Gedung Berkonsep Ramah Lingkungan di DKI Masih di Bawah 10%
Jum'at, 15 September 2017 - 04:25 WIB
Gedung Berkonsep Ramah Lingkungan di DKI Masih di Bawah 10%
A
A
A
JAKARTA - Konsep ramah lingkungan rupanya masih belum diterapkan oleh pengelola gedung di kawasan Jakarta. Dari ratusan gedung di Ibu Kota kurang dari 10% berkonsep ramah lingkungan.
Hal itu diungkapkan Chairman and President PT Berca Indonesia, Murdaya Poo saat melakukan konferensi pers gedung ramah lingkungan di Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, Kamis, 14 September 2017 kemarin. "Sangat sedikit, ini menjadi masalah, disaat negara ini kekurangan energi. Tapi pemilik gedung malah buang-buang anggaran," ujar Murdaya Kamis pagi.
Padahal, lanjut Murdaya, melalui konsep gedung ramah lingkungan, maka pemilik gedung akan mampu menekan ongkos operasional perawatan gedung. Sebab energi dan sirkulasi akan sangat bagus, salah satunya tidak menggunakan listrik di siang hari serta penggunaan AC yang tidak terlalu mahal.
"Mungkin bila dihitung presentase gedung ramah lingkungan bisa menekan 30% operasional," tuturnya.
Asssitant Professor Harvard T.H. Chan Schoo of Public Health, Dr Joseph G. Allen mengatakan, melalui bangunan ramah lingkungan akan terlihat efek pada manusianya. Salah satunya masyarakat gedung didalamnya akan berpikiran lebih pintar. Tanpa sadar penggunaan konsep gedung ramah lingkungan, akan mengurangi polusi udara dan aktivitas indoor lainnya.
Sebab, dengan konsep ini, sirkulasi udara akan tercapai sehingga udara segara akan tercipta."Tanpa kita sadari, bangunan ramah lingkungan akan menciptakan kualitas baik. Jantung kita akan sehat, otak kita bagus, sehingga pencapaian kerja akan meningkat," tuturnya.
Joseph sendiri mengatakan temuan ini didapatnya saat melakukan ujicoba pada 24 pekerja yang di tempatkan di gedung sehat selama dua pekan. Hasilnya pekerjaan mereka cukup meningkat.
Chief Sustainability Officer, United Technologies Corp, John Mandyck mengatakan, konsep ini wajib diterapkan di indonesia. Mengingat negara ini 53% diantaranya hidup di kota besar. Bahkan John berpendapat pada tahun 2050 mendatang, penghuni kota besar akan meningkat sekitar 75%, tak hayal Presiden Jokowi sendiri mewacanakan untuk memindahkan Ibu Kota ke Pontianak.
PT UTC, lanjut John, telah melakukan riset terhadap ini di 16 negara sejak pertama kali di tahun 1993 lalu. Hasilnya, banyak pemilik bangunan yang merasakan akan efek luar biasa gedung.
Terkait soal keberadaan bangunan tua, John menegaskan, konsep gedung ramah bisa di hadirkan sekalipun bangunan tua, tapi dengan merenovasi beberapa instalasi, maka konsep gedung ramah akan tersedia.
Belum lagi pemanfaatan energi yang bisa ditekan hingga cukup banyak. Di Amerika sendiri, kata John, sudah banyak yang melakukan penghematan energi hingga 40%. "Tanpa sadar ini bisa jadi untuk nilai ekonomi tinggi," ucapnya.
Hal itu diungkapkan Chairman and President PT Berca Indonesia, Murdaya Poo saat melakukan konferensi pers gedung ramah lingkungan di Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, Kamis, 14 September 2017 kemarin. "Sangat sedikit, ini menjadi masalah, disaat negara ini kekurangan energi. Tapi pemilik gedung malah buang-buang anggaran," ujar Murdaya Kamis pagi.
Padahal, lanjut Murdaya, melalui konsep gedung ramah lingkungan, maka pemilik gedung akan mampu menekan ongkos operasional perawatan gedung. Sebab energi dan sirkulasi akan sangat bagus, salah satunya tidak menggunakan listrik di siang hari serta penggunaan AC yang tidak terlalu mahal.
"Mungkin bila dihitung presentase gedung ramah lingkungan bisa menekan 30% operasional," tuturnya.
Asssitant Professor Harvard T.H. Chan Schoo of Public Health, Dr Joseph G. Allen mengatakan, melalui bangunan ramah lingkungan akan terlihat efek pada manusianya. Salah satunya masyarakat gedung didalamnya akan berpikiran lebih pintar. Tanpa sadar penggunaan konsep gedung ramah lingkungan, akan mengurangi polusi udara dan aktivitas indoor lainnya.
Sebab, dengan konsep ini, sirkulasi udara akan tercapai sehingga udara segara akan tercipta."Tanpa kita sadari, bangunan ramah lingkungan akan menciptakan kualitas baik. Jantung kita akan sehat, otak kita bagus, sehingga pencapaian kerja akan meningkat," tuturnya.
Joseph sendiri mengatakan temuan ini didapatnya saat melakukan ujicoba pada 24 pekerja yang di tempatkan di gedung sehat selama dua pekan. Hasilnya pekerjaan mereka cukup meningkat.
Chief Sustainability Officer, United Technologies Corp, John Mandyck mengatakan, konsep ini wajib diterapkan di indonesia. Mengingat negara ini 53% diantaranya hidup di kota besar. Bahkan John berpendapat pada tahun 2050 mendatang, penghuni kota besar akan meningkat sekitar 75%, tak hayal Presiden Jokowi sendiri mewacanakan untuk memindahkan Ibu Kota ke Pontianak.
PT UTC, lanjut John, telah melakukan riset terhadap ini di 16 negara sejak pertama kali di tahun 1993 lalu. Hasilnya, banyak pemilik bangunan yang merasakan akan efek luar biasa gedung.
Terkait soal keberadaan bangunan tua, John menegaskan, konsep gedung ramah bisa di hadirkan sekalipun bangunan tua, tapi dengan merenovasi beberapa instalasi, maka konsep gedung ramah akan tersedia.
Belum lagi pemanfaatan energi yang bisa ditekan hingga cukup banyak. Di Amerika sendiri, kata John, sudah banyak yang melakukan penghematan energi hingga 40%. "Tanpa sadar ini bisa jadi untuk nilai ekonomi tinggi," ucapnya.
(whb)