LRT Fleksibel, MRT Miliki Daya Tampung hingga Ribuan Orang
Senin, 08 Oktober 2018 - 06:08 WIB
LRT Fleksibel, MRT Miliki Daya Tampung hingga Ribuan Orang
A
A
A
JAKARTA - Menjadi feeder bagi transportasi Jakarta. Light Rail Transit (LRT) memiliki keunggulan, kondisi gerbong yang fleksibel, membuat LRT dapat meliuk dijalur elevated rel di kawasan Kelapa Gading-Velodrome.
Di sisi lain, kondisi berbeda terlihat di Mass Rail Transit (MRT). Kondisi yang lebih kaku tak membuat kalah diminati. MRT memiliki keunggulan kapasitas, ribuan orang dapat diangkut dengan sekali pemberangkatan, kereta full otomatis ini menjadi backbone bagi transportasi ibu kota.
"Bagi kami semuanya punya keunggulan. Dunia ini pilihan, tidak ada yang sempurna. Kesempurnaan milik tuhan. Termasuk kereta, tidak ada kereta yang sempurna, ini adalah pilihan," kata Direktur Utama LRT Jakarta, Allan Tandiono ketika dihubungi KORAN SINDO, Minggu 7 Oktober 2018.
Memang dibandingkan transportasi lainnya, sesama feeder atau pengumpan. LRT dinilai lebih steril. Berada pada elevated rel dan tidak terkena kemacetan, LRT akan mudah mengantar dengan cepat mengatar penumpang di pinggiran Jakarta.
Fungsinya sebagai feeder membuat LRT dituntut fleksibel, pemilihan gerbong menjadi alasannya, bila pada MRT memiliki gerbong sekitar 3 meter. LRT memiliki gerbong ramping, yakni 2,65 meter dan panjang 14 meter.
Hal itu yang kemudian membedakan kecepatan keduanya, kondisi lebar MRT mampu membuat mereka mampu memacu kecepatan hingga 100-150 kilometer per jam. Sementara LRT berada dibawahnya. "Mungkin kecepatan top speed kita 100 kilometer per jam," tambah Allan.
Meski demikian di banding MRT yang cenderung lurus, LRT yang menggunakan sistem aliran bawah juga tak kalah canggih. Pemasangan articulited boogie di antara gerbong membuat manuver LRT stabil hingga belokan 40 meter. Sekalipun nantinya pembangun rel LRT mengharuskan membentuk huruf S, LRT tidak masalah.
"Tapikan ada pertimbangan utamnya. Yang pasti untuk kenyamanan penumpang. Memang bisa semacam itu, tapi apakah penumpang nyaman? Makanya kita perlu pertimbangan yang lain. Tapi kalau memaksakan kami siap," tuturnya.
Pada kereta LRT yang didatangkan dari Hyundai Rotten, Korea Selatan sistem operasi murni mengandalkan operasi manual. Gerak maju dan berhenti mengandalkan masinis di dua sisi. Karena itu persinyalan dan rambu di pasang di beberapa titik, sehingga ketepatan masih terjaga.
Hyundai Rotten bukan perusahaan sembarang. Kualitas kereta ini telah teruji di beberapa negara dunia, mulai dari London, Manchester, beberapa kota di Amerika, Ukraina, hingga beberap negara Eropa lainnya menggunakan kereta ini. Karena itu, Allan yakin LRT Jakarta memiliki standar international.
"Makanya kenapa kita bikin bener bener kelas dunia, mulai dari stasiun, gerbong, hingga pelayanan. Ini adalah kualitas international," tuturnya.
Allan enggan menjabarkan detail mengenai kereta ini. Namun dirinya menjelaskan LRT Jakarta memiliki kemampuan yang lebih baik sebagai feeder. Kondisi ini akan terlihat ketika 12 koridor LRT akan menjadi loopline bagi feeder di Jakarta.
"Saya memiliki keyakinan di jakarta kedepannya. Jakarta menjadi kota modern dan megapolitan, dimana masyarakat sepenuhnya menggunakan public transport. Kendaraan pribadi akan digunakan saat berlibur," tuturnya.
Corporate Secretary PT MRT Jakarta, Tubagus Hikmatullah menyampaikan MRT membutuhkan bantuan Feeder transport lainnya, seperti Transjakarta, LRT, hingga Commuter Line.
Terlebih dalam fungsinya, MRT akan menjadi backbone atau tulang punggung. Artinya, MRT akan menjadi public utama yang membelah pusat kota. Mereka nantinya mengantarkan penumpang dari stasuin ke lokasi kerja. "Makanya kita butuh integrasi. Semua terhubung dan bermuara ke MRT," kata Hikmatullah.
Terlebih MRT sendiri memiliki kapasitas penumpang yang lebih banyak. Dengan operasional awal enam gerbong, kapasitas maksimal 300 orang pergerbong. MRT diyakini mampu mengangkut ribuan orang sekali berangkat.
Nantinya akan ada 13 stasiun yang dilintasi dari Lebak Bulus-Bunderan HI dengan estimasi waktu 30 menit. "Jaraknya 5 menit di jam sibuk, 10 menit di jam santai. Tapi semua itu bisa diatur," kata Hikmatullah.
Hikmatullah menyampaikan, MRT menggunakan sistem operasional yang canggih. Pergerakan di rel hingga stasiun dilakukan secara otomatis. Sementara masinis hanya bertugas buka tutup pintu serta berjaga bila dibutuhkan dalam kondisi darurat.
Berbeda dengan LRT yang cenderung fleksibel. MRT jauh lebih kaku, karena itu tak hayal para stasiun MRT letaknya cenderung segaris, sehingga kecepatan menjadi andalan transportasi ini. "Semakin panjang kereta, semakin tinggi speed yang diperlukan, makanya jalurnya tidak meliuk liuk," kata Hikmatullah.
Karena itulah rel MRT cenderung lurus. Sehingga membuat kecelatan kereta kian tinggi. Saat di elevatad MRT mampu mencapai 80 km/jam dan di terowongan 50 km/jam. Padahal bila top sped.
"Makanya speednya turun. Kalau dihajar terus akan berdampak pada kecepatan hausnya boogie, roda kereta, itu bisa haus walaupun dia ngga pake karet," tutup Hikamatullah.
Di sisi lain, kondisi berbeda terlihat di Mass Rail Transit (MRT). Kondisi yang lebih kaku tak membuat kalah diminati. MRT memiliki keunggulan kapasitas, ribuan orang dapat diangkut dengan sekali pemberangkatan, kereta full otomatis ini menjadi backbone bagi transportasi ibu kota.
"Bagi kami semuanya punya keunggulan. Dunia ini pilihan, tidak ada yang sempurna. Kesempurnaan milik tuhan. Termasuk kereta, tidak ada kereta yang sempurna, ini adalah pilihan," kata Direktur Utama LRT Jakarta, Allan Tandiono ketika dihubungi KORAN SINDO, Minggu 7 Oktober 2018.
Memang dibandingkan transportasi lainnya, sesama feeder atau pengumpan. LRT dinilai lebih steril. Berada pada elevated rel dan tidak terkena kemacetan, LRT akan mudah mengantar dengan cepat mengatar penumpang di pinggiran Jakarta.
Fungsinya sebagai feeder membuat LRT dituntut fleksibel, pemilihan gerbong menjadi alasannya, bila pada MRT memiliki gerbong sekitar 3 meter. LRT memiliki gerbong ramping, yakni 2,65 meter dan panjang 14 meter.
Hal itu yang kemudian membedakan kecepatan keduanya, kondisi lebar MRT mampu membuat mereka mampu memacu kecepatan hingga 100-150 kilometer per jam. Sementara LRT berada dibawahnya. "Mungkin kecepatan top speed kita 100 kilometer per jam," tambah Allan.
Meski demikian di banding MRT yang cenderung lurus, LRT yang menggunakan sistem aliran bawah juga tak kalah canggih. Pemasangan articulited boogie di antara gerbong membuat manuver LRT stabil hingga belokan 40 meter. Sekalipun nantinya pembangun rel LRT mengharuskan membentuk huruf S, LRT tidak masalah.
"Tapikan ada pertimbangan utamnya. Yang pasti untuk kenyamanan penumpang. Memang bisa semacam itu, tapi apakah penumpang nyaman? Makanya kita perlu pertimbangan yang lain. Tapi kalau memaksakan kami siap," tuturnya.
Pada kereta LRT yang didatangkan dari Hyundai Rotten, Korea Selatan sistem operasi murni mengandalkan operasi manual. Gerak maju dan berhenti mengandalkan masinis di dua sisi. Karena itu persinyalan dan rambu di pasang di beberapa titik, sehingga ketepatan masih terjaga.
Hyundai Rotten bukan perusahaan sembarang. Kualitas kereta ini telah teruji di beberapa negara dunia, mulai dari London, Manchester, beberapa kota di Amerika, Ukraina, hingga beberap negara Eropa lainnya menggunakan kereta ini. Karena itu, Allan yakin LRT Jakarta memiliki standar international.
"Makanya kenapa kita bikin bener bener kelas dunia, mulai dari stasiun, gerbong, hingga pelayanan. Ini adalah kualitas international," tuturnya.
Allan enggan menjabarkan detail mengenai kereta ini. Namun dirinya menjelaskan LRT Jakarta memiliki kemampuan yang lebih baik sebagai feeder. Kondisi ini akan terlihat ketika 12 koridor LRT akan menjadi loopline bagi feeder di Jakarta.
"Saya memiliki keyakinan di jakarta kedepannya. Jakarta menjadi kota modern dan megapolitan, dimana masyarakat sepenuhnya menggunakan public transport. Kendaraan pribadi akan digunakan saat berlibur," tuturnya.
Corporate Secretary PT MRT Jakarta, Tubagus Hikmatullah menyampaikan MRT membutuhkan bantuan Feeder transport lainnya, seperti Transjakarta, LRT, hingga Commuter Line.
Terlebih dalam fungsinya, MRT akan menjadi backbone atau tulang punggung. Artinya, MRT akan menjadi public utama yang membelah pusat kota. Mereka nantinya mengantarkan penumpang dari stasuin ke lokasi kerja. "Makanya kita butuh integrasi. Semua terhubung dan bermuara ke MRT," kata Hikmatullah.
Terlebih MRT sendiri memiliki kapasitas penumpang yang lebih banyak. Dengan operasional awal enam gerbong, kapasitas maksimal 300 orang pergerbong. MRT diyakini mampu mengangkut ribuan orang sekali berangkat.
Nantinya akan ada 13 stasiun yang dilintasi dari Lebak Bulus-Bunderan HI dengan estimasi waktu 30 menit. "Jaraknya 5 menit di jam sibuk, 10 menit di jam santai. Tapi semua itu bisa diatur," kata Hikmatullah.
Hikmatullah menyampaikan, MRT menggunakan sistem operasional yang canggih. Pergerakan di rel hingga stasiun dilakukan secara otomatis. Sementara masinis hanya bertugas buka tutup pintu serta berjaga bila dibutuhkan dalam kondisi darurat.
Berbeda dengan LRT yang cenderung fleksibel. MRT jauh lebih kaku, karena itu tak hayal para stasiun MRT letaknya cenderung segaris, sehingga kecepatan menjadi andalan transportasi ini. "Semakin panjang kereta, semakin tinggi speed yang diperlukan, makanya jalurnya tidak meliuk liuk," kata Hikmatullah.
Karena itulah rel MRT cenderung lurus. Sehingga membuat kecelatan kereta kian tinggi. Saat di elevatad MRT mampu mencapai 80 km/jam dan di terowongan 50 km/jam. Padahal bila top sped.
"Makanya speednya turun. Kalau dihajar terus akan berdampak pada kecepatan hausnya boogie, roda kereta, itu bisa haus walaupun dia ngga pake karet," tutup Hikamatullah.
(mhd)