Gunakan Pisau, Pengamat Ini Mengaku Janggal Pospol Diserang ISIS

Jum'at, 21 Oktober 2016 - 07:19 WIB
Gunakan Pisau, Pengamat...
Gunakan Pisau, Pengamat Ini Mengaku Janggal Pospol Diserang ISIS
A A A
DEPOK - Peneliti Terorisme dari Universitas Indonesia (UI) Heru Susetyo menilai, ada tiga kemungkinan di balik penyerangan yang terjadi di pospol Cikokol, Tangerang.

Pertama, kasus ini memang ada kaitannya dengan gerakan ISIS. Kedua, aksi ini dilakukan oleh orang yang mengalami ganggun kejiwaan dan ketakutan berlebih terhadap institusi kepolisian. Ketiga, adanya pihak ketiga yang sengaja memelihara konflik untuk kepentingan tertentu.

"Dugannya memang lebih dekat pada keterkaitan dengan ISIS. Hal ini masuk akal. Karena mungkin ada orang-orang yang marah dan tidak suka dengan polisi sehingga dijadikan sasaran," kata Heru yang juga Pengajar Viktimologi di Fakultas Hukum (FHUI), Depok, Kamis 20 Oktober 2016.

Namun dia menelisik ada hal janggal dalam penyerangan ini kalau memang dilakukan oleh jaringan ISIS. Pasalnya, penyerangan ini terkesan amatir dan tidak seperti yang sudah-sudah terjadi sebelumnya seperti di Thamrin, Cirebon maupun Surakarta.

"Pelakunya hanya satu orang dan menggunakan pisau. Ini agak aneh menurut saya kalau memang dilakukan oleh jaringan tersebut," katanya.

Dugaan lainnya adalah adanya pihak ketiga yang sengaja memelihara konflik demi keuntungan. Karena sampai saat ini ISIS masih dianggap isu menarik sehingga kemungkinan ada pihak yang memanfaatkannya.

"Keamanan ini dianggap sebagai sebuah bisnis. Kalau kita tidak aman maka ada pihak yang senang dan sengaja memelihara konflik. Entah tujuannya untuk memperbanyak anggaran atau untuk jual beli senjata," ungkapnya.

Yang jelas, kata Heru, tindakan ini bukanlah kriminal murni. Karena kalau kriminal murni maka pelakunya tidak akan menjadikan polisi sebagai sasaran. (Baca: Mabes Polri Dalami Dugaan SA sebagai Simpatisan ISIS)

"Kebetulan juga pelakunya bagian dari keluarga anggota kepolisiaan. Kelurga polisi tidak menjamin anak itu akan seperti orang tuanya, siapapun bisa terkontaminasi radikalisme. Semua bergantung dimana tempat dia bergaul dan diperalat oleh siapa," katanya.
(mhd)
Berita Terkait
Mahasiswa Gelar Aksi...
Mahasiswa Gelar Aksi Solidaritas Mengecam Terorisme
Konflik Berpotensi Jadi...
Konflik Berpotensi Jadi Pemicu Aksi Terorisme
Bos MI5: 31 Rencana...
Bos MI5: 31 Rencana Teror Tahap Akhir Digagalkan dalam 4 Tahun di Inggris
Resmi Ditahan, Munarman...
Resmi Ditahan, Munarman Kini Boleh Dikunjungi Kuasa Hukum
Cegah Terorisme, Masyarakat...
Cegah Terorisme, Masyarakat Harus Peka Lingkungan Sekitar
Moeldoko Minta Jangan...
Moeldoko Minta Jangan Pernah Lupakan Aksi Terorisme
Berita Terkini
516 Unit Layanan di...
516 Unit Layanan di Wilayah 3T, PNM Perluas Akses Pembiayaan bagi Masyarakat Prasejahtera
7 jam yang lalu
Pengirim Teror Bom di...
Pengirim Teror Bom di SDN Jaksel Ternyata Orang Tua Siswa, Sempat Jemput Anak usai Kirim Ancaman
7 jam yang lalu
Dua Proyek Sekolah Rakyat...
Dua Proyek Sekolah Rakyat Nindya Karya di Medan dan Kediri Capai 100 Persen
8 jam yang lalu
PINTU Kolaborasi dengan...
PINTU Kolaborasi dengan Universitas Paramadina Beri Edukasi Literasi Digital ke Warga Bekasi
8 jam yang lalu
Bakal Dihadiri 3.000...
Bakal Dihadiri 3.000 Peserta, Gus Ipul Ungkap Persiapan Muktamar ke-35 NU di Tambakberas
10 jam yang lalu
Generasi Muda NTB Didorong...
Generasi Muda NTB Didorong Jadi Agen Perubahan melalui Inovasi
11 jam yang lalu
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved