno Listyarti mengatakan, sekolah-sekolah di Jakarta sudah mulai berubah fungsi sebagai lembaga bimbingan belajar. Pasalnya, dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, justru lebih banyak melibatkan lembaga bimbingan belajar dalam mengisi jam sekolah.
Hal ini muncul akibat pandangan yang salah dan berkembang di kalangan pendidik dan masyarakat luas, dimana sekolah hanya bertujuan untuk memperoleh nilai tertinggi dan bukan untuk menanamkan nilai moral yang baik.
"Ini sudah beralih fungsi. Harusnya sekolah itu menjadi tempat untuk menanamkan nilai, bukan sekedar mengejar nilai sekolah," tegas Retno di Gedung Menza, Jalan Salemba Raya, Jakarta, Sabtu (5/5/2012).
Ditambahkan dia, selain permasalahan yang bersifat administratif, secara fisik pun kualitas pendidikan di Jakarta sangat memprihatinkan. Mulai dari banyaknya bangunan sekolah yang tidak layak, dan rendahnya kualitas buku yang digunakan sebagai pengayaan pendidikan.
"Secara fisik, banyak gedung sekolah tidak layak, ruang kelas yang rusak, kekurangan gedung (menumpang), tidak adanya ruang laboratirium yang lengkap, ruang perpustakanan yang tidak memadai dan miskin koleksi buku," ungkapnya.
Kondisi itu, sambung Retno, semakin diperburuk dengan tertutupnya sistem pengelolaan keuangan sekolah yang bersumber dari berbagai anggaran daerah seperti BOS. Dunia pendidikan di Jakarta sudah salah urus.
"Masih banyak sekolah yang tidak tahu ke mana dana BOS tersebut di pergunakan. Kepala sekolah selalu berdalih, tugas guru hanya mengajar, urusan BOS adalah urusan kepala sekolah," terangnya. (san)
Ketua Umum Forum Musyawarah Guru Jakarta Retno Listyarti mengatakan, sekolah-sekolah di Jakarta sudah mulai berubah fungsi sebagai lembaga bimbingan belajar. Pasalnya, dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, justru lebih banyak melibatkan lembaga bimbingan belajar dalam mengisi jam sekolah.
Hal ini muncul akibat pandangan yang salah dan berkembang di kalangan pendidik dan masyarakat luas, dimana sekolah hanya bertujuan untuk memperoleh nilai tertinggi dan bukan untuk menanamkan nilai moral yang baik.
"Ini sudah beralih fungsi. Harusnya sekolah itu menjadi tempat untuk menanamkan nilai, bukan sekedar mengejar nilai sekolah," tegas Retno di Gedung Menza, Jalan Salemba Raya, Jakarta, Sabtu (5/5/2012).
Ditambahkan dia, selain permasalahan yang bersifat administratif, secara fisik pun kualitas pendidikan di Jakarta sangat memprihatinkan. Mulai dari banyaknya bangunan sekolah yang tidak layak, dan rendahnya kualitas buku yang digunakan sebagai pengayaan pendidikan.
"Secara fisik, banyak gedung sekolah tidak layak, ruang kelas yang rusak, kekurangan gedung (menumpang), tidak adanya ruang laboratirium yang lengkap, ruang perpustakanan yang tidak memadai dan miskin koleksi buku," ungkapnya.
Kondisi itu, sambung Retno, semakin diperburuk dengan tertutupnya sistem pengelolaan keuangan sekolah yang bersumber dari berbagai anggaran daerah seperti BOS. Dunia pendidikan di Jakarta sudah salah urus.
"Masih banyak sekolah yang tidak tahu ke mana dana BOS tersebut di pergunakan. Kepala sekolah selalu berdalih, tugas guru hanya mengajar, urusan BOS adalah urusan kepala sekolah," terangnya. (san)
()