Saksi Ini Temukan Sejumlah Obat di Tas Jessica
Kamis, 18 Agustus 2016 - 23:26 WIB
Saksi Ini Temukan Sejumlah Obat di Tas Jessica
A
A
A
JAKARTA - Saksi ahli psikiatri forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Natalia Widiasih Raharjanti mengatakan, saat memeriksa Jessica Kumala Wongso dirinya sempat menemukan obat-obatan yang ditaruh terdakwa di dalam tas. Obat-obatan tersebut, kata dia, merupakan obat antidepresan.
"Saya bicara keilmuan psikiatri ya, ada orang mood karena depresi, ada orang ini gangguan neurokimia otak. Obat stabil dalam darah, setelah dua minggu penggunaan," jelas Natalia dalam sidang Jessica di PN Jakarta Pusat, Kamis (18/8/2016).
Natalia menjelaskan, obat-obatan yang berada di tas Jessica beragam, di antaranya yaitu sertraline dan pregabalin. Ia mengungkapkan, jika obat sertraline digunakan untuk obat anti depresi. Sedangkan obat pregabalin digunakan untuk gangguan mood dan emosi. "Kalau emosinya enggak stabil pake mood stabilizer," tambah Natalia.
Natalia juga membeberkan keanehan ucapan Jessica saat dirinya bekerja di New South Wales (NSW) Ambulance, Australia terhadap warga negeri kangguru bernama Kristie Louise Carter. Ketika itu, kata dia, Jessica Kumala Wongso merasa marah lantaran diperlakukan seperti pembunuh.
"Saat dirawat di Rumah Sakit (RS) Royal Prince Alfred, Jessica bilang pada dia (Kristie) 'para bangsat di rumah sakit ini, tidak mengizinkanku pulang. Mereka memperlakukanku seolah-olah saya pembunuh," jelasnya seraya menirukan ucapan Kristie.
Jessica juga dikatakan sempat menyebut bisa membunuh orang dengan mudah kalau memang ingin membunuh. "Kalau saya akan membunuh orang, saya tahu pasti caranya menggunakan pistol dan saya tahu dosis yang tepat," tambahnya.
Meski demikian, masih kata Natalia, Kristie tak tahu maksud ucapan Jessica seperti itu. Pascakeluar dari RS Royal Prince Alfred, Kristie juga menjawab kalau hubungannya dengan Jessica menjadi renggang.
"Saat ditanya maksudnya apa (berkata seperti itu), dia (Jessica) tidak bisa menjelaskan lebih lanjut," katanya.
"Saya bicara keilmuan psikiatri ya, ada orang mood karena depresi, ada orang ini gangguan neurokimia otak. Obat stabil dalam darah, setelah dua minggu penggunaan," jelas Natalia dalam sidang Jessica di PN Jakarta Pusat, Kamis (18/8/2016).
Natalia menjelaskan, obat-obatan yang berada di tas Jessica beragam, di antaranya yaitu sertraline dan pregabalin. Ia mengungkapkan, jika obat sertraline digunakan untuk obat anti depresi. Sedangkan obat pregabalin digunakan untuk gangguan mood dan emosi. "Kalau emosinya enggak stabil pake mood stabilizer," tambah Natalia.
Natalia juga membeberkan keanehan ucapan Jessica saat dirinya bekerja di New South Wales (NSW) Ambulance, Australia terhadap warga negeri kangguru bernama Kristie Louise Carter. Ketika itu, kata dia, Jessica Kumala Wongso merasa marah lantaran diperlakukan seperti pembunuh.
"Saat dirawat di Rumah Sakit (RS) Royal Prince Alfred, Jessica bilang pada dia (Kristie) 'para bangsat di rumah sakit ini, tidak mengizinkanku pulang. Mereka memperlakukanku seolah-olah saya pembunuh," jelasnya seraya menirukan ucapan Kristie.
Jessica juga dikatakan sempat menyebut bisa membunuh orang dengan mudah kalau memang ingin membunuh. "Kalau saya akan membunuh orang, saya tahu pasti caranya menggunakan pistol dan saya tahu dosis yang tepat," tambahnya.
Meski demikian, masih kata Natalia, Kristie tak tahu maksud ucapan Jessica seperti itu. Pascakeluar dari RS Royal Prince Alfred, Kristie juga menjawab kalau hubungannya dengan Jessica menjadi renggang.
"Saat ditanya maksudnya apa (berkata seperti itu), dia (Jessica) tidak bisa menjelaskan lebih lanjut," katanya.
(mhd)