Jawa Barat & Banten

Perhutani kembangkan Owa Jawa di Malabar

Kamis,  13 Juni 2013  −  17:00 WIB
Perhutani kembangkan Owa Jawa di Malabar
Owa Jawa (Dok Istimewa)

Sindonews.com - Perum Perhutani berupaya mempertahankan kualitas kawasan hutan lindung melalui pengembangan spesies liar. Upaya tersebut diharapkan menjaga keseimbangan alam yang sebagian besar terkikis akibat pembangunan dan bertambahnya populasi manusia.
 
Sekretaris Unit dan Kepatuhan Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten Agus Dwi Nurjanto mengatakan, upaya Perhutani melakukan pengembangan spesies liar dilakukan di hutan lindung Malabar. Yaitu melepaskan sepasang Owa Jawa di kawasan tersebut. Owa Jawa tersebut diharapkan membentuk populasi liar.
 
“Akhir pekan ini, kami akan melepaskan sepasang Owa Jawa di kawasan hutan lindung Malabar. Harapannya, Owa Jawa itu bisa membentuk populasi spesies liar di kawasan tersebut,” jelas Agus di Bandung, Kamis (13/6/2013).

Menurut Agus, kedua Owa Jawa tersebut sebelumnya didapat dari masyarakat dan direhabilitasi selama lima tahun.

Pelepasan sepasang Owa Jawa tersebut diharapkan mengedukasi masyarakat mengenai konservasi lingkungan serta meningkatkan usaha perlindungan terhadap habitat hutan lindung.

Saat ini, lanjut dia, populasi Owa Jawa di Pulau Jawa mengalami penurunan drastis. Hal itu dikarenakan hutan hujan tropis semakin berkurang akibat tekanan pembangunan dan pertumbuhan populasi manusia.
 
Diketahui, Perhutani Jabar merilis penyusutan hutan dalam jumlah cukup besar. Penyusutan hutan disebabkan illegal logging, kebakaran, dan klaim lahan (tenorial). Per Mei 2013, kerusakan hutan milik Negara yang dikelola Perhutani mencapai sekitar 7.768 ha.

Penyebab terbesar penyusutan hutan terjadi karena illegal logging dan tenorial oleh masyarakat dan oknum tidak bertanggung jawab. Penyusutan hutan yang sebagian besar berjenis kayu jati diperkirakan akan terus bertambah.
 
"Kasus illegal logging terbanyak terjadi di Tasikmalaya. Sedangkan pengklaiman lahan terbesar terjadi di wilayah Bogor," jelasnya.

Agus menjelaskan, Tasikmalaya merupakan kawasan yang paling rentan terhadap penebangan liar. Dari KPH Tasikmalaya, kerusakan hutan justru terus terjadi di RPH Cikalong yang memiliki luas lahan mencapai 2.704,68 ha. Sejak Oktober 2012, angka kerusakan hutan di kawasan ini mencapai 52,8 ha.


(rsa)

views: 2.063x
shadow