BNPT Dicecar Komisi III Soal ISIS dan Jaringan Poso
Selasa, 15 September 2015 - 09:58 WIB
BNPT Dicecar Komisi III Soal ISIS dan Jaringan Poso
A
A
A
JAKARTA - Guna membahas rencana anggaran 2016 Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggelar rapat dengar pendapat bersama komisi III DPR.
Namun dalam rapat yang dipimpin Ketua Komisi III M Azis Syamsuddin ini sejumlah anggota Komisi III mencecar Saud soal penanganan terorisme yang dilakukan BNPT.
Terutama terkait gerakan radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dan jaringan teroris Santoso serta Daeng Koro di Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng).
Anggota Komisi III Fraksi Partai Golkar Wenny mempertanyakan korelasi peningkatan anggaran BNPT dengan prestasi BNPT sepanjang 2015 dan terbosan-terobosan yang akan dilakukan BNPT, terutama dalam memenuhi fungsi pencegahan, deradikalisasi, penegakan hukum, dan kerjasama baik nasional maupun internasional.
"Ketiga, bagaimana pola pencegahan terkait radikalisme terutama dari kelompok ISIS? Keempat, kenapa masalah poso selalu terjadi, bagaimana penanganannya," ujar Wenny.
Semetara Taufiqulhadi dari Fraksi Nasdem menyatakan, fraksinya tidak keberatan bila anggaran BNPT ditambah.
Tapi ada yang masih perlu dipertanyakan. Pertama, kenapa sampai sekarang masalah Poso selalu terjadi padahal Polisi dan TNI menurunkan pasukann yang cukup besar.
Dia melihat, pertanyaan itu perlu diutarakan karena ada kecurigaan masyarakat bahwa ketidakberhasilan adalah kesengajaan. Atau dengan kata lain penanganan terorisme di Poso adalah sebuah proyek.
"Jadi ini mohon sedikit penjelasan. Apakah benar Santoso itu berwujud tokoh nyata atau sekedar tokoh fiktif? Ini masyarakat (bertanya)," tegas Taufiq.
Namun dalam rapat yang dipimpin Ketua Komisi III M Azis Syamsuddin ini sejumlah anggota Komisi III mencecar Saud soal penanganan terorisme yang dilakukan BNPT.
Terutama terkait gerakan radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dan jaringan teroris Santoso serta Daeng Koro di Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng).
Anggota Komisi III Fraksi Partai Golkar Wenny mempertanyakan korelasi peningkatan anggaran BNPT dengan prestasi BNPT sepanjang 2015 dan terbosan-terobosan yang akan dilakukan BNPT, terutama dalam memenuhi fungsi pencegahan, deradikalisasi, penegakan hukum, dan kerjasama baik nasional maupun internasional.
"Ketiga, bagaimana pola pencegahan terkait radikalisme terutama dari kelompok ISIS? Keempat, kenapa masalah poso selalu terjadi, bagaimana penanganannya," ujar Wenny.
Semetara Taufiqulhadi dari Fraksi Nasdem menyatakan, fraksinya tidak keberatan bila anggaran BNPT ditambah.
Tapi ada yang masih perlu dipertanyakan. Pertama, kenapa sampai sekarang masalah Poso selalu terjadi padahal Polisi dan TNI menurunkan pasukann yang cukup besar.
Dia melihat, pertanyaan itu perlu diutarakan karena ada kecurigaan masyarakat bahwa ketidakberhasilan adalah kesengajaan. Atau dengan kata lain penanganan terorisme di Poso adalah sebuah proyek.
"Jadi ini mohon sedikit penjelasan. Apakah benar Santoso itu berwujud tokoh nyata atau sekedar tokoh fiktif? Ini masyarakat (bertanya)," tegas Taufiq.
(nag)