Tolong! Balita 10 Bulan Ususnya Terburai Butuh Bantuan
Selasa, 31 Mei 2016 - 13:36 WIB
Tolong! Balita 10 Bulan Ususnya Terburai Butuh Bantuan
A
A
A
SERANG - Pelangi Jingga, balita berumur 10 bulan, hanya bisa menangis digendongan sang ayah di rumah kontrakannya, kampung Ciawi, RT 05/13, Kelurahan Cipare, Kecamatan Serang, Kota Serang, Banten.
Tubuh mungilnya berbeda dengan balita perempuan normal seusianya. Usus yang harusnya berada di dalam tubuh, malah berada di luar, tanpa ada perawatan layaknya.
Anak pertama pasangan Eman dan Nani ini sewaktu lahir tubuhnya normal dan sehat. Namun pada usia dua bulan, keanehan muncul dan badannya mengalami panas tinggi. Prutnya terus membesar dan keras.
"Awalnya dibawa kebidan, bidan angkat tangan, saya bawa ke RSUD Banten," ujar Eman, ditemui di rumah kontrakannya, Selasa (31/5/2016).
Saat berada di rumah sakit, pihak dokter menyarankan agar dilakukan operasi, karena ada kelainan di ususnya, sehingga pencernaannya terhambat. Pihak keluarga pun menuruti perintah sang dokter.
"Dua kali dioperasi. Dibekas operasi mengalami kebocoran, ketiga kalinya, dokter menyarankan agar ususnya dikeluarkan. Itu juga sempat koma di dalam inkubator," terang Eman.
Eman yang sehari-hari berkerja sebagai buruh serabutan ini, akhirnya tak mampu membiayai biaya perawatan, dan pengobatan anaknya. Apalagi, dia tak mempunyai kartu BPJS Kesehatan. Sejak umur dua bulan, Pelangi hanya dirawat seadanya di rumah.
"Buat beli susu saja susah, kalau enggak ada susunya dikasih air putih biasa. Biaya berobatnya mahal, saya sudah enggak sanggup," keluhnya.
Saat ini, orangtua hanya bisa pasrah dan menunggu dermawan yang dapat membiayai biaya pengobatan anak kesayangannya itu. "Pemerintah belum ada yang bantu, kalau dapat uang juga buat beli susu, enggak bisa bawa ke rumah sakit," ungkapnya.
Tubuh mungilnya berbeda dengan balita perempuan normal seusianya. Usus yang harusnya berada di dalam tubuh, malah berada di luar, tanpa ada perawatan layaknya.
Anak pertama pasangan Eman dan Nani ini sewaktu lahir tubuhnya normal dan sehat. Namun pada usia dua bulan, keanehan muncul dan badannya mengalami panas tinggi. Prutnya terus membesar dan keras.
"Awalnya dibawa kebidan, bidan angkat tangan, saya bawa ke RSUD Banten," ujar Eman, ditemui di rumah kontrakannya, Selasa (31/5/2016).
Saat berada di rumah sakit, pihak dokter menyarankan agar dilakukan operasi, karena ada kelainan di ususnya, sehingga pencernaannya terhambat. Pihak keluarga pun menuruti perintah sang dokter.
"Dua kali dioperasi. Dibekas operasi mengalami kebocoran, ketiga kalinya, dokter menyarankan agar ususnya dikeluarkan. Itu juga sempat koma di dalam inkubator," terang Eman.
Eman yang sehari-hari berkerja sebagai buruh serabutan ini, akhirnya tak mampu membiayai biaya perawatan, dan pengobatan anaknya. Apalagi, dia tak mempunyai kartu BPJS Kesehatan. Sejak umur dua bulan, Pelangi hanya dirawat seadanya di rumah.
"Buat beli susu saja susah, kalau enggak ada susunya dikasih air putih biasa. Biaya berobatnya mahal, saya sudah enggak sanggup," keluhnya.
Saat ini, orangtua hanya bisa pasrah dan menunggu dermawan yang dapat membiayai biaya pengobatan anak kesayangannya itu. "Pemerintah belum ada yang bantu, kalau dapat uang juga buat beli susu, enggak bisa bawa ke rumah sakit," ungkapnya.
(san)