Paentengi Siri’nu

Senin, 19 Maret 2018 - 09:28 WIB
Paentengi Siri’nu
Foto : Istimewa
A A A
Penulis : Andi Ilham Said
Ketua Pembina IICD
(Indonesian Institute for Corporate Directorship)

SIRI adalah bagian inti dan sakral dari adat dan budaya yang secara umum membentuk pribadi orang Bugis Makassar, termasuk dalam diri pemimpin-pemimpin yang lahir dari tanah Bugis Makassar.

Budaya ini tertanam sangat dalam, sehingga membentuk prinsip hidup yang terjawantahkan dalam bentuk perilaku, sudut pandang, dan karakter, ketika berinteraksi dengan orang lain, teman sejawat, atasan maupun dengan bawahan. Inilah yang menjadikan tampilan pemimpin dari Bugis Makassar di pentas nasional, selalu memiliki aura kewibawaan dan ketegasan.

Ciri pemimpin yang selalu berprinsip Paentengi Siri’nu (tegakkan rasa malumu) akan tertampilkan sebagai pemimpin yang berintegritas, cerdas, inovatif, dan berani. Prinsip hidup ini bila dipraktekkan dengan konsisten akan terlihat dari tampakan ketokohan di masyarakat dimana pun dia berada.

Bisa diterima di semua kalangan karena selalu amanah, dalam bahasa Bugis disebutkan sebagai Taro Ada Tara Gau (lakukan apa yang kamu katakan) yang berarti integritas tinggi. Lari dari medan perang adalah hal yang paling ditakutkan oleh perajurit-perajurit Bugis Makassar. Apalagi bersifat khianat dan tidak amanah. Hukuman sosial akan sangat berat dan bisa diderita seumur hidup. Kehilangan wibawa membuat kehilangan segala-galanya.

Kenapa cerdas? Salah satu bentuk situasi yang bisa berujung dipermalukan (Siri) adalah gagal melaksanakan amanah. Ketakutan gagal ini menjadi pendorong utama untuk selalu mempersiapkan diri dengan baik. Fail to plan (gagal membuat rencana) sama dengan plan to fail (merencankan kegagalan). Melatih diri, mencerdaskan diri dengan pengetahuan dan keterampilan adalah hal yang wajib dilakukan sebelum menghadapi perjuangan sesungguhnya.

Sejarah membuktikan, banyak putra Bugis Makassar yang maju berkiprah di tingkat nasional diakui kecerdasannya dalam pengambilan keputusan dan menghadapi masalah, sebut saja, Presiden RI ke 3 Prof BJ Habibie, Wakil Presiden RI 2 kali, Bapak Yusuf Kalla, dan Bapak Tanri Abeng. Mereka adalah pembelajar cepat, sehingg ditempatkan dalam posisi apapun selalu siap, ditanya dengan pertanyaan apapun selalu dapat menjawab dengan tepat, dan dihadapkan dengan berbagai masalah pelik sekalipun, selalu dapat mengeluarkan solusi yang cerdas dan inovatif. Kecerdasan akan berujung pada ide-ide segar yang tidak terpikirkan oleh orang lain sehingga melahirkan program-program terobosan yang inovatif.

Berani adalah bentuk perlawanan terhadap rasa takut. Terlihat penakut adalah sifat yang sangat dihindari seorang satria yang tidak ingin dipermalukan dan selalu menegakkan rasa malu di depan publik. Seorang pemberani biasanya, bukanlah seorang yang berpikiran nekat seperti prinsip eja tompi na doang (merah itulah udang, maksudnya udang yang sudah direbus) harus dihindari karena berarti nekat maju tanpa persiapan.

Mengusir rasa takut bukan dengan mengatakan Takkalami (apa boleh buat) maju terus pantang mundur, sekali layar terkembanga pantang surut ke pantai, melainkan haruslah disikapi dengan persiapan matang. Rasa takut berbanding langsung dengan ketidaktahuan. Tidak tahu terhadap situasi dan risiko yang akan dihadapi akan berujung pada ketakutan untuk masuk dalam situasi tersebut. Padahal, antara risiko dengan manfaat hukum alamnya adalah seirama. Dibalik risiko yang besar terdapat manfaat yang besar demikian sebaliknya. Maka, selalu ingin tahu adalah kuncinya.

Sebelum takut, maka pelajari, pahami, dan antisipasi. Dengan begitu lebih siap dan lebih berani menghadapi bahkan situasi terburuk sekalipun. Pemimpin pemberani sudah selesai dengan dirinya sendiri, sehingga siap melindungi dan memimpin, orang lainpun bisa memberikan amanah kepadanya. Kita mengenal Pangliman TNI yang paling kharismatik adalah putra bugis makassar Bapak Jenderal M. Yusuf. Beliau selalu tampil orisinil, berani berbicara apa adanya, namun selalu bertindak amanah dan melindungi, sehingga sangat disayangi oleh prajuritnya. Beliau tidak hanya ditakuti dalam peperangan tapi juga dihormati dan ditauladani oleh lawannya sekalipun.

Dalam sejarah, tercatat bagaimana seorang M Yusuf dengan gagah berani bertemu dengan Kahar Mudzakkar, di tengah hutan seorang diri tanpa ditemani prajuritnya. Mereka berdua berpelukan sebagai kawan lama, berunding secara professional, berpisah secara kesatria karena tidak terjadi kesepakatan.
(agn)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Kaum Disabilitas Vs...
Kaum Disabilitas Vs Kaum OJOL
Larangan Mudik untuk...
Larangan Mudik untuk Keselamatan Publik
Korona Hadiah Terbesar...
Korona Hadiah Terbesar di Hari Kesehatan Dunia
Berita Terkini
Passing Grade Terbaik...
Passing Grade Terbaik se-Kediri, Mas Dhito Antar Siswa Boarding School Masuk PT
7 menit yang lalu
4 Upaya Penyelundupan...
4 Upaya Penyelundupan Narkoba ke Lapas dan Rutan Salemba Digagalkan, Disembunyikan di Organ Intim hingga Botol Obat
13 menit yang lalu
BMKG Pantau Potensi...
BMKG Pantau Potensi Likuefaksi usai Gempa Besar M6,7 di Palu Sulteng
2 jam yang lalu
Gempa M6,7 di Palu Sulteng...
Gempa M6,7 di Palu Sulteng Akibat Aktivitas Sesar Sausu, bukan Palu-Koro yang Legendaris
3 jam yang lalu
Beri Layanan Kesehatan...
Beri Layanan Kesehatan Korban Banjir Aceh, USK Inisiasi Program Pengabdian Masyarakat
3 jam yang lalu
Kisah Mas Rushh Bangun...
Kisah Mas Rushh Bangun Personal Branding lewat Konten Keluarga
3 jam yang lalu
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved