Pilkada

Membaca kelemahan Bibit Waluyo di Pilgub Jateng

Senin,  27 Mei 2013  −  08:00 WIB
Membaca kelemahan Bibit Waluyo di Pilgub Jateng
Ketua Umum KOI, Rita Subowo / Okezone

Sindonews.com - Hasil perhitungan cepat beberapa lembaga survei menempatkan pasangan Ganjar Pranowo - Heru Sudjatmoko mengungguli dua pasangan lainnya dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah (Jateng). Termasuk diantaranya pasangan Cagub inkumben, Bibit Waluyo -Sudijono Sastroatmodjo.

Hal ini jelas tentu mengejutkan banyak pihak, mengingat Ganjar belum memiliki rekam jejak di struktur Pamong Pemerintahan. Lantas apa saja kelemahan Bibit yang dimanfaatkan Ganjar untuk 'menekuk lutut' Bibit dengan berbekal sedikit ilmu pemerintahan yang dimilikinya?.

Pakar Politik Universitas Indonesia, Prof Maswardi Rauf, menyebut calon Gubernur inkumben Bibit Waluyo adalah lumbung suara bagi Ganjar. Bibit Waluyo ternyata dinilai masyarakat Jawa Tengah bermasalah. Masalah itu kata Maswardi, terletak dari kepekaan Bibit terhadap masyarakat Jateng yang kurang sensitif.

"Ada masalah dengan Bibit. Dia kurang mengakar dan jarang sekali turun ke bawah lapisan masyarakat. Entah gengsi atau malas. Nah inilah yang menjadi kelemahannya dan dapat dimanfaatkan Ganjar untuk mengeruk suara," jelas Maswardi Rauf kepada Sindonews, Senin (27/5/2013).

Selain itu, sosok Bibit yang dianggap sebagai orang yang tak tegas seringkali memunculkan stigma buruk di kalangan masyarakat Jateng. Bibit juga kerap melontarkan kata-kata kasar seperti apa yang disampaikan kepada mantan Wali Kota Solo, Joko Widodo (Jokowi) yang kini telah menjabat sebagai Gubernur DKI.

Menurut Maswardi, Bibit dikenal sebagai pengambil keputusan yang lambat dan penuh pertimbangan. Padahal, lanjut Maswardi, Jateng butuh orang-orang yang memiliki terobosan dan langkah berani untuk diaktualisasikan.

"Jateng mungkin sudah jenuh dengan Bibit. Mereka menginginkan figur muda yang fresh dan mampu melakukan terobosan seperti apa yang dilakukan Jokowi dengan DKI, meski belum dapat terlihat hasil sepenuhnya," paparnya.

Masalah lain yang tak kalah penting, Bibit bukan diusung dari partai yang dulu pernah mengangkatnya memimpin Jateng. Padahal, Jateng memang dikenal sebagai basis 'merah' Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

"Inilah kultur yang menarik dari Jateng. Mereka loyalitasnya tinggi terhadap partai. Integritas Bibit juga tentunya pasti dipertanyakan jika dia mencalonkan diri dari partai lain, dan bukan dari partai yang pernah mengangkatnya, nah ini juga yang saya sebut bermasalah," ungkap Maswardi.

Diketahui, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menyebut Ganjar-Heru unggul dengan perolehan 48,46 persen suara. Urutan kedua diisi pasangan nomor urut dua, Bibit Waluyo-Sudijono Sastroatmodjo, dengan perolehan 30,84 persen. Di urutan ketiga, pasangan Hadi Prabowo-Don Murdono memperoleh 20,70 persen.

Sementara itu, berdasarkan hitung cepat Indo Barometer, pasangan Ganjar-Heru memperoleh 46,65 persen suara, Bibit-Sudijono mendapatkan 31,77 persen suara, dan Hadi-Don Murdono meraih 21,58 persen suara.

Sedangkan perhitungan cepat versi Jaringan Suara Indonesia (JSI), menyebutkan pasangan Ganjar-Heru unggul dengan perolehan 48,73 persen, Bibit-Sudijono 30,14 persen dan Hadi-Don Murdono 21,11 persen.
 


(rsa)

views: 2.489x
shadow