Tiga Hal Ini Bisa Atasi Bentrok Suporter Menurut Guru Besar UGM

Selasa, 25 September 2018 - 10:30 WIB
Tiga Hal Ini Bisa Atasi...
Tiga Hal Ini Bisa Atasi Bentrok Suporter Menurut Guru Besar UGM
A A A
YOGYAKARTA - Kasus tewasnya Haringga Sirila, suporter Persija Jakarta akibat dikeroyok suporter Persib Bandung menarik perhatian banyak pihak. Kasus ini menjadi isu nasional.

Dekan Fakultas Psikologi UGM, Prof Faturochman menilai bentrok antarsuporter bola sangat dimungkinkan lantaran adanya group based emotion. Emosi karena kelompok, saling dendam, balas-membalas. Mungkin sebelumnya pernah ada korban juga dari pihak Persib akibat ulah suporter Persija.

"Ini akan terus terjadi. Persoalan identitas yang berbeda, persaingan. Mesti saling mengunggulkan timnya dan menjelekkan tim lawan," katanya kepada SINDOnews, Senin (24/9/2018) malam.

Untuk mengatasi ini, guru besar UGM ini menyarankan tiga hal. Pertama masing-masing tim bisa mengatur suporternya. Langkah ini sudah dilakukan oleh tim-tim besar di luar negeri. Jika ada suporter yang berulah maka pasti tim yang bersangkutan akan kena sanksi selain pelaku juga dihukum.

"Masalahnya tim bola di Indonesia ibaratnya hidup tak mau mati tak segan, sehingga tak sempat lagi mengurus suporternya," katanya.

Kedua, dari segi keamanan, di dalam stadion dan di luar stadion harus bisa dikontrol. Pengaturan pembelian tiket juga harus ketat. "Sekarang ada CCTV. Di luar negeri orang beli tiket itu tidak gampang. Paspor dan identitas di-scan. Tiket juga ada nomor kursinya. Jadi kalau mencurigakan sedikit saja sudah terpantau dari CCTV dan langsung diketahui," katanya.

Ketiga, sejak di luar stadion suporter juga sudah dipisahkan sedemikian rupa untuk menghindari bentrok. Faturochman mencontohkan di Belanda, sejak di jalan kedua suporter sudah dipisahkan sedemikian rupa untuk meminimalisir bentrok. Di sana sistem transportasi umum sangat bagus sehingga nyaris tidak ada supporter yang menggunakan kendaraan pribadi.

"Suporter A turun di stasiun A dan suporter B turun di stasiun yang lain, jalan masuknya juga sudah dipisah. Ini untuk meminimalisir bentrok tadi. Kalau d Idonesia kan pake kendaraan sendiri-sendiri sehingga campur-baur susah dikontrol," ujarnya.

Lulusan Universitas Flinders Australia ini menegaskan agar kasus serupa tidak terulang maka yang perlu diperhatikan minimal adalah tiga hal tadi. "Pengawasan ketat dari tim masing-masing, sistem keamanan yang ditingkatkan serta sistem transportasi massa yang juga harus dibenahi agar sejak awal mereka bisa dikontrol," katanya.
(amm)
Berita Terkait
UGM Ajak Seluruh Elemen...
UGM Ajak Seluruh Elemen Bangsa Bersatu Lawan COVID-19
3 Fakultas di UGM yang...
3 Fakultas di UGM yang Menyediakan Sarapan bagi Mahasiswanya saat Ujian
UGM Tegaskan Belum Akan...
UGM Tegaskan Belum Akan Ubah Nomenklatur Teknik Menjadi Rekayasa
63 Prodi UGM Berakreditasi...
63 Prodi UGM Berakreditasi Internasional
Mengenal Sejarah Berdirinya...
Mengenal Sejarah Berdirinya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Mahasiswa UGM Sabet...
Mahasiswa UGM Sabet 6 Juara di Lomba UPES Dehradun India
Berita Terkini
Peringati Hari Lingkungan...
Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Sentul City Tanam 3.850 Pohon
6 jam yang lalu
Gelar Pernas XIII di...
Gelar Pernas XIII di Klaten, FMKI Keluarkan Seruan Moral
6 jam yang lalu
Pemerintah Serahkan...
Pemerintah Serahkan SK Hutan Adat Jambi hingga Bali Seluas 1.175 Hektare
8 jam yang lalu
Fasilitas Pengemasan...
Fasilitas Pengemasan Minyak Goreng di Surabaya Percepat Pasokan ke Indonesia Timur
8 jam yang lalu
Taruna Nusantara Cimahi-Redea...
Taruna Nusantara Cimahi-Redea Institute Kerja Sama Peningkatan Kualitas Akademik
10 jam yang lalu
Bukan Sekadar Digital,...
Bukan Sekadar Digital, Teras Kapal BRI Buktikan CX100 Danantara Hadir Nyata di Pulau Terpencil
11 jam yang lalu
Infografis
Tiga Tanaman Herbal...
Tiga Tanaman Herbal Ini Bisa Bikin Kita Awet Muda Loh
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved