Pilkada

Politik dinasti di Pilwako Makassar merusak demokrasi

Kamis,  25 Juli 2013  −  23:35 WIB
Politik dinasti di Pilwako Makassar merusak demokrasi
Sejarawan dan Pengamat Politik Anhar Gonggong (Ist)

Sindonews.com - Kebebasan politik yang kebablasan ternyata banyak melahirkan aktor-aktor politik yang semata hanya berjuang demi kapitalisasi dan politik dinasti.

Meskipun, sebagian orang menyatakan tidak ada yang salah dengan politik dinasti sejauh figur yang muncul adalah mereka yang punya kapasitas, integritas dan kapabalitas. Namun, tidak sedikit juga yang meminta politik dinasti segera dihilangkan karena cenderung melahirkan pemimpin feodal, korup dan anti demokrasi.

Menurut Sejarawan dan Pengamat Politik Anhar Gonggong, politik dinasti merupakan warisan zaman kerajaan (monarchy) di mana titik kekuasaan hanya bertumpu di satu keluarga. Dan kekuasaan itu turun temurun mulai dari orangtua, anak, kakak, adik, ipar, dan seterusnya.

Di era demokrasi seperti saat ini, politik dinasti menjadi ancaman serius karena sharing power dan distribusi kekuasaan tersumbat. Dan itu yang mulai terlihat di Makassar dan Sulawesi Selatan (Sulsel).

”Politik dinasti sangat merusak sistem politik demokratis karena menghambat orang lain untuk berkiprah. Meskipun, tidak salah jika memang sosok yang muncul dari dinasti memiliki kemampuan leadership yang cakap dan mumpuni. Tapi jika sebaliknya, politik dinasti akan menjadi momok," ujarnya ketika dihubungi wartawan, Kamis (25/7/2013)

"Kecenderungannya akan menjadi politik transaksional yang hanya melahirkan pemimpin berkarakter feodal, korup dan anti demokrasi. Lampu kuning tanda bahaya terhadap politik dinasti telah muncul di Makassar dan Sulsel,” sambung Anhar.

Bahkan, Anhar Gonggong berani menyatakan bahwa keluarga besar Yasin Limpo di Sulsel adalah salah satu keluarga yang menjalankan politik dinasti. Penciptaan kultur dan warisan dinasti telah dimulai sejak lama dari sang ayah, Yasin Limpo.
”Di era orde baru, Ny Yasin Limpo telah menjadi anggota DPR berulang kali. Dan berikutnya adalah anaknya ada yang menjadi gubernur, bupati, anggota DPRD, kepala dinas, dan lainnya. Yang bisa menghentikan ini hanya kesadaran masyarakat untuk tidak memilih politik dinasti,” tegas Anhar.

Seperti diketahui, selain Syahrul Yasin Limpo yang kini menjadi gubernur Sulsel, sang adik bungsu Irman Yasin Limpo yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulsel kini maju dalam Pilkada Kota Makassar sebagai Calon Walikota.

Berikutnya ada Ichsan Yasin Limpo yang menjadi Bupati Gowa, Tenri Olle dan Haris di DPRD Sulsel dan Makassar. Sebelumnya, Adnan Purichta Ichsan juga duduk di DPRD Sulsel. Menariknya, Dewie Yasin Limpo sempat ingin maju di Pilwako Makassar. Namun, akhirnya mundur pelan-pelan.

Sementara, pengamat Politik Unhas Dr. Hasrullah menyatakan politik dinasti lebih banyak negatifnya dibanding positifnya. Terlebih, jika sosok dari dinasti tersebut tidak memiliki track record yang baik, seperti yang terjadi di Pilwako Makassar, yang hanya mengandalkan nama besar keluarga tanpa menunjukkan prestasi membanggakan.

”Bayangkan, jika kakaknya gubernur, adiknya bupati, anggota DPRD, dan ada juga yang mau maju sebagai walikota, ini kan tidak baik. Karena memang politik dinasti sudah pasti kontra demokrasi,” tegas Hasrullah.   

Kota Makassar, lanjut Hasrullah, adalah kota dunia. Sehingga sudah selayaknya dipimpin juga oleh sosok pemimpin yang kelas dan levelnya mendunia. Selain itu, juga sosok yang memiliki kemampuan leadership yang baik, pendidikan yang membanggakan dan selalu memberi teladan kepada rakyatnya.

”Untuk bisa melihat itu, calon-calon pemimpin ini harus melalui uji kelayakan di kampus, di depan akademisi. Dari sana bisa dilihat sejauh mana kapasitas kepemimpinan mereka. Dan, memang sudah saatnya politik dinasti segera dihentikan,” pungkas Hasrullah.



(kri)

views: 2.204x
shadow