Wasantara

Panen melimpah, warga Takalar gelar Mappadekko

Jum'at,  24 Mei 2013  −  10:59 WIB
Panen melimpah, warga Takalar gelar Mappadekko
Ilustrasi (istimewa)

Berbagai macam cara mengungkapkan rasa syukur warga terhadap hasil panen padi yang melimpah di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan dilakukan dengan cara unik. Warga Dusun Sampulungan, Kecamatan Galesong Utara, menggelar pesta panen dengan aksi saling gebuk sesama warga menggunakan balok kayu dan batu kali. Meski dihantam hingga balok kayu patah, tak sedikitpun warga merasa sakit atau terluka.

Para warga yang terpilih sebagai pelaksana upacara pesta panen, dengan mengenakan baju adat memulai ritual pesta panen dengan mengunjungi makam leluhur mereka di pekuburan desa. Makam Lo’mo Sampulungan atau tetua kampung Sampulungan di makamkan di pemakaman desa.

Pembukaan ini kemudian dilanjutkan dengan berkeliling kampung sebelum menuju alun-alun desa. Setiap usai panen besar, di hari yang ditentukan, warga berkumpul di tengah alun-alun dusun.

Tepat dibawah dua batang pohon yang berukuran sangat besar, yang oleh warga disebut sebagai pohon ‘Rita’ atau pohon keramat mereka mulai melakukan ritual. Untuk pesta panen ini, mereka menyebutnya Mappadekko.

Acara pesta panen ini dibuka oleh para tetua kampung yang berdoa mengharap keselamatan dan berkah bagi seluruh warga. Setelah tarian penyambutan diiringi irama dari pukulan alu pada lesung kayu, para warga pun mulai mengikuti acara inti Mappadekko ini.

Dengan mengambil alu yang terbuat dari balok kayu yang cukup besar, satu persatu warga pun maju dan saling menggebuk punggung warga lainnya, hingga beberapa kali.

Aksi saling gebuk pun terus berlangsung, dan saling bergantian. Warga yang terkejut berkali-kali memekik, apalagi aksi saling pukul ini baru berhenti setelah alu yang mereka pegang patah.

Selain menggunakan kayu, warga pun saling menghantamkan batu kali ke punggung rekan mereka. Para warga yang menonton juga diminta untuk turut serta.

Herannya beberapa warga yang turut serta dalam atraksi saling gebuk itu, tak merasakan sakit sedikitpun. Mereka percaya kalau sedang dilindungi kekuatan roh halus penunggu kampung.

Selama pesta adat berlangsung, belum pernah warga menemukan ada warga yang luka terkena pukulan kayu ataupun hantaman batu.

Bupati Takallar Burhanuddin Baharuddin mengatakan, tradisi pesta panen dan atraksi Mappadekko ini rutin diadakan setiap tahunnya. Warga percaya tradisi ini telah ada sejak masa leluhur mereka di masa kejayaan kerajaan Gowa di abad ke-16.

Selain sebagai bentuk hiburan, upacara ini juga sebagai tanda syukur warga atas hasil panen yang melimpah.


(ysw)

views: 2.598x
shadow