Keterangan Dua Saksi Ahli Ringankan Vanessa Angel

loading...
Keterangan Dua Saksi Ahli Ringankan Vanessa Angel
Dua saksi ahli yang dihadirkan dalam sidang di PN Surabaya meringankan Vanessa Angel.Foto/SINDONews/Lukman Hakim
SURABAYA - Sidang kasus dugaan penyebaran konten asusila dengan terdakwa Vanessa Angel memasuki agenda pemeriksaan saksi ahli. Dua saksi ahli yang dihadirkan tim kuasa hukum terdakwa dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (10/6/2019) meringankan artis tersebut.

Dua ahli hukum yang dihadirkan pada sidang yang digelar di ruang Garuda 1 tersebut adalah Ahmad Yulianto, ahli hukum pidana dan Rahmat Dwi Putranto, ahli ITE yang keduanya berasal dari Sekolah Tinggi Ilmu Hukum IBLAM Jakarta.

"Dari keterangan ahli pidana disebutkan, jika mau diterapkan UU ITE, harus diterapkan pidana pokoknya, dalam hal ini prostitusi. Mestinya prostitusinya dibuktikan dulu ada atau tidak. Kalau tidak ada, maka tidak bisa diterapkan ITE-nya," terang kuasa hukum Vanessa Angel, Milano Lubis.

Milano menambahkan, dalam kasus Vanessa ini, saksi ahli ITE menerangkan bahwa percakapan Vanessa adalah ranah pribadi atau privat. Jadi, tadi kalau majelis hakim bertanya apakah chat yang ada di handphone Vanessa itu yang dijadikan barang bukti oleh penyidik.



Apakah itu bisa? Ya itu bisa pakai untuk sebagai petunjuk saja, tidak bisa dijadikan alat bukti. "Apalagi kalau ini chatnya hanya dua orang, nah itu chatnya mengarah ke privasi, itu tidak bisa di jadikan bukti," imbuhnya.

Atas pendapat dua ahli tersebut, Milano optimistis Vanessa Angel akan bebas. Ini karena tidak memenuhi unsur pidana yang didakwakan jaksa penuntut umum (JPU). "Kalau menurut saksi ahli (unsur pasal dalam dakwaan) tidak terpenuhi, karena harus yang utama dulu (unsur pidana), baru ke ITE itu bisa diterapkan. Jadi harusnya (Vanessa) bebas," pungkasnya.

Dalam perkara ini Vanessa Angel disangkakan melanggar pasal 27 ayat 1 UU ITE juncto Pasal 55 KUHP Juncto Pasal 296 KUHP. Diketahui, pada persidangan hari Rabu (24/4/2019), Vanessa didakwa telah melakukan penyebaran konten asusila. Dalam kasus ini, perempuan bernama asli Vanesza Adzania itu, melalui muncikari dianggap telah menunjukkan sisi sensualitas wanita lewat foto-foto.



“Perkara ini bermula saat terdakwa yang bekerja sebagai artis sedang mengalami sepi pekerjaan. Atas dasar tersebut, pada 12 Nopember 2018, terdakwa menghubungi saksi (muncikari) Endang Suhartini alias Siska, dengan tujuan minta pekerjaan,” kata JPU R.A Dhini Ardhani dalam dakwaan yang dia bacakan.
halaman ke-1 dari 2
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top