Ini Solusi Atasi Kisruh Sampah dengan Bekasi
Kamis, 05 November 2015 - 13:03 WIB
Ini Solusi Atasi Kisruh Sampah dengan Bekasi
A
A
A
JAKARTA - Pengamat Tata Kota Nirwono Joga dari Universitas Trisakti mengatakan mengolah sampah dari sumbernya merupakan solusi jitu hadapi lonjakan volume sampah di DKI Jakarta.
“Dari pemisahan sampah rumah tangga, mengolahnya dan memasarkan bisa mengurangi produksi sampah rumah tangga yang ada di Jakarta,” kata Joga saat dihubungi Sindonews, Kamis (5/11/2015).
Joga juga memaparkan manfaat lain dari pengolahan sampah tersebut diantaranya masalah lahan. Pengolahan sampah dari sumbernya dengan rangkain prosesnya, menyebabkan jumlah sampah yang dibuang ke Bantar Gebang berkurang. Lahan pun tidak terlalu banyak digunakan untuk membuat penampungan sampah.
“Selanjutnya masalah truk sampah, nantinya tidak perlu lagi menggunakan truk sampah dengan kapasitas besar untuk mengangkut. Hal ini karena jumlahnya kan sudah berkurang tadi karena diproses itu,” tambahnya. (Baca: Disentil Yusril, Ini Jawaban Ahok)
Truk sampah sering menjadi kendala tersendiri, lanjut Joga, dari sekitar 840 truk sampah, yang beroperasi hanya 140 unit, sedangkan 700 unit lainnya tidak layak jalan dan 50 persen nya berusia lebih dari 10 tahun.
“Manfaat yang terpenting adalah, dengan adanya pengolahan sampah dari sumbernya, warga DKI seperti ibu-ibu PKK, para PHL memiliki bekal wirausaha. Di sana ekonomi kreatif bisa tumbuh dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.
Saat ditanya mengenai keefektifan program bank sampah, Joga menjawab, bank sampah belum bisa menyelesaikan kasus sampah itu secara tuntas hanya sebagian saja.
”Jadi bank sampah itu belum menyelesaikan masalah. Dia itu hanya menampung, menimbang kemudian merupiahkan. Tarulah plastik ditimbang, orang yang tadi menimbang dapat dana sekian, untung gak? Untung, tapi sampah plastik tidak selesai pengolahannya masih melibatkan pihak lainnya,” terangnya.
Pada intinya Joga menyarankan kepada Ahok sebagai Gubernur DKI dalam mengatasi masalah sampah jangan hanya fokus dengan dinas kebersihan saja, namun hendaknya dinas-dinas lainnya juga bisa diajak bekerjasama agar mendapat solusi terbaik.
Joga juga memberikan contoh kota Amsterdam di Belanda yang kini tempat pembuangan akhir sampahnya sepi bahkan tutup lantarana warganya sudah bisa mengelola sampahnya sendiri.
“Intinya selesaikan masalah sampah dari sumbernya. Seperti Amsterdam, disana itu tempat pembuangan akhirnya sepi bahkan sudah berubah menjadi kawasan terpadu bagi warganya. Itu karena mereka sudah bisa mengolah sampah rumah tangganya sendiri,” tutupnya.
PILIHAN:
Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Ini Respon Ahok
Oknum TNI Tembak Mati Japra, Ini Perintah Pangkostrad
“Dari pemisahan sampah rumah tangga, mengolahnya dan memasarkan bisa mengurangi produksi sampah rumah tangga yang ada di Jakarta,” kata Joga saat dihubungi Sindonews, Kamis (5/11/2015).
Joga juga memaparkan manfaat lain dari pengolahan sampah tersebut diantaranya masalah lahan. Pengolahan sampah dari sumbernya dengan rangkain prosesnya, menyebabkan jumlah sampah yang dibuang ke Bantar Gebang berkurang. Lahan pun tidak terlalu banyak digunakan untuk membuat penampungan sampah.
“Selanjutnya masalah truk sampah, nantinya tidak perlu lagi menggunakan truk sampah dengan kapasitas besar untuk mengangkut. Hal ini karena jumlahnya kan sudah berkurang tadi karena diproses itu,” tambahnya. (Baca: Disentil Yusril, Ini Jawaban Ahok)
Truk sampah sering menjadi kendala tersendiri, lanjut Joga, dari sekitar 840 truk sampah, yang beroperasi hanya 140 unit, sedangkan 700 unit lainnya tidak layak jalan dan 50 persen nya berusia lebih dari 10 tahun.
“Manfaat yang terpenting adalah, dengan adanya pengolahan sampah dari sumbernya, warga DKI seperti ibu-ibu PKK, para PHL memiliki bekal wirausaha. Di sana ekonomi kreatif bisa tumbuh dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.
Saat ditanya mengenai keefektifan program bank sampah, Joga menjawab, bank sampah belum bisa menyelesaikan kasus sampah itu secara tuntas hanya sebagian saja.
”Jadi bank sampah itu belum menyelesaikan masalah. Dia itu hanya menampung, menimbang kemudian merupiahkan. Tarulah plastik ditimbang, orang yang tadi menimbang dapat dana sekian, untung gak? Untung, tapi sampah plastik tidak selesai pengolahannya masih melibatkan pihak lainnya,” terangnya.
Pada intinya Joga menyarankan kepada Ahok sebagai Gubernur DKI dalam mengatasi masalah sampah jangan hanya fokus dengan dinas kebersihan saja, namun hendaknya dinas-dinas lainnya juga bisa diajak bekerjasama agar mendapat solusi terbaik.
Joga juga memberikan contoh kota Amsterdam di Belanda yang kini tempat pembuangan akhir sampahnya sepi bahkan tutup lantarana warganya sudah bisa mengelola sampahnya sendiri.
“Intinya selesaikan masalah sampah dari sumbernya. Seperti Amsterdam, disana itu tempat pembuangan akhirnya sepi bahkan sudah berubah menjadi kawasan terpadu bagi warganya. Itu karena mereka sudah bisa mengolah sampah rumah tangganya sendiri,” tutupnya.
PILIHAN:
Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Ini Respon Ahok
Oknum TNI Tembak Mati Japra, Ini Perintah Pangkostrad
(ysw)