Hoaks Marak Jelang Pemilu 2019, Masyarakat Harus Ekstra Waspada
Senin, 04 Maret 2019 - 23:30 WIB
Hoaks Marak Jelang Pemilu 2019, Masyarakat Harus Ekstra Waspada
A
A
A
BOGOR - Derasnya arus informasi dari berbagai sumber di era digital saat ini sangat riskan menimbulkan konflik dan keresahan. Sebab, sangat banyak informasi yang sumbernya tak dipertanggungjawabkan alias palsu atau hoks.
Bahkan hoaks seolah sudah menjadi hal lumrah bagi produsen informasi yang memiliki tujuan atau kepentingan kelompok tertentu. Seperti menjelang Pemilu 2019 (Pilpres dan Pileg) saat ini.
Pakar Komunikasi Universitas Juanda Bogor, Agustina M Purnomo mengatakan, sikap fanatisme individu terhadap sesuatu atau sosok yang diyakini dan diteladani sebagai panutan sangat sulit untuk diubah. "Misalnya di masa kampanye sekarang ini, bukan dari juru kampanye atau tim pemenangan yang menggiring opini. Tapi, masyarakatnya sendiri yang menjadi fanatik. Kalau sudah individual, akan diperjuangkan meski tanpa iming-iming apapun," kata Agustina, pada Senin (4/3/2019).
Apalagi, senjata yang digunakan masing-masing kontestan dalam Pemilu 2019 ini, lebih kepada politik identitas yang menyudutkan salah satu pasangan calon atau partai tertentu. Trik ini, dianggap ampuh menggiring opini publik, padahal belum tentu informasi yang disebar atau diterimanya benar.
"Sikap fanatisme agama, baik di Kota maupun Kabupaten Bogor masih sangat kental. Sehingga pengaruhnya sangat besar terhadap iklim politik saat ini yang menjadikan identitas sebagai senjata. Masyarakat juga perlu ekstra hati-hati menangkalnya, terutama dari akun-akun di media sosial palsu yang menyebarkan berita hoaks," paparnya.
Menurutnya masyarakat diminta pandai-pandai dalam menyaring informasi menjelang Pemilu 2019. Sebab sosial media dan pesan berantai pada aplikasi pesan singkat bernada provokatif, belakangan ini semakin banyak.
Terpisah, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bogor, Samsudin mengatakan akan gencar menyosialisasikan melawan hoaks. Upaya ini tak hanya dibebankan kepada KPU atau lembaga yang terlibat langsung dalam Pemilu.
"Namun sangat penting juga kesadaran masyarakat di Kota Bogor dalam menangkalnya. Dampak hoaks di Pemilu 2019 dapat memecah belah, fitnah, menimbulkan konflik yang kurang bagus, termasuk kampanye hitam melalui media-media sosial," jelasnya, kemarin.
Dia menambahkan sejatinya dalam melawan hoax, kampanye hitam dan lain-lainnya itu ada pada individu atau pemilihnya itu sendiri. "KPU mengajak warga Kota Bogor untuk betul-betul bijak menggunakan media sosial dan melawan hoax dengan rumus It’s THINK, yaitu It’s True (benar), It’s Helpull (menolong), It’s Inspiring (inspirasi), It’s Necessary (perlu), dan It’s Kind (baik)," katanya.
Pihaknya memprediksi produksi informasi hoaks akan semakin banyak dan massif tersebar saat menjelang pencoblosan. "Maka dari sangat penting, pihak-pihak yang terkait ikut mensosialisasikan atau mengajak dan membangun kesadaran masyarakat bahwa kita harus melawan hoaks," ucapnya.
Bahkan hoaks seolah sudah menjadi hal lumrah bagi produsen informasi yang memiliki tujuan atau kepentingan kelompok tertentu. Seperti menjelang Pemilu 2019 (Pilpres dan Pileg) saat ini.
Pakar Komunikasi Universitas Juanda Bogor, Agustina M Purnomo mengatakan, sikap fanatisme individu terhadap sesuatu atau sosok yang diyakini dan diteladani sebagai panutan sangat sulit untuk diubah. "Misalnya di masa kampanye sekarang ini, bukan dari juru kampanye atau tim pemenangan yang menggiring opini. Tapi, masyarakatnya sendiri yang menjadi fanatik. Kalau sudah individual, akan diperjuangkan meski tanpa iming-iming apapun," kata Agustina, pada Senin (4/3/2019).
Apalagi, senjata yang digunakan masing-masing kontestan dalam Pemilu 2019 ini, lebih kepada politik identitas yang menyudutkan salah satu pasangan calon atau partai tertentu. Trik ini, dianggap ampuh menggiring opini publik, padahal belum tentu informasi yang disebar atau diterimanya benar.
"Sikap fanatisme agama, baik di Kota maupun Kabupaten Bogor masih sangat kental. Sehingga pengaruhnya sangat besar terhadap iklim politik saat ini yang menjadikan identitas sebagai senjata. Masyarakat juga perlu ekstra hati-hati menangkalnya, terutama dari akun-akun di media sosial palsu yang menyebarkan berita hoaks," paparnya.
Menurutnya masyarakat diminta pandai-pandai dalam menyaring informasi menjelang Pemilu 2019. Sebab sosial media dan pesan berantai pada aplikasi pesan singkat bernada provokatif, belakangan ini semakin banyak.
Terpisah, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bogor, Samsudin mengatakan akan gencar menyosialisasikan melawan hoaks. Upaya ini tak hanya dibebankan kepada KPU atau lembaga yang terlibat langsung dalam Pemilu.
"Namun sangat penting juga kesadaran masyarakat di Kota Bogor dalam menangkalnya. Dampak hoaks di Pemilu 2019 dapat memecah belah, fitnah, menimbulkan konflik yang kurang bagus, termasuk kampanye hitam melalui media-media sosial," jelasnya, kemarin.
Dia menambahkan sejatinya dalam melawan hoax, kampanye hitam dan lain-lainnya itu ada pada individu atau pemilihnya itu sendiri. "KPU mengajak warga Kota Bogor untuk betul-betul bijak menggunakan media sosial dan melawan hoax dengan rumus It’s THINK, yaitu It’s True (benar), It’s Helpull (menolong), It’s Inspiring (inspirasi), It’s Necessary (perlu), dan It’s Kind (baik)," katanya.
Pihaknya memprediksi produksi informasi hoaks akan semakin banyak dan massif tersebar saat menjelang pencoblosan. "Maka dari sangat penting, pihak-pihak yang terkait ikut mensosialisasikan atau mengajak dan membangun kesadaran masyarakat bahwa kita harus melawan hoaks," ucapnya.
(whb)