Jawa Barat

Tiga faktor utama munculnya geng motor

Minggu,  19 Mei 2013  −  05:02 WIB
Tiga faktor utama munculnya geng motor
Ilustrasi (Dok Istimewa)

Sindonew.com - Geng motor menjadi sebuah momok baru bagi masyarakat di Indonesia, hari ini. Sejumlah kasus penganiayaan, perampokan, narkoba, dan seks bebas, adalah sederet catatan kecil kejahatan mereka untuk menebar teror di tengah masyarakat.

Tak pelak jika banyak masyarakat yang geram, dan menginginkan polisi untuk bertindak tegas memberantas aksi geng motor yang telah banyak meresahkan masyarakat.

Pada dasarnya, geng motor dimulai dari hanya sekedar kumpul-kumpul sesama pecinta motor. Kemudian bermetamorfosis menjadi geng yang beranggotakan puluhan, bahkan ratusan orang.

Di jalanan, mereka membentuk gaya hidup yang terkadang menyimpang dari kelaziman demi menancapkan identitas kelompok. Ngetrack, kebut-kebutan, dan tawuran, adalah upaya dalam pencarian identitas mereka.

Menurut Psikolog Reza Indragiri, ada tiga faktor utama munculnya sebuah geng motor. Pertama, faktor pendorong yaitu psikologi anak-anak muda yang senang bergerombol, dan membentuk geng karena memiliki kesamaan hobi.

"Kedua faktor penarik, dimana ruang atau kanal untuk menyalurkan hobi atau aktivitas anak-anak muda tersumbat. Sehingga, yang muncul adalah kegiatan yang destruktif, dan kontraproduktif dengan perkembangan psikologi remaja," jelasnya kepada Sindonews, Minggu (19/5/2013).

Ketiga, lanjut dia, adalah vakumnya hukum atau lambannya respon dari aparat  Kepolisian. Menurutnya, kemunculan geng motor tidak secara tiba-tiba. Namun, butuh waktu panjang untuk berproses, berkonsolidasi untuk menjadi sebuah kelompok yang eksis.

"Jika saja polisi bersikap tegas sejak awal, keberadaan geng motor tidak akan mengkhawatirkan," jelasnya.

Hal itu menurutnya diperparah dengan respon hukum yang lambat. Ia mencontohkan bentuk kelambanan aparat, geng motor melakukan aksinya malam hari seperti kebut-kebutan namun tidak ada petugas.

Ia bahkan menuding Polisi hanya tertarik menangani kasus kriminal besar seperti korupsi, pembalakan hutan, dan narkoba.

“Namun kalau isu-isu sosial yang meresahkan masyarakat tidak tertarik karena tidak mendongkrak popularitas,” jelasnya.

Dia merinci, ada dua solusi pencegahan dan memberikan efek jera kepada mereka. Yakni, merespon dengan cepat aksi para geng motor. Kemudian menindaklanjuti laporan dan kegelisahan masyarakat. Yang kedua, Polisi dinilai harus konsisten dalam penegakkan hukum.


(rsa)

views: 3.405x
Bagikan artikel ini :
shadow