Jawa Timur

Ragam kisah nyata berbau mistis di Gunung Semeru

Rabu,  12 Juni 2013  −  02:40 WIB
Ragam kisah nyata berbau mistis di Gunung Semeru
Gunung Semeru (Dok Malangkab.go.id)

Sindonews.com - Setiap orang yang mendaki Gunung Semeru pasti menyisakan beragam cerita tentang eksotisnya gunung tertinggi di Jawa ini. Berbagai bukti foto-foto selama perjalanan hingga ke puncak dirasa belum memuaskan pendaki untuk pergi mengunjungi gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia ini.

Selain cerita keindahan alam Semeru, beberapa pendaki juga ternyata memiliki pengalaman lain yang tidak semua pendaki mengalaminya. Yakni, pengalaman tentang dunia lain di Semeru. Cerita ini dikisahkan langsung oleh pendaki maupun orang yang menemukan pendaki ketika tersesat.

Salah satunya adalah cerita yang dituturkan Bagus Ary, seorang pendaki asal Malang, Jawa Timur. Pendaki yang sudah beberapa kali mendaki Semeru ini mengungkapkan, sekira tahun 2009, dirinya bersama tiga temannya mendaki ke Semeru. Target pertama mereka adalah menginap di Kalimati.

Selama perjalanan dari Ranu Pane menuju Kalimati, mereka melewati Oro-oro ombo dan Cemoro Kandang. Di Cemoro Kandang, medan di wilayah itu memang terus menanjak hingga Jambangan. Mungkin untuk menghilangkan lelah ke empat pendaki ini mengeluarkan kata-kata kotor khas Jawa Timur-an, atau misuh-misuh meski dengan nada gurau sebagai bahan candaan mereka. Tak terasa perjalanan mereka akhirnya sampai di Kalimati yang berada di ketinggian 2.700 mdpl.

Kawasan berupa padang savana yang berada di tepi hutan pinus dengan latar puncak Mahameru membuat para pendaki betah mendirikan tenda di situ. Keempat pendaki ini berencana naik ke puncak pada malam hari sekira pukul 00.00 WIB. Mereka kemudian bergegas mendirikan tenda, sebagian lagi mengeluarkan bekal untuk masak menu sore dan logistik untuk dibawa dalam perjalanan menuju puncak.

Menjelang sore, mereka kemudian memilih istirahat lebih awal untuk menyimpan energi menuju puncak pada tengah malam nanti. Tanpa dikomando, keempatnya kemudian terlelap dalam tidur.

Saat itulah peristiwa aneh itu terjadi. Bagus, bercerita jika tidurnya tidak bisa tenang. Hal itu juga dialami teman-temannya. Ia bersama tiga temannya mengaku ditarik oleh seseorang sampai terbangun.

Awalnya, mereka mengira itu perbuatan temannya sendiri, tapi setelah masing-masing merasakan hal yang sama dan mengaku tidak melakukanya, akhirnya mereka sadar ada makhluk lain yang menariknya ketika tidur.

Pengalaman Bagus Ary dan teman-temannya tidak berhenti di sini saja, Bagus Ary juga di mengaku dipukul dan  melihat sebuah bangunan mirip pemandian putri di kawasan bawah Arcpadha. Tepatnya, berada di jurang sebelah kiri. Mereka masih bersyukur tidak terjadi peristiwa yang lebih menyeramkan atau membuat mereka tersesat.

Pada pendakian selanjutnya, Bagus Ary selalu mengingatkan kepada rekan lain yang belum pernah agar selalu menjaga perkataan dan perilaku selama pendakian. Bagus juga mengingatkan untuk berbicara yang sopan, tidak pongah, serta tidak merusak tempat-tempat atau menebang pohon sembarangan. Sebab, siapa tahu di tempat-tempat itu dihuni makhluk lain dan mengganggu keberadaan mereka.

Cerita lain yang juga dialami rata-rata pendaki yang tersesat dan ditemukan selamat adalah mereka selalu sendirian atau tertinggal dari rombongan atau berada paling depan meninggalkan rombongan.

Hal itu diceritakan Sugiyono, salah satu tim Search and Rescue (SAR) Lumajang yang sering melakukan operasi pencarian ketika ada informasi pendaki yang tersesat atau hilang.

Sugiyono bercerita, dari beberapa pendaki yang hilang dan ditemukan dalam kondisi selamat, para pendak itu selalu bilang sedang sendirian ketika turun. Selain itu, orang yang biasa meremehkan trek biasanya sering salah jalur.

Selain itu, Sugiyono juga mewanti-wanti agar tidak meninggalkan anggota kelompok sendirian di lereng Semeru, di jalur berpasir yang menanjak.

"Kalau salah satu tidak kuat sebaiknya ditunggui atau kembali semuanya. Sebab, biasanya mereka yang sendirian di lereng Semeru, ketika ada kabut datang, bisa hilang orang itu. Seperti ada yang membawa lari,” katanya.

Ia juga bercerita pengalamannya sendiri ketika turun dari puncak bersama rombongannya. Sugiyono berada di belakang. Sementara beberapa temannya berada agak di depan. Saat perjalanan menuruni medan berpasir lereng Semeru, tiba-tiba dia melihat temannya lari kencang ke bawah. Ia kemudian meneriakinya sambil mengejar.

Beruntung, temannya tersebut berhenti dan kaget ketika melihat Sugiyono di belakang. Sebab, kata Sugiyono, temannya itu melihat jika ada orang yang membawa lari Sugiyono sehingga dia mengejarnya.

Karena itu, Sugiyono mewanti-wanti kepada semua pendaki agar lebih berhati-hati dan menjaga sikap selama mendaki Gunung Semeru. Jangan sampai meninggalkan teman sendirian, hindari berbicara kotor, buang air sembarangan, serta merusak lingkungan. Tetap rendah hati dan jangan sombong berada di alam.

Cerita yang bisa menjadi pelajaran lainnya terjadi pada tahun 2011-an. Ketika itu ada rombongan pendaki dari Jawa Barat yang sedang ingin naik ke puncak Mahameru. Mereka sengaja mendirikan tenda di kawasan Arcapadha agar lebih dekat menuju puncak Mahameru. Selama perjalanan ke Arcapadha tidak ada hal-hal yang menonjol. Bahkan sampai tengah malam dan beberapa anggota kelompok menuju puncak, tinggal tiga orang yang berada di tenda. Salah satunya adalah Nita.

Ia berada di tenda bersama seniornya. Hingga dini hari, suasana masih khas hutan pinus di malam hari. Hewan malam juga sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Sampai sekira pukul 04.00 WIB, sayup-sayup Nita mendengar suara gamelan jawa dari kejauhan atau dari kedalaman jurang blank 75.

"Terdengar jauh namun cukup jelas di telinga dengan durasi yang lumayan lama. Saya dan senior Saya memilih diam di dalam tenda sambil menunggu rombongan yang menuju puncak turun," tutur Nita.

Peristiwa lain terjadi ketika salah satu rombongan Nita yang turun duluan berteriak ke tenda minta bantuan. Ia minta bantuan karena ada salah satu anggota perempuan yang kesurupan ketika melewati vegetasi terakhir atau daerah Kelik. Di Kelik, memang sering ada kejadian pendaki yang terjatuh, hilang, atau tersesat. Beberapa batu penanda in memoriam terpasang di sana.

Setelah sampai di Arcapadha, perempuan asal Kalimantan itu kesurupan dua jin dan mengenalkan dirinya dengan dua nama, laki-laki dan perempuan.

“Satu mengaku bernama Pratiwi, satunya lagi lupa tapi selalu mau dipanggil Ganteng,” kata Nita.

Seramnya, dua makhluk yang masuk ke dalam perempuan asal Kalimantan ini meminta raganya untuk ikut bersamanya. Mereka memberikan pilihan, perempuan itu atau Nita yang ikut. Nita mengaku langsung merinding.

Akhirnya mereka memilih mem-packing barang dan memilih secepatnya untuk turun menuju Kalimati. Sepanjang perjalanan dia masih kerasukan. Sampai di Kalimati, baru kembali sadar karena kelelahan. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Ranu Kumbolo. Di tengah-tengah perjalanan perempuan tadi kesurupan lagi dan lari kencang serta meloncati pohon besar yang tumbang.

Pendaratan dilakukan dengan dua kaki dan dua tangannya seperti kijang. Ia kemudian terkejar oleh rombongan lainnya. Mereka lalu mempercepat perjalanan ke Ranu Kumbolo.

Di Ranu Kumbolo, mereka memutuskan untuk bermalam lagi. Meski kelihatan sadar namun kondisi perempuan tadi seperti masih dirasuki. Semua teman-temannya saat itu merasakan hawa panas. Bahkan saat foto-foto di pagi harinya juga tatapan matanya tidak seperti biasanya.

Perjalanan dilanjutkan ke Ranu Pane. Tapi di tengah jalan, tepatnya setelah pos 1, perempuan itu kembali lepas dan berlari kencang seperti Kijang, melompati pohon besar yang melintang di tengah jalan.

Anggota rombongan laki-laki mengejar semampunya karena khawatir hilang. Beruntung dia akhirnya bisa terkejar dan berhasil dipegang erat teman-temannya.

Menurut Nita, temannya tersebut masih kerasukan meski sudah di dalam kereta api menuju Jawa Barat, bahkan ia akhirnya diantar teman sesama daerahnya untuk pulang ke Kalimantan dan disembuhkan di tanah kelahirannya.

Nita juga menceritakan jika saat temannya kesurupan di sekitar kawasan Kelik, dirinya berpapasan dengan pendaki lain yang mengurungkan niatnya mendaki ke puncak.

Sebab, pendaki itu bilang jika ada yang mengancam kalau dirinya naik akan tewas di atas dengan tertimpa batu besar yang menggelinding dari atas. Ia memutuskan untuk kembali turun bersama rombongan Nita dan membatalkan ke puncak. “Memang benar ada batu besar yang menggelinding dari atas,” ujar Nita.

Dari cerita teman-temannya, kemungkinan temannya yang kesurupan itu mempunyai pegangan dan ingin dimiliki penghuni hutan Semeru. "Ada juga yang bilang temannya itu sering bengong, dan juga karena faktor haid," jelasnya.

Meski begitu, semua gunung mempunyai misteri sendiri-sendiri. Hendaknya kita mendaki dengan sopan dan tidak mengganggu apapun yang ada di setiap gunung yang didaki. Alam, Jin, Manusia, serta semua ekosistem di pegunungan adalah ciptaan Yang Maha Kuasa. Seyogyanya bagi kita untuk selalu menjaga alam dan tidak mengganggunya.

Hal kecil, seperti tidak berbicara kotor, tidak sombong bila sampai ke puncak gunung, dan sikap-sikap lain yang cenderung tidak disukai.


(rsa)

views: 85.851x
shadow