Menhub: Penyebab KRL Sering Gangguan karena Peralatan Sudah Tua
Kamis, 04 April 2019 - 18:42 WIB
Menhub: Penyebab KRL Sering Gangguan karena Peralatan Sudah Tua
A
A
A
BOGOR - Kementerian Perhubungan (Kemnhub) menyimpulkan gangguan perjalanan KRL Commuter Line yang sering terjadi dikarenakan banyaknya peralatan perkeretaapian yang sudah berusia tua. Hal ini diungkapkan Menhub Budi Karya Sumadi usai menggelar rapat dengan Dirjen Perhubungan Darat, jajaran Direksi PT KAI serta Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk menggelar rapat secara tertutup di Stasiun Besar Bogor, Kamis (4/4/2019).
Menhub Budi mengatakan, berdasarkan hasil evaluasi, dapat disimpulkan permasalahan yang menimbulkan gangguan pada KRL Jabodetabek ini dikarenakan banyak peralatan yang sudah berusia tua."Kesimpulan yang telah kita identifikasikan bahwa peralatan-peralatan di PT KAI sekarang ini berada pada usia yang cukup lanjut. Dan terdapat beberapa kejadian ekstrem, baik itu cuaca, hujan maupun petir, sebagai indikasi yang biasanya itu 200 kiloampere, ini terjadi dalam kisaran yang dua kali lipat. Sehingga terjadilah beberapa gangguan itu," kata Budi kepada wartawan.
Identifikasi yang lain, lanjut dia, memang frekuensi saat ini semakin cepat, oleh karenanya perlu ada upaya jangka pendek.( Baca: KRL Sering Gangguan, Menhub Instruksikan Bentuk Tim Task Force )
"Nah ini saya sudah minta KAI untuk membentuk task force dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan ini. Jadi secara khusus yang berkaitan petir, ada tim yang menganalisanya dalam beberapa kejadian itu serta cepat menyelesaikan dengan cara-cara teknis yang baik," ujarnya.
Kemudian tim task force ini juga menyelesaikan yang berkaitan dengan rel. Sebab, ada beberapa spot yang sudah teridentifikasi memiliki problem. Tim task force ini segera bekerja, pihaknya dalam waktu dekat akan kembali mengumpulkan jajarannya untuk kembali membahas yang lebih rinci, apa saja yang harus diambil KAI.
"Karena pasti untuk membuat suatu pekerjaan yang lebih prima dibutuhkan rencana dan cara. Minggu depan kita akan rapat lagi, sambil itu task force tetap bekerja menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi belakangan ini," paparnya.
Budi menegaskan, target penyelesaian perbaikan dilakukan beberapa tahap, mulai dari jangka pendek, harus selesai dalam waktu dua pekan hingga dua bulan ke depan."Tapi ada juga yang jangka menengah, enam bulan sampai satu tahun karena itu berkaitan dengan anggaran. Kita akan kordinasikan berapa anggaran dan apa saja yang mesti direalisasikan," tuturnya.
Dia menyampaikan pembentukan tim task force ini sebagai upaya antisipasi menjelang hari raya. Maka dari itu, pihaknya membentuk task force agar bekerja mengidentifikasi ulang, mengerjakan secara cepat dan ad hoc.
"Saya tidak ingin pekerjaan ini diselesaikan dengan organisasi yang sekarang. Karena mereka dianggap belum mampu menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi selama ini," ucapnya.
Menhub Budi mengatakan, berdasarkan hasil evaluasi, dapat disimpulkan permasalahan yang menimbulkan gangguan pada KRL Jabodetabek ini dikarenakan banyak peralatan yang sudah berusia tua."Kesimpulan yang telah kita identifikasikan bahwa peralatan-peralatan di PT KAI sekarang ini berada pada usia yang cukup lanjut. Dan terdapat beberapa kejadian ekstrem, baik itu cuaca, hujan maupun petir, sebagai indikasi yang biasanya itu 200 kiloampere, ini terjadi dalam kisaran yang dua kali lipat. Sehingga terjadilah beberapa gangguan itu," kata Budi kepada wartawan.
Identifikasi yang lain, lanjut dia, memang frekuensi saat ini semakin cepat, oleh karenanya perlu ada upaya jangka pendek.( Baca: KRL Sering Gangguan, Menhub Instruksikan Bentuk Tim Task Force )
"Nah ini saya sudah minta KAI untuk membentuk task force dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan ini. Jadi secara khusus yang berkaitan petir, ada tim yang menganalisanya dalam beberapa kejadian itu serta cepat menyelesaikan dengan cara-cara teknis yang baik," ujarnya.
Kemudian tim task force ini juga menyelesaikan yang berkaitan dengan rel. Sebab, ada beberapa spot yang sudah teridentifikasi memiliki problem. Tim task force ini segera bekerja, pihaknya dalam waktu dekat akan kembali mengumpulkan jajarannya untuk kembali membahas yang lebih rinci, apa saja yang harus diambil KAI.
"Karena pasti untuk membuat suatu pekerjaan yang lebih prima dibutuhkan rencana dan cara. Minggu depan kita akan rapat lagi, sambil itu task force tetap bekerja menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi belakangan ini," paparnya.
Budi menegaskan, target penyelesaian perbaikan dilakukan beberapa tahap, mulai dari jangka pendek, harus selesai dalam waktu dua pekan hingga dua bulan ke depan."Tapi ada juga yang jangka menengah, enam bulan sampai satu tahun karena itu berkaitan dengan anggaran. Kita akan kordinasikan berapa anggaran dan apa saja yang mesti direalisasikan," tuturnya.
Dia menyampaikan pembentukan tim task force ini sebagai upaya antisipasi menjelang hari raya. Maka dari itu, pihaknya membentuk task force agar bekerja mengidentifikasi ulang, mengerjakan secara cepat dan ad hoc.
"Saya tidak ingin pekerjaan ini diselesaikan dengan organisasi yang sekarang. Karena mereka dianggap belum mampu menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi selama ini," ucapnya.
(whb)