Tak Terima Diolok-olok, Junior Pelayaran Tikam Senior hingga Tewas
Selasa, 25 September 2018 - 20:56 WIB
Tak Terima Diolok-olok, Junior Pelayaran Tikam Senior hingga Tewas
A
A
A
TANGERANG - Warga di Perumahan Cituis Indah, Blok 3, No. 20, RT04/05, Desa Suryabahari, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten, digegerkan dengan pembunuhan sadis Gonsalves.
Perwira siswa di Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP) Tangerang ini tewas bersimbah darah lantaran ditusuk berkali-kali oleh juniornya, Gideon Gontha.
Menurut Kapolsek Pakuhaji AKP Suyatno, penusukan itu dilatari permasalahan loyalitas antara junior kepada senior yang telah berlangsung lama, dan memuncak pada Minggu 23 September 2018.
"Awalnya mereka kumpul-kumpul di tempat kejadian perkara untuk bakar-bakar daging," kata Suyatno kepada KORAN SINDO di Mapolsek Pakuhaji di Tangerang, Selasa (25/9/2018).
Saat asyik berkumpul-kumpul itu, korban yang merupakan senior pelaku membahas tentang loyalitas juniornya. Pelaku tidak suka, hingga terjadi cekcok antar keduanya. Suasana riang pun berubah menjadi panas.
"Sebenarnya antara korban dan tersangka sama-sama dinas di BP2IP. Tetapi obrolan itu membuat keduanya panas. Korban lalu memukul dada tersangka," ungkapnya.
Tidak terima dipermalukan di hadapan teman-temannya, dengan dipukul oleh Gonsalves, Gideon Gontha akhirnya pulang ke rumah kontrakannya dengan motor, di wilayah Mauk, Kabupaten Tangerang.
Dengan hati masih panas, Gideon Gontha mengambil pisau dapur di kontrakannya dan kembali lagi ke Perumahan Cituis Indah, untuk membuat perhitungan dengan pelaku, berharap pelaku akan minta maaf.
"Namun, keduanya kembali terlibat cekcok dan langsung menikam dada korbannya berkali-kali, hingga korban langsung tewas di lokasi kejadian akibat kehabisan darah. Setelah itu, korban melarikan diri," jelasnya.
Melihat peristiwa pembunuhan itu, banyak teman-teman korban yang histeris dan langsung menghubungi pihak kepolisian, serta membawa korban ke rumah sakit.
"Pelaku melarikan diri dengan mengenakan sepeda motor Suzuki Satria FU. Setelah menerima laporan itu, petugas kami langsung melakukan pengejaran terhadap pelaku di Gideon Gontha," tambah Suyatno.
Tidak butuh waktu lama, petugas akhirnya menangkap Gideon Gontha. Dia diciduk dari rumah kontrakannya di Mauk tanpa perlawanan, berikut pisau yang digunakan untuk menikam hingga meregang nyawa itu.
"Pelaku ditangkap pada malam terjadinya penusukan di wilayah Mauk. Dia dijerat Pasal 338 Sub 340 KUHP dengan ancaman pidana 15 tahun penjara," kata Suyatno.
Sementara itu, tersangka Gideon Gontha mengaku, dirinya tidak berniat membunuh korban, dan hanya ingin memberikan pelajaran agar menjadi jera, dan tidak mengungkit-ungkit perihal senioritas lagi.
"Tetapi korban malah memukul dada saya. Saya sangat sakit hati dan marah. Lalu saya ambil pisau di kontrakan, dan menusuknya berkali-kali. Saya menyesal," sambungnya.
Menurut Gideon, persoalan senioritas itu sudah berlangsung lama. Namun selalu saja diulang-ulang oleh korban. Tidak hanya itu, korban juga kerap berkata kasar padanya. Hal ini membuatnya sangat sakit hati.
"Sebenarnya itu masalah lama. Tetapi kerap diulang-ulang oleh korban. Saya sangat sakit hati dengan perbuatan korban. Dia selalu mengolok-olok saya," pungkasnya.
Perwira siswa di Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP) Tangerang ini tewas bersimbah darah lantaran ditusuk berkali-kali oleh juniornya, Gideon Gontha.
Menurut Kapolsek Pakuhaji AKP Suyatno, penusukan itu dilatari permasalahan loyalitas antara junior kepada senior yang telah berlangsung lama, dan memuncak pada Minggu 23 September 2018.
"Awalnya mereka kumpul-kumpul di tempat kejadian perkara untuk bakar-bakar daging," kata Suyatno kepada KORAN SINDO di Mapolsek Pakuhaji di Tangerang, Selasa (25/9/2018).
Saat asyik berkumpul-kumpul itu, korban yang merupakan senior pelaku membahas tentang loyalitas juniornya. Pelaku tidak suka, hingga terjadi cekcok antar keduanya. Suasana riang pun berubah menjadi panas.
"Sebenarnya antara korban dan tersangka sama-sama dinas di BP2IP. Tetapi obrolan itu membuat keduanya panas. Korban lalu memukul dada tersangka," ungkapnya.
Tidak terima dipermalukan di hadapan teman-temannya, dengan dipukul oleh Gonsalves, Gideon Gontha akhirnya pulang ke rumah kontrakannya dengan motor, di wilayah Mauk, Kabupaten Tangerang.
Dengan hati masih panas, Gideon Gontha mengambil pisau dapur di kontrakannya dan kembali lagi ke Perumahan Cituis Indah, untuk membuat perhitungan dengan pelaku, berharap pelaku akan minta maaf.
"Namun, keduanya kembali terlibat cekcok dan langsung menikam dada korbannya berkali-kali, hingga korban langsung tewas di lokasi kejadian akibat kehabisan darah. Setelah itu, korban melarikan diri," jelasnya.
Melihat peristiwa pembunuhan itu, banyak teman-teman korban yang histeris dan langsung menghubungi pihak kepolisian, serta membawa korban ke rumah sakit.
"Pelaku melarikan diri dengan mengenakan sepeda motor Suzuki Satria FU. Setelah menerima laporan itu, petugas kami langsung melakukan pengejaran terhadap pelaku di Gideon Gontha," tambah Suyatno.
Tidak butuh waktu lama, petugas akhirnya menangkap Gideon Gontha. Dia diciduk dari rumah kontrakannya di Mauk tanpa perlawanan, berikut pisau yang digunakan untuk menikam hingga meregang nyawa itu.
"Pelaku ditangkap pada malam terjadinya penusukan di wilayah Mauk. Dia dijerat Pasal 338 Sub 340 KUHP dengan ancaman pidana 15 tahun penjara," kata Suyatno.
Sementara itu, tersangka Gideon Gontha mengaku, dirinya tidak berniat membunuh korban, dan hanya ingin memberikan pelajaran agar menjadi jera, dan tidak mengungkit-ungkit perihal senioritas lagi.
"Tetapi korban malah memukul dada saya. Saya sangat sakit hati dan marah. Lalu saya ambil pisau di kontrakan, dan menusuknya berkali-kali. Saya menyesal," sambungnya.
Menurut Gideon, persoalan senioritas itu sudah berlangsung lama. Namun selalu saja diulang-ulang oleh korban. Tidak hanya itu, korban juga kerap berkata kasar padanya. Hal ini membuatnya sangat sakit hati.
"Sebenarnya itu masalah lama. Tetapi kerap diulang-ulang oleh korban. Saya sangat sakit hati dengan perbuatan korban. Dia selalu mengolok-olok saya," pungkasnya.
(mhd)