Keuskupan Agung Jakarta: Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang
Rabu, 25 Desember 2019 - 14:35 WIB
Keuskupan Agung Jakarta: Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang
A
A
A
JAKARTA - Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) sepakat Natal 2019 bertemakan 'Hiduplah sebagai Sahabat Bagi Semua Orang'.
"Isinya, pesannya hiduplah sebagai sahabat bagi semua orang. Judul ini dipilih untuk membuat Natal bermakna kontekstual. Karena Natal bagi umat Kristiani bukan hanya peristiwa masa lampau yang hanya diingat-ingat, tetapi suatu peristiwa yang selalu dikenang," ungkap Ignatius Kardinal Suharyo Keuskupan Agung Jakarta di Gereja Katedral, Rabu (25/12/2019).
Dalam tema tersebut mengandung makna untuk tetap memegang teguh persahabatan."Mengingat dan mengenang itu beda. Mengingat sekadar peristiwa itu di masa lampau dan sudah selesai. Tetapi mengenang artinya peristiwa yang terjadi di masa lampau terus menerus dicoba diusahakan supaya diaktualkan, dalam arti itu, mengenang punya arti yang sangat kaya," ujarnya.
"Dalam pesan Natal jelas dibalik judul atau tema Natal, kalau orang diajak hidup sebagai sahabat bagi semua orang itu yang diajak bicara itu orang-orang yang tidak dalam keadaan seperti ini. Kalau semuanya sudah sahabat tidak usah diajak hidup sahabat bagi semua orang kan. Karena di tengah kita persahabatan/persaudaraan dilihat sebagai warisan atau nilai bangsa kita yang sejak awal ada gangguannya maka nasihat ini semakin berarti," urainya.
Pada zaman penjajahan, lanjut Suharyo, para penjajah berusaha untuk memecah belah bangsa. Saat bangsa terpecah belah, maka pejajah dengan mudah bisa menguasai Indonesia. "Di balik itu ada apa? Di dalam 1, 2 alinea, alinea kedua diingat dulu zaman kolonial bangsa kita diusahakan dipecah-pecah, supaya pemerintah kolonial bisa tetap dapat berkuasa. Kolonialisme akan hancur. Seperti ternyata kemudian satu nusa, satu bangsa, satu bahasa Indonesia bersatu maka kolonialisme hilang. Maka perpecahan diusahakan itu," jelasnya.
Dia juga menceritakan perjuangan para bapak bangsa dalam upaya mempersatukan bangsa. "Yang Kedua perbedaan yang sejak awal ada, perbedaan yang waktu itu diselesaikan dengan sangat ajaib, ketika pendiri bangsa kita membicarakan dan memutuskan dasar negara kita yaitu Pancasila pada tanggal 18 Agustus 1945 itu pada waktu itu bahaya pecah semua diatasi dengan cara istimewa bahkan sangat ajaib. Itulah yang sekarang mesti dirawat, yang mesti diperjuangkan di tengah-tengah gejala baru lunturnya kebersamaan itu," ucapnya.
"Isinya, pesannya hiduplah sebagai sahabat bagi semua orang. Judul ini dipilih untuk membuat Natal bermakna kontekstual. Karena Natal bagi umat Kristiani bukan hanya peristiwa masa lampau yang hanya diingat-ingat, tetapi suatu peristiwa yang selalu dikenang," ungkap Ignatius Kardinal Suharyo Keuskupan Agung Jakarta di Gereja Katedral, Rabu (25/12/2019).
Dalam tema tersebut mengandung makna untuk tetap memegang teguh persahabatan."Mengingat dan mengenang itu beda. Mengingat sekadar peristiwa itu di masa lampau dan sudah selesai. Tetapi mengenang artinya peristiwa yang terjadi di masa lampau terus menerus dicoba diusahakan supaya diaktualkan, dalam arti itu, mengenang punya arti yang sangat kaya," ujarnya.
"Dalam pesan Natal jelas dibalik judul atau tema Natal, kalau orang diajak hidup sebagai sahabat bagi semua orang itu yang diajak bicara itu orang-orang yang tidak dalam keadaan seperti ini. Kalau semuanya sudah sahabat tidak usah diajak hidup sahabat bagi semua orang kan. Karena di tengah kita persahabatan/persaudaraan dilihat sebagai warisan atau nilai bangsa kita yang sejak awal ada gangguannya maka nasihat ini semakin berarti," urainya.
Pada zaman penjajahan, lanjut Suharyo, para penjajah berusaha untuk memecah belah bangsa. Saat bangsa terpecah belah, maka pejajah dengan mudah bisa menguasai Indonesia. "Di balik itu ada apa? Di dalam 1, 2 alinea, alinea kedua diingat dulu zaman kolonial bangsa kita diusahakan dipecah-pecah, supaya pemerintah kolonial bisa tetap dapat berkuasa. Kolonialisme akan hancur. Seperti ternyata kemudian satu nusa, satu bangsa, satu bahasa Indonesia bersatu maka kolonialisme hilang. Maka perpecahan diusahakan itu," jelasnya.
Dia juga menceritakan perjuangan para bapak bangsa dalam upaya mempersatukan bangsa. "Yang Kedua perbedaan yang sejak awal ada, perbedaan yang waktu itu diselesaikan dengan sangat ajaib, ketika pendiri bangsa kita membicarakan dan memutuskan dasar negara kita yaitu Pancasila pada tanggal 18 Agustus 1945 itu pada waktu itu bahaya pecah semua diatasi dengan cara istimewa bahkan sangat ajaib. Itulah yang sekarang mesti dirawat, yang mesti diperjuangkan di tengah-tengah gejala baru lunturnya kebersamaan itu," ucapnya.
(whb)