Gagal Panen Akibat Kekeringan, Petani Cibarusah Rugi Rp3,75 Miliar
Kamis, 27 Juni 2019 - 23:04 WIB
Gagal Panen Akibat Kekeringan, Petani Cibarusah Rugi Rp3,75 Miliar
A
A
A
BEKASI - Akibat kekeringan, ratusan petani di wilayah Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi mengalami gagal panen dan menerita kerugian sekitar Rp3,75 miliar. Hal ini dipicu karena sekitar 500 hektare lahan pertanian di tiga desa di sana gagal panen akibat dilanda kekeringan.
Sekretaris Kelompok Tani dan Nelayan Andalan Kecamatan Cibarusah, Kusnaedi mengatakan, total lahan pertanian di sana mencapai 1.655 hektare, namun yang ditanam saat ini hanya 1.000 hektare. Sedangkan sisanya 655 hektare tidak bisa ditanam karena telah mengering sejak beberapa bulan lalu sehingga petani menahan diri.
”Dari 1.000 hektare yang sudah ditanam, sekitar 50 persen atau 500 hektare mengalami gagal panen,” katanya kepada wartawan, Kamis (27/6/2019).
Menurutnya, lahan pertanian itu terletak di tiga desa yakni Desa Ridogalih, Sinarjati dan Ridomanah. Lahan pertanian dilanda kekeringan karena selama ini terlalu mengandalkan air hujan.
Sementara saluran irigasi dari saluran di sana ikut mengering, gara-gara Bendungan Jatinunggal,Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor tengah diperbaiki setelah mengalami jebol beberapa waktu lalu. Apalagi saat ini bendungan sedang diperbaiki sehingga berdampak pada aliran Kali Cipamingkis mengering.
Kusnaedi menjelaskan, angka kerugian ini didapat dari hasil kalkulasi jumlah lahan pertanian yang dinyatakan gagal panen seluas 500 hektare dengan biaya petani tiap hektare sebesar Rp7,5 juta. Apabila dihitung lebih rinci, maka kerugian para petani itu mencapai Rp3,75 miliar. Biaya operasional petani bisa mencapai Rp 7,5 juta per hektare.
Apalagi uang itu untuk pembelian bibit Rp200 ribu, pupuk Rp1 juta, sewa traktor Rp2 juta dan sisanya untuk membayar ongkos makan serta jasa kuli yang mereka gunakan.
Fenomena seperti ini, kata dia, dialami oleh 29 kelompok tani dengan tiap kelompoknya terdiri dari 25 orang. Dengan demikian, total keseluruhan petani di sana mencapai 725 orang.
Sekretaris Kelompok Tani dan Nelayan Andalan Kecamatan Cibarusah, Kusnaedi mengatakan, total lahan pertanian di sana mencapai 1.655 hektare, namun yang ditanam saat ini hanya 1.000 hektare. Sedangkan sisanya 655 hektare tidak bisa ditanam karena telah mengering sejak beberapa bulan lalu sehingga petani menahan diri.
”Dari 1.000 hektare yang sudah ditanam, sekitar 50 persen atau 500 hektare mengalami gagal panen,” katanya kepada wartawan, Kamis (27/6/2019).
Menurutnya, lahan pertanian itu terletak di tiga desa yakni Desa Ridogalih, Sinarjati dan Ridomanah. Lahan pertanian dilanda kekeringan karena selama ini terlalu mengandalkan air hujan.
Sementara saluran irigasi dari saluran di sana ikut mengering, gara-gara Bendungan Jatinunggal,Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor tengah diperbaiki setelah mengalami jebol beberapa waktu lalu. Apalagi saat ini bendungan sedang diperbaiki sehingga berdampak pada aliran Kali Cipamingkis mengering.
Kusnaedi menjelaskan, angka kerugian ini didapat dari hasil kalkulasi jumlah lahan pertanian yang dinyatakan gagal panen seluas 500 hektare dengan biaya petani tiap hektare sebesar Rp7,5 juta. Apabila dihitung lebih rinci, maka kerugian para petani itu mencapai Rp3,75 miliar. Biaya operasional petani bisa mencapai Rp 7,5 juta per hektare.
Apalagi uang itu untuk pembelian bibit Rp200 ribu, pupuk Rp1 juta, sewa traktor Rp2 juta dan sisanya untuk membayar ongkos makan serta jasa kuli yang mereka gunakan.
Fenomena seperti ini, kata dia, dialami oleh 29 kelompok tani dengan tiap kelompoknya terdiri dari 25 orang. Dengan demikian, total keseluruhan petani di sana mencapai 725 orang.
(ysw)