Bali & Nusa Tenggara

Mengenal Desa Trunyan, desa tertua di Bali

Rabu,  12 Juni 2013  −  03:35 WIB
Mengenal Desa Trunyan, desa tertua di Bali
Desa Trunyan (Jelajahbali.com)

Sindonews.com - Di tengah modernitas Bali saat ini, ternyata ada wilayah yang tetap memegang teguh tradisi-tradisi kuno. Wilayah tersebut dikenal dengan nama Desa Trunyan atau Desa Terunyan.

Desa Terunyan, terletak di sebelah timur bibir Danau Batur, Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali Utara. Kawasan tersebut memiliki udara pegunungan yang sejuk. Untuk ke Danau Batur dari Bali selatan memakan waktu kurang lebih 2 jam.

Desa Terunyan diketahui merupakan desa tertua di Bali. Penduduknya-pun orang Bali asli atau Bali Aga. Saat ini jumlah penduduk Desa Trunyan berjumlah sekira 600 orang.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Sindonews, masyarakat desa ini memiliki adat pemakaman yang unik. Desa ini sejak lama dianggap sebagai desa yang sulit untuk dikunjungi.

Untuk mencapai ke sana, kita harus naik perahu, karena letaknya yang berada di sebelah timur Danau Batur.

Menurut prasasti tertua di Bali, era sejarah di Bali dimulai sejak tahun 882 masehi. Dan saat itu, penduduk Terunyan telah tinggal di daerah itu.

Menurut cerita, orang - orang Bali adalah keturunan Majapahit yang lari ke Bali pada abad ke-14. Sedangkan orang-orang Bali asli yang telah ada di Bali sejak sebelum Majapahit seperti penduduk Desa Terunyan ini disebut Bali Aga. Mereka hidup dengan menjalankan tradisi-tradisi kuno yang tetap terpelihara dengan baik hingga sekarang.

Pemakaman unik adat Desa Terunyan tanpa kremasi

Adat yang paling unik di Desa Terunyan adalah pemakaman. Biasanya, orang-orang Bali yang meninggal jenazahnya dibakar atau biasa disebut ngaben. Namun, di Desa Terunyan, setiap warganya yang meninggal jenazahnya tidak dibakar, melainkan hanya diletakkan di atas tanah, di dalam gua bahkan di atas pohon. Mereka menyebutnya dengan istilah mepasah.

Menurut pemahaman mereka, setiap jasad orang yang sudah meninggal dunia harus dikembalikan ke bumi, dan dengan cara inilah menurut mereka telah dikembalikan ke bumi.

Sebenarnya di Desa Terunyan terdapat 3 kuburan. Masing-masing dibedakan menurut sebab orang tersebut meninggal.

Kuburan pertama disebut Sema Bantas, kuburan ini untuk orang-orang yang meninggal karena bunuh diri, berkelahi dan penyakit ganas. Sedangkan kuburan kedua disebut Sema Nguda adalah kuburan untuk bayi atau orang dewasa yang belum menikah.

Dan kuburan ketiga adalah Sema Wayah, yakni kuburan yang diperuntukan bagi orang-orang yang meninggal akibat sakit biasa.

Dewa pelindung desa dan pura 'Pusar Dunia'


Selain kuburan, di Desa Terunyan juga terdapat beberapa tempat yang menarik. Salah satunya yaitu Pura Pancering Jagat yang berarti Pusar Dunia. Pengunjung yang datang, tidak bisa masuk ke dalam pura. Mereka hanya diperkenankan melihat dari luar saja.

Di pura tersebut, terdapat patung yang disebut Ratu Gede Pusering Jagat. Masyarakat setempat, percaya akan ukuran patung yang sedikit demi sedikit bertambah besar. Patung tersebut hanya bisa dilihat untuk umum setahun sekali, tepatnya pada saat upacara yang diadakan saat bulan purnama sekira bulan Oktober setiap tahunnya.

Selain itu, juga terdapat 'Bali Agung', sebuah bangunan dengan satu atap besar di tengahnya, 'Bale Daha', tempat berkumpul para wanita lajang dan bangunan lainnya yang arsitekturnya berbeda dengan bangunan di desa-desa di Bali lainnya.


(rsa)

views: 6.214x
shadow