Pedagang Hi Tech Mall Berharap Bisa Tetap Berjualan
Senin, 08 Oktober 2018 - 12:37 WIB
Suasana sepi sangat terasa di Hi Tech Mall Surabaya. Sebagian besar pemilik gerai memilih menutup gerainya, seiring rencana Pemkot Surabaya yang akan menjadikan tempat itu sebagai pusat kesenian. Foto/SINDONews/Aan Haryono
A
A
A
Para pedagang produk teknologi informasi (TI) di Hi Tech Mall, Kota Surabaya, berharap masih bisa berjualan di gedung yang ada di Jalan Kusuma Bangsa tersebut.
Rencana pemerintah kota (Pemkot) Surabaya, untuk menjadikan Hi Tech Mall sebagai pusat kesenian di Kota Pahlawan, memicu kerasaan di antara para pedagang.
"Semua orang di Jawa Timur, sudah mengenal kalau Hi Tech Mall itu pusatnya TI. Bahkan, mereka yang di luar pulau Jawa sering berbelanja di sini," ujar Liandari, salah satu penjual produk TI di lantai III Hi Tech Mall Surabaya, Senin (8/10/2018).
Ia melanjutkan, pihaknya tidak keberatan kalau memang gedung ini diambil alih oleh pemkot. Demikian juga dengan rencana mereka untuk mengubah peruntukan gedung, menjadi pusat kesenian.
"Tapi kan banyak ruang yang kosong. Jadi biarkan saja para pedagang tetap berjualan, kalau kesenian bisa ditempatkan di lantai atas," jelasnya.
Beberapa toko TI di Hi Tech Mall, memang sudah banyak yang tutup. Mereka mengemasi barang dagangan dan membiarkan tokonya tutup. Para pengunjung juga terlihat mulai sepi dari hari-hari sebelumnya.
Tenant-tenant yang sudah banyak tutup berada di lantai dasar, lantai satu, lantai dua dan lantai tiga. Bahkan, para penjual di lorong lantai, yang biasanya penuh dengan pedagang aksesoris ponsel, dan laptop juga tak lagi terlihat.
Beberapa tenant TI yang masih tersisa, memilih melakukan cuci gudang dengan mengobral barang dagangannya dengan harga yang murah. Mereka tetap bersiap diri ketika sewaktu-waktu sudah disuruh pindah.
"Biar barang yang tersisa cepat laku. Makanya kami berikan harga yang murah untuk cuci gudang," kata Hartoko, pedagang TI lainnya.
Rencana pemerintah kota (Pemkot) Surabaya, untuk menjadikan Hi Tech Mall sebagai pusat kesenian di Kota Pahlawan, memicu kerasaan di antara para pedagang.
"Semua orang di Jawa Timur, sudah mengenal kalau Hi Tech Mall itu pusatnya TI. Bahkan, mereka yang di luar pulau Jawa sering berbelanja di sini," ujar Liandari, salah satu penjual produk TI di lantai III Hi Tech Mall Surabaya, Senin (8/10/2018).
Ia melanjutkan, pihaknya tidak keberatan kalau memang gedung ini diambil alih oleh pemkot. Demikian juga dengan rencana mereka untuk mengubah peruntukan gedung, menjadi pusat kesenian.
"Tapi kan banyak ruang yang kosong. Jadi biarkan saja para pedagang tetap berjualan, kalau kesenian bisa ditempatkan di lantai atas," jelasnya.
Beberapa toko TI di Hi Tech Mall, memang sudah banyak yang tutup. Mereka mengemasi barang dagangan dan membiarkan tokonya tutup. Para pengunjung juga terlihat mulai sepi dari hari-hari sebelumnya.
Tenant-tenant yang sudah banyak tutup berada di lantai dasar, lantai satu, lantai dua dan lantai tiga. Bahkan, para penjual di lorong lantai, yang biasanya penuh dengan pedagang aksesoris ponsel, dan laptop juga tak lagi terlihat.
Beberapa tenant TI yang masih tersisa, memilih melakukan cuci gudang dengan mengobral barang dagangannya dengan harga yang murah. Mereka tetap bersiap diri ketika sewaktu-waktu sudah disuruh pindah.
"Biar barang yang tersisa cepat laku. Makanya kami berikan harga yang murah untuk cuci gudang," kata Hartoko, pedagang TI lainnya.
(eyt)