Polda Jateng bongkar dugaan korupsi di RS Paru

Polda Jateng bongkar dugaan korupsi di RS Paru
Ilustrasi, (SINDOphoto).
A+ A-
Sindonews.com - Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit Reskrimsus) Polda Jawa Tengah, membongkar dugaan praktik korupsi yang terjadi di Rumah Sakit (RS) Paru, Kota Salatiga, Jawa Tengah, pada 2009. 

Dua orang ditetapkan sebagai tersangka. Masing-masing mantan Kepala RS setempat H dan Kepala Farmasi RS, W. Tersangka H sekarang diketahui menjabat sebagai Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) RS Sardjito, Yogyakarta.

Modus yang digunakan pada korupsi ini adalah membagi-bagikan uang potongan harga obat kepada para dokter dan petugas apotek. Uang itu sedianya dikembalikan kepada negara, karena dananya berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
 
Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Tengah, Komisaris Besar Mas Guntur Laupe, mengatakan sejauh ini pihaknya masih mengembangkan penyidikan kasus ini. "Penetapan tersangka didasarkan sejumlah bukti kuat dan keterangan yang kami dapat," ucap Guntur kepada wartawan, di Salatiga, Jawa Tengah, Minggu (9/6/2013).

Kasus ini diungkap berdasarkan laporan pada 10 April 2013. Lima hari kemudian, polisi sudah menetapkan dua orang tersebut sebagai tersangka.

Kepala Sub Direktorat III Tindak Pidana Korupsi Dit Reskrimsus Polda Jawa Tengah, Komisaris Agus Setyawan mengatakan tersangka H menerima uang Rp33 juta dan tersangka W menerima uang Rp27 juta. Para tersangka mengakui itu.

"Mereka menerima uang yang bukan haknya. Karena uang itu adalah uang negara. Potongan harga pembelian obat itu seharusnya dikembalikan kepada negara," tambahnya.

Total kerugian negara pada korupsi itu, kata dia, sebesar Rp750 juta. Pembelian obat di RS yang terletak di Jalan Hasanudin nomor 806 Kota Salatiga itu total sebesar Rp11 miliar pada 2009. Dari total itu, Rp2,5 miliar di antaranya dikerjasamakan dengan sebuah perusahaan di Jakarta. Pihak rumah sakit mendapat diskon 25 persen dari pembelian itu.


Selanjutnya...
dibaca 3.939x
Halaman 1 dari 3
Top