Dedi Mulyadi Geram Harga Produk Pertanian Jadi Kambing Hitam Inflasi

loading...
Dedi Mulyadi Geram Harga Produk Pertanian Jadi Kambing Hitam Inflasi
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi mengkritisi lembaga yang kerap menyebut harga produk pertanian sebagai penyebab inflasi. Foto/Dok.Dedi Mulyadi
BANDUNG - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI yang juga Ketua DPW Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi menunjukkan kekecewaannya menyusul anggapan lembaga yang kerap menyebutkan harga produk pertanian sebagai penyebab inflasi.

Stigma harga produk pertanian sebagai penyebab inflasi tersebut menurutnya kerap muncul saat menjelang bulan puasa (Ramadan) hingga Lebaran. Padahal, lanjut Dedi, banyak faktor penyebab inflasi, seperti kenaikan tarif transportasi hingga harga pakaian.

"Stigma itu menyebabkan produk pertanian sulit berkembang. Produk pertanian selalu menjadi kambing hitam inflasi, terutama menjelang bulan puasa," ujar Dedi melalui sambungan telepon selularnya, Senin (27/1/2020).

Dedi yang baru mengikuti Rapat Kerja Nasional Pertanian di Jakarta itu menilai, lembaga yang bersangkutan malah memberikan perlakuan berbeda pada harga baju maupun tarif transportasi yang naik saat menjelang puasa dengan tidak menyebutnya sebagai penyumbang utama inflasi.



"Kalau beli produk pertanian, semua ngomong inflasi. Ketika Lebaran, orang ribut ngomong harga cabai, bawang, kol, dan lainnya. Tetapi mereka tak pernah meributi harga baju naik, sepatu naik, sewa mobil naik, ataupun harga tiket naik," bebernya.

Dedi mengatakan, selain stigma penyebab inflasi, problem di dunia pertanian lainnya adalah daya dukung lingkungan yang menurun dan perubahan iklim. Bahkan, kerusakan hutan dan gunung, pencemaran sungai, serta menyempitnya areal pertanian juga menjadi persoalan lain yang dihadapi pertanian di Indonesia.

"Daya dukung sumber daya manusia (SDM) juga menjadi bagian dari problem pertanian. Minat usaha pertanian menurun karena sitgma negatif bahwa bertani itu kotor dan kumuh," katanya.



Selain itu, penurunan daya dukung masyarakat terhadap produk pertanian dimana masyarakat lebih menyukai produk pertanian impor dibandingkan membeli produk pertanian dalam negeri juga menjadi problem lainnya, termasuk perlakuan diskriminasi kebijakan untuk petani, seperti subsidi untuk petani yang disebut inefisiensi.
halaman ke-1 dari 2
TULIS KOMENTAR ANDA!
preload video
Top