Guntur Cahyo Utomo Ditunjuk Jadi Direktur Akademi PSS Sleman

Rabu, 03 April 2019 - 14:50 WIB
Guntur Cahyo Utomo Ditunjuk Jadi Direktur Akademi PSS Sleman
PSS Sleman resmi menunjuk Guntur Cahyo Utomo sebagai Direktur Akademi. FOTO/PSS SLEMAN
A A A
JAKARTA - PSS Sleman resmi menunjuk Guntur Cahyo Utomo sebagai Direktur Akademi yang membawahi tim dalam tiga kelompok umur. Pembentukan Elite Pro Academy ini merupakan bagian dari kewajiban klub yang berlaga Liga 1 Indonesia.

Guntur menjelaskan, PSSI telah mewajibkan semua klub Liga 1 memiliki tim tiga kelompok umur, yakni U16, U18, U20. Aturan ini sejalan dengan komitmen PSS dalam pengembangan sepak bola sejak usia dini.

"PT. Putra Sleman Sembada, melalui PSS berkomitmen dengan pengembangan usia dini. Kenapa itu penting? kita menyiapkan cikal bakal pemain yang lebih baik untuk PSS maupun sepak bola Indonesia," katanya seperti dikutip dari situs resmi PSS Sleman, Rabu (3/4/2019).

Pengembangan pemain sepak bola usia dini dilakukan melalui tiga hal, yakni manajemen, latihan, dan kompetisi yang baik. Diharapkan dengan adanya direktorat ini, maka regenerasi pemain berkelanjutan dengan kualitas lebih baik.

Guntur mengungkapkan, regulasi PSSI mengenai Elite Pro Academy sangat detail dan berbasis data. Seluruh aktivitasnya, dari mulai cara berlatih dan bermain harus dilaporkan dalam bentuk dokumentasi.

"Hal ini sebagai bentuk standarisasi pengelolaan dan pelaksanaan Elite Pro Academy ini," katanya. (Baca juga: PSS Sleman Ingin Perbanyak Uji Tanding dengan Kontestan Liga 1 )

Regulasi ini dinilai cukup penting dan akan menguntungkan PSS yang secara rutin membutuhkan pemain. "Dan untuk tim nasional, kita bisa mentracking pemain melalui Elite Pro Academy yang terdokumentasi. Kita bisa mengakses informasi dari semua klub lain, sehingga semua saling terjalin," tuturnya.

Kesuksesan klub-klub Eropa, seperti Ajax Amsterdam, Barcelona, dan Manchester United dalam membangun akademi juga menjadi inspirasi tersendiri bagi Guntur dalam menjalankan akademi nantinya.

"Tentu saja kita berbicara ideal namun disesuaikan dengan konteks lokal, karena kita tidak mungkin seperti mereka dalam waktu dekat. Ada prinsip-prinsip dan benang merah yang bisa kita ambil dari mereka. Seperti filosofi dasar pembentukannya," ujarnya.
(amm)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
artikel/ rendering in 0.0951 seconds (10.177#12.26)