Tamar Djaja, Aktivis Pergerakan dan Sastrawan Minangkabau

Minggu, 01 Januari 2017 - 05:00 WIB
A A A
Sejak menjabat chief editor, lanjut Fikrul Hanif, Tamar Djaja aktif menulis beberapa karya mulai dari sastra, politik, sejarah, yang kemudian menjadi acuan dari peneliti, di antaranya: Spion Perempuan (1940), Dari Desa ke Kota (1940), Sebabnya Saya Bahagia! (1940), Journalist Alamsjah (1940), Si Bachil (1941), Berontak!!! : Menentukan Nasib (1946), Trio Komunis Indonesia : Tan Malaka, Alimin, Semaoen (1946), Sejarah Pergerakan Politik Indonesia (1946), dan Pengertian Politik: Tata Negara (1946).

Pada tahun 1945, Tamar Djaja merangkap anggota dewan Generasi Pemuda Indonesia dan Ketua Humas dari Komite Nasional Indonesia (KNI). Pada tahun 1947, Tamar Djaja memimpin redaksi Genderang Sjahid, sebuah koran yang terbit sekali seminggu. Sejak dideklarasikannya Masyumi di Yogyakarta, Tamar Djaja diangkat sebagai ketua Humas untuk cabang Masyumi Sumatera Barat.

Selain itu, atas instruksi PB Masyumi, ia diserahi tugas sebagai editor kepala koran Berdjuang, terbit seminggu sekali.

Sejak tahun 1949, Tamar Djaja secara resmi menutup Penjiaran Ilmu, penerbitan yang pernah ia dirikan di Bukittinggi. Fikrul Hanif menduga ada beberapa faktor yang menyebabkan Tamar Djaja menutup penerbitannya.

Pertama, ditutupnya penerbit ini ada hubungannya dengan masa Agresi Belanda II, yang menyebabkan situasi Bukittinggi dan daerah di sekitarnya dalam situasi darurat perang. Kedua, seluruh tokoh yang terlibat aktif dalam perusahaan penerbitan, termasuk Tamar Djaja, ikut serta dalam rombongan petinggi Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) menuju pedalaman Sumatera Barat.

Pasca-PDRI dan penyerahan kedaulatan melalui Konferensi Meja Bundar, Tamar Djaja kembali aktif dalam dunia politik dan jurnalistik. O.G Roeder (1971) menulis, pada tahun 1950 Tamar Djaja hijrah ke Jakarta.

Pada awal tahun 1950, Tamar Djaja diserahi tugas sebagai Kepala Pusat Informasi dari Masyumi. Selain itu, berkat kepiawaiannya dalam memimpin perusahaan pers, Tamar Djaja ditunjuk sebagai Pimred Suara Masyumi dan Kursus Politik.

Pada tahun 1953, selain bertugas sebagai pengurus Masyumi dan memimpin dua media pers dari Partai Masjumi, Tamar Djaja masuk dalam struktur birokrasi pemerintahan. Selanjutnya, menurut Fikrul Hanif, Tamar Djaja diserahi tugas untuk kepala Seksi Publikasi Departemen Agama di 1953-1956, menjadi anggota dewan redaksi Aliran Islam (Bandung) pada tahun 1956, Al Islam (Medan) pada tahun 1953, dan Anti-Komunis (Jakarta) pada tahun 1956.

Dedikasi tinggi yang ditunjukkan Tamar Djaja dalam mengembangkan media pers yang diamanahkan kepadanya, rupanya tidak menyurutkan langkah bapak delapan orang anak ini, ketika ditunjuk sebagai chief editor majalah Daulah Islamiyah yang diterbitkan di Jakarta tahun 1956.

Menurut O.G Roeder, pada tahun 1957 Tamar Djaja terlibat dalam perdebatan panas dengan Deliar Noer dalam kolom surat kabar Adabi. Dalam tulisannya, menurut Fikrul Hanif (2013), Tamar Djaja membantah Boedi Oetomo sebagai tonggak awal pergerakan nasional. Tamar Djaja berpendapat, seharusnya Sarekat Islam yang didirikan pada tanggal 16 Oktober 1905 menjadi tolok ukur Hari Kebangkitan Nasional.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1201 seconds (10.101#12.26)