Virus Corona di China karena Konsumsi Kelelawar, Warga Sulut Tetap Doyan Kelelawar

Jum'at, 24 Januari 2020 - 10:47 WIB
Virus Corona di China...
Virus Corona di China karena Konsumsi Kelelawar, Warga Sulut Tetap Doyan Kelelawar
A A A
MANADO - Munculnya virus Corona di Wuhan, China, yang ditenggarai karena mengkonsumsi kelelawar, tidak membuat warga Sulawesi Utara (Sulut) takut makan kelelawar. Warga Sulut tetap doyan makan kelelawar, mereka biasa saja menanggapi berita tersebut, mereka menganggap itu baru hanya sebatas dugaan.

“Makanan daging kelelawar atau orang Minahasa menyebutnya Paniki sudah menjadi salah satu kuliner khas Minahasa. Ini bukan baru ada sekarang, melainkan sejak dulu berlangsung cukup lama. Tapi dari cerita orang tua dulu sampai saat ini, gak pernah ada masalah sih,” kata R Rumampuk, Jumat (24/1/2020).

Apalagi kata warga Tondano, Kabupaten Minahasa itu, setahu dirinya tidak pernah dibuat dalam bentuk sup. Sepengetahuannya, masaknya saja ketat, yakni pertama harus diblower dengan api supaya baunya hilang karena harus agak kering. Gegitu juga bumbunya, beragam agar bisa menghilangkan bau amisnya.

“Kalau di sup membayangkan rasanya saja terasa bagaimana gitu. Selama ini, setahu saya, masak di santan tapi bumbunya sama tinggal beda dipenggunaan santan. Karena di santan saja bumbunya harus banyak rempah-rempahnya supaya rasa dan bau hamisnya hilang,” jelasnya.

Menurut R Rumampuk, kelelawar hidupnya bergelantungan, jadi kotoran dari dirinya lah yang dijadikan pelindung dirinya dari predator. Keterangan serupa disampaikan Sondakh warga Minahasa Utara. Menurutnya, memasak kelelawar biasanya di santan hingga kering.

Bahkan sebelum dimasak dibakar dulu dengan api untuk mengeluarkan bulu-bulu halusnya. “Diikeluarkan bulu-bulu halusnya dengan menggunakan semprotan api,”terangnya.

Diketahui, makanan yang menggunakan daging kelelawar sebagai bahan utamanya memiliki rasa yang sedikit gurih meski tekstur daging terasa alot.

Apalagi kelelawar setelah dibersihkan, kemudian ditumis dengan campuran rempah-rempah seperti cabai merah, bawang merah, bawang putih, jahe, sereh, cengkeh, tomat dan dicampur dengan santan kelapa sebagai kuahnya. Unsur pedas di sini menjadi siasat mencegah daging kelelawar berbau amis.

Menurut keduanya, tidak semua kelelawar dapat digunakan sebagai olahan paniki. Hanya kelelawar pemakan buah sajalah yang digunakan untuk membuat kuliner khas ini. Meski demikian kuliner yang satu ini dinilai sebagai salah satu kuliner ekstrim yang ada di Manado.
(zil)
Berita Terkini
Prakiraan Cuaca Jakarta...
Prakiraan Cuaca Jakarta Rabu 24 Juni 2026: Berawan Sejak Pagi, Berpotensi Hujan Ringan Sore Hari
7 menit yang lalu
Di Diskusi Partai Perindo,...
Di Diskusi Partai Perindo, JJ Rizal Minta Gubernur Jakarta Belajar dari Soekarno
2 jam yang lalu
Polisi Tangkap Taufik...
Polisi Tangkap Taufik Hidayat Penganiaya Pacar di Bandung lewat Transaksi Belanja
2 jam yang lalu
DPW Partai Perindo DKI...
DPW Partai Perindo DKI Launching Warkop Aspirasa, Gelar Diskusi Refleksi 499 Tahun Jakarta
3 jam yang lalu
Taufik Hidayat Penyekap...
Taufik Hidayat Penyekap dan Penganiaya Sadis Pacar Tertawa saat Digiring ke Polda Jabar
10 jam yang lalu
Guru MI di Karawang...
Guru MI di Karawang Dilatih Kuasai E-LKPD Berbasis STEM
10 jam yang lalu
Infografis
Perbandingan Pangkalan...
Perbandingan Pangkalan Militer AS vs China di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved