Wasantara

Ditemukan mata rantai sejarah Kerajaan Kediri kuno

Kamis,  3 Januari 2013  −  09:34 WIB
Ditemukan mata rantai sejarah Kerajaan Kediri kuno
Situs Trenggalek yang diyakini sebagai mata rantai Kerajaan Kediri kuno. (solichanarif/koransindo)

Sindonews.com - Situs sejarah yang ditengarai sebagai patirtan (pemandian) di Desa Semarum, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek diduga memiliki mata rantai dengan sejarah berdirinya Kerajaan Kediri kuno abad ke 13.

UNtuk memastikan dugaan tersebut, tim Balai Arkeologi Yogyakarta beserta BP3 Trowulan Mojokerto dan pemerintah daerah setempat melakukan riset (penelitian)  mendalam. Tidak hanya menggali lebih dalam, para arkelog juga membentangkan benang untuk  penanda lokasi.

“Sangat mungkin situs sejarah ini memiliki keterkaitan dengan prasasti Kamulan yang menceritakan bagaimana sejarah Raja Jayakatwang (Kediri) memberikan wilayah kepada masyarakat Trenggalek yang telah berjasa, “ujar Heri Priswanto selaku Ketua Peneliti Balai Arkeologi Jogjakarta kepada wartawan, Kamis (3/1/2013).
 
Tim  tiba di lokasi sejak 30 Desember 2012. Eksplorasi langsung dilakukan pada situs yang di kalangan masyarakat Trenggalek populer disebut sebagai candi.

“Yang pasti ini bukan komplek candi. Ini petirtan yang juga bisa berfungsi sebagai waduk seperti halnya waduk segaran di komplek situs Trowulan Majapahit,“ terangnya.
 
Situs petirtan ini berada di wilayah perkampungan. Ada tiga titik yang berlokasi di pekarangan milik  tiga warga setempat. Menurut Heri, luas area situs mencapai  24 meter persegi  X 24 meter persegi.

Secara fisik, mirip pondasi pagar dengan susunan batu bata berukuran besar. Lapisan atas terdiri dari tiga batu bata, lapisan tengah atau badan petirtan tersusun enam batu bata dan lapisan terbawah atau pondasi terdiri dari tiga batu bata. Ditemukan pada tahun tahun 2011 di bawah tanah dengan kedalaman sekitar satu meter lebih.

“Awalnya juga sempat dianggap sebagai tembok. Namun setelah dicek ternyata lebih mendekati bangunan petirtan,“ jelasnya.

Selain ditemukan lapisan pasir sungai dengan kedalaman sekitar 20 sentimeter, tim arkeologi juga menemukan bandul jaring dan pecahan tembikar dan keramik.

“Semua penemuan ini memperkuat status situs sebagai petirtan,“ tegasnya.
 
Namun,  hingga kini penandaan lokasi dengan rentangan benang masih dilakukan di sisi Timur Laut dan Barat Laut. Untuk ke depan, tim berusaha melakukan penelusuran di sisi tenggara dan barat daya. 
Berdasarkan teori arkeologi, keberadaan sebuah patirtan terkait erat dengan keberadaan bangunan  suci persembahyangan (candi) dan permukiman kuno.

Jika mengacu teori tersebut, kata Heri berjarak sekira tiga kilometer dari lokasi, yakni di Desa Kedunglurah, Kecamatan Pogalan terdapat Candi Brungkah. Kemudian di sebelahnya lagi dengan jarak yang sama, yakni di Desa Kamulan terdapat permukiman Hindu kuno. 

“Artinya apa yang kita teliti ini secara  teori sudah sesuai,“ paparnya.
Heri mengakui, riset terhadap situs patirtan menjadi skala prioritas dari Balai Arkeologi Yogyakarta.

Dari hasil riset ini tim akan merekomendasikan ke BP3 Trowulan dan pemerintah daerah setempat, apakah situs ini perlu mendapat penanganan serius termasuk menempatkan juru rawat atau tidak.

“Sebab selama setahun balai arkeologi rutin  memprioritaskan riset pada 15 situs sejarah. Salah satunya adalah situs patirtan ini,“ pungkasnya.

Sementara menanggapi hal ini, Agus PR dari Pemkab Trenggalek mengatakan riset dan penelusuran sejarah kerajaan kuno di Kabupaten Trenggalek memang sudah waktunya dilakukan. Ia meyakini Trenggalek merupakan salah satu puzzle dari rangkaian sejarah Kerajaan Kuno di tanah Jawa.

“Tidak hanya di situs patirtan. Maish banyak lagi situs di Trenggalek yang sampai saat ini belum ada pengungkapan secara gamblang,“ ujarnya.


(ysw)

views: 3.107x
shadow