alexametrics

Ikhtiar KPCDI Lampung Ajak Combiphar Edukasi Kesehatan Ginjal

loading...
A+ A-
LAMPUNG - Dalam rangka memperingati hari Ginjal sedunia tahun 2020, Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) cabang Lampung bekerjasama dengan perusahaan consumer healthcare Combiphar, menggelar Kopi Darat KPCDI dalam bentuk seminar bertema "Penatalaksanaan Anemia pada Penyakit Ginjal Kronis" di Lampung, Minggu (08/03/2020).

Seminar yang dihadiri puluhan pasien cuci darah ini menjadi ajang edukasi dan diskusi dua arah antara pasien dan dokter mengenai masalah yang dihadapi selama melaksanakan cuci darah dengan dua narasumber, ketua umum KPCDI Tony Samosir, dan medical affairs manager Combiphar, dr. Sandi Perutama Gani.

Tony Samosir berpandangan, KPCDI merupakan perkumpulan berbasis gerakan sosial pasien gagal ginjal, yang mengedukasi dan mengkampanyekan kesehatan ginjal serta memperjuangkan hak-hak pasien. "Kami memiliki kepedulian tinggi terhadap kondisi pasien cuci darah di Indonesia. Salah satunya gelaran kopdar bersama Combiphar hari ini," kata Tony.



Dikatakan Tony, sebagai organisasi KPCDI akan terus berkembang untuk membangun persaudaraan dan solidaritas diantara sesama pasien atau keluarga pasien cuci darah. "KPCDI juga memberikan advokasi bagi setiap anggota dan berjuang demi perbaikan regulasi bagi kepentingan pasien,” terang Tony.

Sementara itu, dr. Sandi Perutama Gani mengatakan, Anemia atau kadar Hb (hemoglobin) rendah dalam darah (<10gr/dL) mungkin penyakit yang terlihat sepele bagi orang sehat, namun kondisi yang berbeda akan terlihat pada pasien dengan gagal ginjal kronis.

"Anemia berdampak buruk karena akan memperberat kondisi pasien, menurunkan kualitas hidup dan fungsi fisik pasien, meningkatkan frekuensi transfusi darah serta rawat inap dan yang paling parah dapat meningkatkan risiko kecacatan bahkan kematian," imbuhnya.

Di Indonesia, pasien penderita gagal ginjal kronis yang mengidap anemia menurut IRR (Indonesian Renal Registry) tahun 2018 mencapai 78%. Anemia bisa terjadi mulai dari stadium gagal ginjal yang paling awal dan semakin meningkat seiring dengan tingkat keparahan stadium gagal ginjal kronis (NHANES 2005).

Menurut dr. Sandi, penyebab utama anemia pada pasien gagal ginjal kronis adalah defisiensi zat besi dan hormon eritropoietin. "Itulah sebabnya mengapa pasien gagal ginjal kronis sangat membutuhkan injeksi zat besi intravena dan eritropoietin dengan dosis yang sesuai dengan kebutuhan,” ujar dia.

Lebih lanjut menurut dr. Sandi, pemberian injeksi eritropoietin tidak bisa meningkatkan kadar Hb secara instan apabila kadar zat besi di dalam darah tidak cukup. "Sebaiknya pemberian eritropoietin didasarkan pada profil individu pasien, disesuaikan dengan dosis yang dibutuhkan, frekuensi HD (Hemodialisa atau cuci darah) per minggu, dan sediaan injeksi eritropoietin yang ada di pasaran (2.000 IU, 3.000 IU, 4.000 IU atau 10.000 IU),” pungkas dr. Sandi.
(nag)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top