Psikolog: Massa Pembakar Joya Dirasuki Dendam Frustasi dan Kecewa

Senin, 07 Agustus 2017 - 06:03 WIB
Psikolog: Massa Pembakar...
Psikolog: Massa Pembakar Joya Dirasuki Dendam Frustasi dan Kecewa
A A A
JAKARTA - Kematian tragis Muhammad Al Zahra alias Joya (30), warga Cikarang yang dibakar hidup-hidup oleh massa karena dituduh mencuri amplifier atau pengeras suara di salah satu musalah di Kampung Muara Bakti RT 012/07, Desa Muara Bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, hingga kini masih sorotan publik. Sebab, belakangan diketahui korban diduga bukan pelaku pencurian tetapi sedang melaksanakan salat.

Psikolog dari Universitas Pancasila (UP) Aully Grashinta menilai kasus ini tak lepas dari kondisi psikologis massa yang 'kurang sehat'. Ketika individu berada dalam satu kelompok maka mereka umumnya merasa lebih berani. Dalam kelompok identitas tersamarkan dan melebur sehingga orang yang biasanya tidak berani berbuat agresif menjadi lebih berani.

Aully menyebutkan, terdapat beberapa hal yang menyebabkan massa bisa menjadi begitu sadis. Terlebih saat ini masyarakat relatif mudah terprovokasi karena kondisi psikologis yang 'kurang sehat', memiliki kekecewaan terpendam, frustrasi, dan lainnya. "Hal itulah yaang akhirnya mudah meledak saat ada pemicu," ujar perempuan yang akrab disapa Shinta, Minggu (6/8/2017).

Dalam kasus Joya ini, kata Shinta, korban seakan dijadikan sasaran kemarahan yang mungkin saja bukan karena penyebab utama yaitu tuduhan mencuri. Shinta melihat hal itu jutsru sebagai pelampiasan agresivitas atas kondisi psikologis massa. (Baca: Curahan Hati Istri Terduga Pencurian Amplifier yang Tewas Dibakar Massa)

Dalam kondisi chaos di dalam kerumunan maka orang tidak lagi berpikir jernih sehingga mengikuti apa yang diinginkan kelompok. Jadi, sulit bagi mereka untuk bisa berpikir logis, apalagi berpikir tentang hukum. "Setelah kembali menjadi individu di luar kelompok, barulah akan menyadari tindakannya, dan biasanya menyesal," tandasnya.

Ia juga melihat tindakan anarkistis tersebut dilihat sebagai indikasi skeptisnya masyarakat terhadap aparat penegak hukum. Apalagi masyarakat saat ini disuguhkan pada banyaknya fenomena ketidakberadaan pihak berwenang untuk menyelesaikan berbagai kasus hukum.

Masyarakat juga sering dihadapkan pada kondisi lemahnya law enforcement atau penegakan hukum sehingga efek jera tidak dirasakan. Jadi, dorongan berperilaku agresif lebih mendominasi emosi ketimbang memikirkan cara penyelesaian yang baik-baik. "Situasi dan kondisi pada saat kejadian juga dapat mendorong kelompok untuk berbuaf agresif, bahkan membunuh," paparnya.

Menurut dia, apa yang terjadi pada Joya merupakan wujud pelampiasan dendam. Tetapi bukan dendam langsung pada korban. Dendam yang dimaksud adalah dendam frustasi dan kekecewaan karena kondisi tertentu.

“Korban menjadi sasaran atas dendam, frustrasi, agresivitas yang mungkin selama ini dipendam. Dendam frustrasi kecewa dan lainnya yang sifatnya pribadi per pribadi, sehingga mudah sekali terpantik saat ada sedikit saja pemicunya," pungkasnya.
(thm)
Berita Terkait
Empat WNI Pakistan Terjerat...
Empat WNI Pakistan Terjerat Kasus Pencurian di Surabaya
Google Nyerah Hadapi...
Google Nyerah Hadapi Malware Joker, Dihapus Tetap Saja Mengancam
Cermati, Ini 8 Cara...
Cermati, Ini 8 Cara Hindari Kejahatan Skimming ATM
5 Pencurian di Museum...
5 Pencurian di Museum yang Paling Terkenal, dari Mona Lisa hingga Van Gogh
Polisi Lumpuhkan Pelaku...
Polisi Lumpuhkan Pelaku Pencurian Motor
Terlibat Pencurian Ikan...
Terlibat Pencurian Ikan Ilegal, 24 Nelayan Vietnam Dideportasi
Berita Terkini
Ciangir Disiapkan Jadi...
Ciangir Disiapkan Jadi Penampungan Kompos, Pramono Yakin 9.000 Ton Sampah Jakarta Bisa Tertangani
13 menit yang lalu
Pramono Tegaskan 2.843...
Pramono Tegaskan 2.843 Lowongan Padat Karya Program Jangka Pendek
48 menit yang lalu
Prabowo Tinjau SRMP...
Prabowo Tinjau SRMP 17 Tabanan, Disambut Yel-yel hingga Tari Kecak dari Siswa
2 jam yang lalu
Pramono Yakin CFD Rasuna...
Pramono Yakin CFD Rasuna Said Jadi Ikon Baru Jakarta, Dilirik Wisatawan Mancanegara
2 jam yang lalu
Gempa 5,3 Magnitudo...
Gempa 5,3 Magnitudo Guncang Maluku Barat Daya
2 jam yang lalu
Dokter Gigi Asal Vietnam...
Dokter Gigi Asal Vietnam Buka Praktik di Ciputat Pakai Izin Tinggal Kunjungan, Endingnya Dideportasi
3 jam yang lalu
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved