Wasantara

Catatan dari perbatasan

Peran kerajaan Timor dalam mengusir penjajah

Jum'at,  11 Oktober 2013  −  07:17 WIB
Peran kerajaan Timor dalam mengusir penjajah
Ilustrasi (dok:Istimewa)

PERGERAKAN menuju sebuah bangsa hanya dilatari oleh latar belakang masa lalu. Sebagian Pulau Timor bagian timur dijajah Portugis pada abad ke 15. Sementara Pulau Timor bagian barat dikuasai koloni Belanda, warga terjajah menyebutnya kompeni.

Pulau Timor membentang dari ujung paling Timur Lospalos hingga ujung Pulau Rote. Pulau ini memiliki karakteristik yang sama, yakni bahasa. Baik dialektika, maupun tekanan intonasi bahasa yang digunakannya sama. Bahasa itu dinamakan "Dawan".

Kata dawan dalam kearifan lokal dimaknai sebagai orang Timor atau antonim Timor. Orang dawan banyak mendiami tanah Timor, termasuk Timor Leste. Lalu bagaimana ceritanya Pulau Timor bisa beda bangsa? Sinyal perbedaan itu sudah ada sejak abad ke-13 SM, ketika zaman kerajaan.

Pulau Timor memiliki dua kerajaan besar yang memiliki peran dalam mengusir penjajahan. Di Timor Timur terdapat Kerajaan Liurai. Sementara di Timor Barat diperintah Kerajaan Sonbai. Kedua raja tersebut masih memiliki hubungan persaudaraan. Batas kekuasaannya pun terbagi.

Liurai menguasai Timor wilayah timur (Timor Timur), Sonbay menguasai Timor bagian barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kesamaan lain adalah budaya. Di Pulau Timor, baik itu Timor Timur maupun NTT terkenal dengan tarian gong, dan tarian likurai. Dua tarian itu, kini menjadi potensi pariwisata yang sangat menarik.

Tarian ini dipersembahkan saat menerima tamu kehormatan atau pada saat upacara pesta perkawinan. Penyambutan mempelai selalu dilakukan dengan tarian ini. Beberapa pasang muda-mudi dengan pakaian tradisional menari dengan sangat indah. Lekukan tubuh diperagakan seirama dengan musik gong, maupun likurai.

Hentakan kaki dan liukan tubuh harus seirama dengan bunyi gong. Maka tidak semua pemuda Timor bisa menari gong maupun likurai. Kemeriahan dan kebersamaan yang dirajut masyarakat Pulau Timor, terpatri ketika pemerintah Indonesia ikut andil dalam menyatukan wilayah ini dalam sebuah misi yang bernama Deklarasi Balibo, pada Desember 1975.

Sejak itu, Timor Timur menjadi bagian dari NKRI. Keceriaan kebersamaan itu tidak bertahan lama. Pada tahun 1999, misi PBB yang bercokol di Timor Timur setelah tawaran referendum itu, di bawah organisasi internasional PBB, yaitu United Nations Mission in East Timor (UNAMET) menjaga perdamaian di sana sekaligus sebagai wasit untuk Timor Timur dalam menentukan masa depannya sendiri.

Karena mayoritas warga memilih untuk merdeka, maka UNAMET pun akhirnya diplesetkan menjadi Usaha Negara Asing Merdekakan Timor Timur. Sejak saat itu, awan kelabu seakan tidak mau enyah dari Bumi Lorosae yang terkenal dengan kopinya yang nikmat itu. Pertumpahan darah di mana-mana. Banyak anak terpaksa harus kehilangan orangtua dan menjadi yatim piatu.

Misi perdamaian PBB dalam menjaga Timor Timur pun gagal total, sebab tidak mampu membendung perang saudara yang terjadi pascapengumuman referendum Agustus 1999.

Indonesia sebenarnya berkesempatan mempertahankan provinsi terbungsu itu, jika saja tawaran Uskup Bello agar Timor Timur diberikan hak sebagai daerah otonomi khusus dikabulkan Pemerintah Indonesia. Mgr Bello yang menjadi Uskup Administrator Vatican di Dilli pernah mengusulkan pada 1996 kepada Presiden Soeharto agar Timor Timur dijadikan daerah otonomi khusus.

Soeharto menolak dengan alasan semua daerah harus diperlakukan sama. Sebagaimana kesamaan senasib dan sependeritaan ketika sama-sama mengusir penjajahan. Tiga tahun setelah usulan itu, Timor Timur berhasil melepaskan diri. Sayangnya bukan untuk otonomi khusus, tetapi menjadi sebuah bangsa tersendiri.


(san)

views: 2.036x
shadow