Larang Uji Coba Koridor 13, Pemkot Tangerang Akan Bertemu Pemprov DKI
Rabu, 10 Mei 2017 - 06:01 WIB
Larang Uji Coba Koridor 13, Pemkot Tangerang Akan Bertemu Pemprov DKI
A
A
A
JAKARTA - Uji coba bus Transjakarta Koridor 13 rute Ciledug-Tendean, sejak Sabtu 6 Mei 3017, menuai polemik. Sebab, uji coba dilakukan tanpa sepengetahuan Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang.
Tidak hanya itu, dalam uji coba tersebut bus Transjakarta juga memutar di kawasan Puri Beta 2, dan CBD Ciledug. Padahal, Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah dengan tegas melarangnya.
Larangan Arief ini sebenarnya mendasar. Sebab, pembangunan tahap pertama elevated bus way Koridor 13 rute Ciledug-Tendean harusnya sampai ke Ciledug. Namun, faktanya hanya sampai Cipulir.
Apalagi, uji coba tersebut dilakukan tanpa ada rekayasa jalan. Alhasil, kepadatan volume kendaraan di sepanjang Jalan Ciledug, dan perbatasan Tangerang-DKI menjadi semakin parah dari sebelumnya.
Menanggapi aksi koboi Pemprov DKI ini, Arief hanya bisa geleng-geleng kepala. Dengan sigap, pihaknya mendesak suatu pertemuan khusus untuk membahas masalah ini dengan Pemprov DKI Jakarta.
"Kita melalui Pak Saeful Kadishub sedang berkomunikasi meminta kesepakatan dengan Pemprov DKI. Hari Rabu akan ada pembicaraan dengan Transjakarta," katanya kepada SINDOnews, Selasa 9 Mei 2017.
Sementara itu, Kadishub Kota Tangerang Saeful Rohman meminta Pemprov DKI Jakarta menghentikan uji coba bus Transjakarta, sampai ada kesepakatan meneruskan proyek elevated busway.
"Kami tadi sudah meminta kepada mereka agar uji coba ditunda. Sebab percuma kalau uji coba dilakukan, tapi rekayasanya belum ada. Sementara rekayasa belum kami buat," katanya.
Menurutnya, tanpa dibuat rekayasa jalan, uji coba bus TransJakarta hanya akan menambah kemacetan lalu lintas yang ada di kawasan Ciledug, dan wilayah perbatasan Kota Tangerang-DKI Jakarta.
"Kami belum mempersiapkan rekayasa lalu lintasnya, karena yang saya tahu operasionalnya 22 Juni. Makanya besok akan dirapatkan lagi jam 14.30 WIB, di kantor Kecamatan Ciledug," jelasnya.
Meski demikian, pihaknya mengaku tidak akan melarang apalagi menyetop uji coba bus TransJakarta jika tetap nekat memakai kawasan Puri Beta 2, dan CBD Ciledug untuk memutar sementara.
Pada hakekatnya, bus TransJakarta itu sangat membantu masyarakat. Terutama mereka yang bekerja di Jakarta dan ada di wilayah perbatasan Kota Tangerang.
"Kita sebetulnya mendukung program elevated busway ini, karena sangat menguntungkan masyarakat Ciledug dan sekitarnya. Cuma masalahnya harus dibuat rekasaya jalannya dulu," katanya.
Pihaknya mengaku, rekayasa jalan itu sebenarnya telah dibuat. Namun masih belum diberlakukan. Rekayasa itu, akan langsung dilakukan setelah ada perjanjian dengan Pemprov DKI Jakarta.
"Setidak-tidaknya sudah ada jaminan, walaupun belum bisa dilaksanakan proyeknya. Meski koridor tetap dijalankan, minimal ada kesepakatan elevated bus way dibangun sampai CBD," ungkapnya.
Menimpali polemik itu, Agus (42), tukang ojek pangkalan di depan Halte Adam Malik mengaku, dalam sehari bus TransJakarta yang diuji coba berjumlah 6-7 unit bus.
"Sejak Sabtu lalu hingga hari ini uji coba bus TransJakarta, kemacetan semakin parah di daerah ini. Apalagi, jika tidak ada pelebaran jalan. Malah tambah macet," timpalnya.
Menurutnya, pembangunan elevated bus way itu tidak sampai ke Ciledug. Sebab, pihak Pemprov DKI Jakarta telah melakukan komunikasi terkait dengan pembebasan lahan di Jalan Adam Malik.
"Kayaknya memang sampai di sini saja. Soalnya di Jalan Adam Malik, sudah dibuat tiang pancang untuk putaran bus TransJakarta. Orang-orang di situ sudah ditanya pembebasan lahan," katanya.
Namun, kata dia, hingga sekarang masih belum ada kesepakatan. Sebab, warga meminta harga tanah yang cukup besar, yakni Rp15 juta satu meter, dan dianggap terlalu mahal oleh pihak Pemprov DKI.
Tidak hanya itu, dalam uji coba tersebut bus Transjakarta juga memutar di kawasan Puri Beta 2, dan CBD Ciledug. Padahal, Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah dengan tegas melarangnya.
Larangan Arief ini sebenarnya mendasar. Sebab, pembangunan tahap pertama elevated bus way Koridor 13 rute Ciledug-Tendean harusnya sampai ke Ciledug. Namun, faktanya hanya sampai Cipulir.
Apalagi, uji coba tersebut dilakukan tanpa ada rekayasa jalan. Alhasil, kepadatan volume kendaraan di sepanjang Jalan Ciledug, dan perbatasan Tangerang-DKI menjadi semakin parah dari sebelumnya.
Menanggapi aksi koboi Pemprov DKI ini, Arief hanya bisa geleng-geleng kepala. Dengan sigap, pihaknya mendesak suatu pertemuan khusus untuk membahas masalah ini dengan Pemprov DKI Jakarta.
"Kita melalui Pak Saeful Kadishub sedang berkomunikasi meminta kesepakatan dengan Pemprov DKI. Hari Rabu akan ada pembicaraan dengan Transjakarta," katanya kepada SINDOnews, Selasa 9 Mei 2017.
Sementara itu, Kadishub Kota Tangerang Saeful Rohman meminta Pemprov DKI Jakarta menghentikan uji coba bus Transjakarta, sampai ada kesepakatan meneruskan proyek elevated busway.
"Kami tadi sudah meminta kepada mereka agar uji coba ditunda. Sebab percuma kalau uji coba dilakukan, tapi rekayasanya belum ada. Sementara rekayasa belum kami buat," katanya.
Menurutnya, tanpa dibuat rekayasa jalan, uji coba bus TransJakarta hanya akan menambah kemacetan lalu lintas yang ada di kawasan Ciledug, dan wilayah perbatasan Kota Tangerang-DKI Jakarta.
"Kami belum mempersiapkan rekayasa lalu lintasnya, karena yang saya tahu operasionalnya 22 Juni. Makanya besok akan dirapatkan lagi jam 14.30 WIB, di kantor Kecamatan Ciledug," jelasnya.
Meski demikian, pihaknya mengaku tidak akan melarang apalagi menyetop uji coba bus TransJakarta jika tetap nekat memakai kawasan Puri Beta 2, dan CBD Ciledug untuk memutar sementara.
Pada hakekatnya, bus TransJakarta itu sangat membantu masyarakat. Terutama mereka yang bekerja di Jakarta dan ada di wilayah perbatasan Kota Tangerang.
"Kita sebetulnya mendukung program elevated busway ini, karena sangat menguntungkan masyarakat Ciledug dan sekitarnya. Cuma masalahnya harus dibuat rekasaya jalannya dulu," katanya.
Pihaknya mengaku, rekayasa jalan itu sebenarnya telah dibuat. Namun masih belum diberlakukan. Rekayasa itu, akan langsung dilakukan setelah ada perjanjian dengan Pemprov DKI Jakarta.
"Setidak-tidaknya sudah ada jaminan, walaupun belum bisa dilaksanakan proyeknya. Meski koridor tetap dijalankan, minimal ada kesepakatan elevated bus way dibangun sampai CBD," ungkapnya.
Menimpali polemik itu, Agus (42), tukang ojek pangkalan di depan Halte Adam Malik mengaku, dalam sehari bus TransJakarta yang diuji coba berjumlah 6-7 unit bus.
"Sejak Sabtu lalu hingga hari ini uji coba bus TransJakarta, kemacetan semakin parah di daerah ini. Apalagi, jika tidak ada pelebaran jalan. Malah tambah macet," timpalnya.
Menurutnya, pembangunan elevated bus way itu tidak sampai ke Ciledug. Sebab, pihak Pemprov DKI Jakarta telah melakukan komunikasi terkait dengan pembebasan lahan di Jalan Adam Malik.
"Kayaknya memang sampai di sini saja. Soalnya di Jalan Adam Malik, sudah dibuat tiang pancang untuk putaran bus TransJakarta. Orang-orang di situ sudah ditanya pembebasan lahan," katanya.
Namun, kata dia, hingga sekarang masih belum ada kesepakatan. Sebab, warga meminta harga tanah yang cukup besar, yakni Rp15 juta satu meter, dan dianggap terlalu mahal oleh pihak Pemprov DKI.
(mhd)