Dishub dan Pol PP Tak Tegas, Tanah Abang Kian Semerawut

Sabtu, 05 Januari 2019 - 07:08 WIB
Dishub dan Pol PP Tak...
Dishub dan Pol PP Tak Tegas, Tanah Abang Kian Semerawut
A A A
JAKARTA - Ketidaktegasan Dinas Perhubungan (Dishub) dan Satpol PP di kawasan Tanah Abang membuat kawasan itu kian semerawut. Angkutan kota yang mengetem dan PKL yang berjualan membuat kawasan kian tak tertata.

Di sisi lain, keberadaan PKL dan angkutan kota yang sembarang membuat titik kemacetan alami pergeseran. Bila sebelumnya kemacetan di pintu selatan Stasiun, kini kemacetan berubah di pintu timur. Imbasnya lalu lintas tersendat.

Pantauan SINDOnews, kesemerawutan di Tanah Abang terlihat saat memasuki areal sky bridge. Kepadatan kendaraan terlihat dengan banyaknya ojek pangkalan yang mengetem di depan pintu selatan. Mereka memarkirkan kendaraan sembarang membuat badan jalan termakan sebagian.

Jalanan pun menjadi menyempit. Dari ruas jalan yang ada, satu ruas digunakan untuk ngetem. Jalanan kian tersendat lantaran ruas yang terpakai.

Kondisi diperparah di akhir sky bridge yang dipenuhi sejumlah angkutan umum yang berhenti sembarang. Mereka mengetem sepanjangan 50 meter tanpa ingat waktu. Lalu lintas disana kian tersendat dengan jalanan yang menyempit. Terlebih mereka yang mengetem tepat di depan jalur u turn atau puter arah.

"Ini masih mending mas. Dulu kalo di sini bisa sampai setengah jam buat ngelewatin sky bridge," kata Tatang (34), pengendara mobil di lokasi, Jumat 4 Januari 2019.

Terlebih lokasi, sopir angkut berjalan pelan dan terkadang menutup sebagian jalan. Imbasnya bunyi klakson memekan telinga terdengar biasa. Beberapa pejalan kaki kemudian mulai kesal, umpat dan cacian kepada supir menjadi pemandangan biasa.

"Yah mau gimana. Kita cari penumpang. Kalau jalan terus mana kita dapat," ucap Rifan (29), pengemudi mikrolet M 11 jurusan Tanah Abang-Meruya.

Kondisi tak jauh beda juga terjadi di sisi jalan Jatibaru bengkel tepat di depan pintu timur stasiun. Bajaj dan mikrolet mengetem secara sembarang membuat lalu lintas kian tersendat. Terlebih dengan ruas hanya sejalur membuat akses jalan tertutup karena angkot yang mengetem.

Meskipun tidak menyalakan mesin. Para supir mikrolet berdalih dirinya tak mengetem. Mereka hanya menunggu sejumlah penumpang kereta yang menyebrang.

"Sembari menunggu penumpang sih," tambah Toto (27), sopir mikrolet.

Kondisi ini kian parah dengan di Jalan Jatibaru yang kian tersendat dengan adanya bongkar muat barang. Truk ekspedisi terparkir di atas trotoar dan memalang seperempat jalan.

Dua meter setelah bongkar muat barang terdapat sejumlah bajaj yang mengetem. Bajaj berjejer dan ditinggalkan sejumlah pengemudinya.

Derita kemacetan di tanah abang makin menjadi dengan banyak sejumlah ojek online dan supir online yang mangkal. Jumlah yang mencapai puluhan kemudian menutup satu dari empat akses jalan.

Alhasil, banyak simpul kemacetan membuat lalu lintas Transjakarta tersendat. Bus tak bisa berjalan dengan mulus karena jalanan yang tertutup. Imbasnya keluar dari Tanah Abang, sekitar 30-45 menit diperlukan pengemudi Transjakarta.

Parahnya kemacetan dan tersendatnya akses Transjakarta berimbas pada penumpang. Transjakarta kurang diminita warga. Padahal bila membandingkan dengan harganya dengan mikrolet dan ojek online menuju kawasan Gondangdia. Tarif yang ditawarkan Transjakarta jauh lebih murah Rp3.500.

Sementara bila menggunakan mikrolet tarif akan mencapai Rp5.000, sedangkan untuk ojek online di pukul 3 sore, tarif dipatok sebesar Rp15.000.

"Tapi masalahnya akses jalan di sana tidak lancar. Makanya saya pilih jalan sebentar naik ojek online,” kata Rima (26), penumpang KRL yang hendak ke kawasan Gondangdia.

Rima sendiri bisa memilih menggunakan commuter line ke stasiun Gondangdia. Namun menuju ke kawasan itu, dirinya harus memutar hingga ke stasiun Manggarai dan melanjutkan menggunakan Commuter Line ke kawasan Jakarta Kota. "Waktu yang tersisa cukup lama," keluhnya.

Di lokasi, bila biasanya halte TransJakarta dipenuhi calon penumpang. Namun tidak di kawasan Tanah Abang. Halte yang berada ditengah sky bridge, terlihat sepi. Hanya ada tiga petugas yang terlihat di tempat itu.

Padahal bila lalu lintas lancar, Halte ini akan dipenuhi penumpang. Terlebih kawasan ini sudah terintegrasi antara Commuter Line dengan TransJakarta. Penumpang Commuter Line bisa langsung menggunakan TransJakarta melalui pintu selatan.

Kondisi kian parah kemudian dengan banyaknya PKL liar yang berada dibawah sky bridge, mereka memakan seperempat ruas jalan untuk berdagang. Menggunakan terpal seadanya, mereka berjualan beberapa aksesoris handphone dan kaos kaki.

Tak jauh beda juga terjadi di sekitaran pintu selatan Stasiun. Bak semut menyerubungi gula, PKL memenuhi kawasan ini. Mereka kemudian memenutupi akses trotoar hingga keluar stasiun.

Kepadatan kian menjadi ketika commuter line sampai di stasiun. Penumpang keluar memenuhi lintasan. Pedagang kian membuat sempit lalu lintas.

Sekalipun terdapat petugas Satpol PP yang duduk di samping pintu keluar. Namun hal itu tak mampu mengatur kesemerawutan disana. Sembari ngopi dan merokok petugas hanya melihat PKL berjualan sembarangan.

Hal itu membuat pedagang kian nyaman. Mereka tak ragu menggelar lapak dagangan hingga berjualan disisi trotoar hingga menutup akses pedagang. Padahal untuk mengurangi kesemerawutan disana, Pemprov DKI sudah membuat lapak PKL di sky bridge yang mampu menampung lebih dari 500 PKL.

"Maklumin aja bang. Namanya juga Satpol PP, Satuan Plang Plong," sindir Elga (37), penumpang Commuter Line.

Setiap harinya, Elga menaiki Commuter Line dari rumahnya di Serpong ke kantornya di kawasan Cideng. Ia merasa risih dengan keberadaan pedagang yang menutup aksesnya.

Padahal, bila di tata rapih. Kawasan ini bisa lebih baik terlebih PKL sudah disiapkan tempat di Sky Bridge.

Akses pejalan kaki kemudian kian termakan disisi jalan Jati Baru Raya. Lebar trotoar sepanjang 7 meter sebagian dimakan oleh pedagang. Imbasnya trotoar menyempit dan memakan jalan.

"Lebih kesalnya lagi, pedangang disana maksa banget," tambah Elga.

Sementara dikonfirmasi, Wakil Wali Kota Jakarta Pusat, Irwandi mengakui kondisi Tanah Abang yang seperti itu. Ia menilai, hal ini tak lepas dari peran Satpol PP dan Dishub yang tak bekerja baik.

"Semestinya mereka bukan cuma berjaga tapi melakukan tindakan," kata Irwandi ketika dikonfirmasi terpisah.

Mengenai itu, Irwandi bakal menegur keras jajarannya. Kasatpol PP dan Kasudinhubtrans akan dipanggil untuk membenahi kawasan itu. Penindakan tegas akan dilakukan bagi mereka yang melanggar.

Termasuk soal PKL liar yang membuat semerawut. Irawandi menilai pembiaran yang dilakukan petugas tak ubahnya dengan membuat kawasan Tanah Abang semerawut. Padahal, dirinya mengatakan penataan PKL sudah dilakukan dengan membuat sky bridge.

"Sky bridge tidak dibangun asal jadi. Pengorbanan dan waktu diperlukan. Apalagi itu kerja keras kami. Saya terlibat saat itu," ucap Mantan Kadis KUMPKMP DKI Jakarta ini.

Sementara untuk keberadaan angkot yang mengetem, Irwandi melihat ini hal ini karena operasi Jaklingko yang belum maksimal. Ia mengatakan saat ini banyak kendaraan tua yang masih beroperasi.

Padahal dengan program Jaklingko milik Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Irwandi menyakini masalah kesemerawutan Tanah Abang terselesaikan. Angkutan nantinya dilarang mengetem karena pemprov akan membayar dengan rupiah per kilometer.

"Artinya tidak lagi angkutan yang ngetem. Ini yang akan membuat kemacetan berkurang," ucapnya.

Selain itu, ia juga meminta Dinas Perhubungan DKI Jakarta untuk berperan aktif. Penempatan anggota dilakukan agar angkutan yang mengetem dapat bergerak. Mengenai hasil lapangan, Irwandi melihat petugas lapangan belum seperti itu.

Pengamat Tata Kota Universitas Trisakti, Nirwono Joga menilai, pembiaran yang dilakukan Dishub dan Satpol PP di Tanah Abang tak ubahnya melecehkan Gubernur. Sebab pembangunan sky bridge dan keberadaan transjakarta merupakan inovasi dari Anies Baswedan.

"Tandanya mereka ngga nurut. Harus ada sanksi," ucapnya.

Karena itu, Nirwono meminta agar Pemprov DKI melakukan tindakan tegas. Melakukan pembinaan PKL dan menderek angkutan yang ngetem merupakan solusi jitu mengurangi kesemerawutan di sana.

Sebab baginya, tanpa penindakan itu, semua program akan berjalan sia sia. Pembiaran yang dilakukan akan merangsang pedagang lain dan supir mikrolet melakukan hal sama.

"Dibiarkan aja setahun, nantinya pedagangnya turun (skybrige) sendiri," tutupnya.
(mhd)
Berita Terkait
Halau PKL, 100 Personel...
Halau PKL, 100 Personel Satpol PP Dikerahkan Berjaga di Kawasan Tanah Abang
100 Personel Satpol...
100 Personel Satpol PP-Dishub Dikerahkan Jaga Ketat Kawasan Tanah Abang
Waspada! Pencopet Barang...
Waspada! Pencopet Barang Belanjaan Pengunjung Gentayangan di Pasar Tanah Abang
Pengunjung Pasar Tanah...
Pengunjung Pasar Tanah Abang Membeludak, Lalu Lintas Macet Parah
Pasar Tanah Abang Kini...
Pasar Tanah Abang Kini Lengang dan Sepi Pembeli, Belanja Lebaran Sudah Kelar?
H-1 Lebaran, Kawasan...
H-1 Lebaran, Kawasan Pasar Tanah Abang Sepi
Berita Terkini
11 Orang Tewas, Truk...
11 Orang Tewas, Truk Tronton Hantam Pikap Rombongan Pengantar Pengantin di Pantura Indramayu
8 jam yang lalu
Gerak Cepat! Pemkab...
Gerak Cepat! Pemkab Bogor Terjunkan Alat Berat Bersihkan Tumpukan Sampah di Kali Baru
8 jam yang lalu
BNPB Sebut 3 Daerah...
BNPB Sebut 3 Daerah di Pulau Jawa Dilanda Karhutla, Ini Lokasinya
9 jam yang lalu
Usai Jadi Tersangka,...
Usai Jadi Tersangka, Rumah Dinas Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Sepi Tanpa Aktivitas
15 jam yang lalu
Pekan Dekranasda Tangsel...
Pekan Dekranasda Tangsel 2026, Momentum Perkenalkan Produk Lokal UMKM
15 jam yang lalu
Komitmen Berkelanjutan,...
Komitmen Berkelanjutan, Tracon Industri Kolaborasi Tanam 500 Mangrove di Karawang
17 jam yang lalu
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved