Jawa Tengah & DIY

Tokoh Pendidikan Nasional

RM Sosrokartono, kakak RA Kartini yang perjuangkan pendidikan

Muhammad Oliez

Kamis,  2 Mei 2013  −  13:12 WIB
RM Sosrokartono, kakak RA Kartini yang perjuangkan pendidikan
RM Sosrokartono (Dok Istimewa)

Sindonews.com - Selama ini masyarakat mengenal tokoh pendidikan Indonesia, adalah Ki Hajar Dewantara. Padahal ada nama lain yang perannya dalam dunia pendidikan tidak bisa dipandang sebelah mata, yakni  Raden Mas Panji (RMP) Sosrokartono.

Kakak kandung RA Kartini ini merupakan sarjana pertama Indonesia yang belajar di Eropa. Aktivitasnya itu kemudian “diikuti” para pelajar Indonesia lainnya. Hingga akhirnya para putera Indonesia bisa memaksimalkan potensi dan perannya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Atas jasa besarnya itu, founding father Indonesia, Soekarno pun menjuluki Sosrokartono sebagai Putra Indonesia Yang Besar.

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati tanggal 2 Mei hari ini, tak ada salahnya sosok Sosrokartono berikut jasa-jasa besarnya untuk mencerdaskan kehidupan anak bangsa dikenang lagi. Seperti apa?.

Lantunan doa dari ratusan siswa SD Nahdlatul Ulama (NU) Nawa Kartika Kamis (2/5) pagi memadati sebuah makam yang ada di kawasan Desa Kaliputu, Kudus, Jawa Tengah. Dilihat sekilas, tak ada yang istimewa di makam tersebut. Nisan hingga areal pemakaman itu laiknya pemakaman warga pada umumnya.

Namun siapa sangka, sosok yang ada di dalam makam tersebut merupakan pribadi yang istimewa, yakni RMP Sosrokartono. Peran kakak kandung RA Kartini tidak bisa dipandang sebelah mata, baik percaturan politik nasional maupun internasional.

Di pentas internasional, Sosrokartono yang menguasai 17 bahasa asing dan 10 bahasa Nusantara ini pernah menjadi kepala penterjemah bahasa asing di Liga Bangsa Bangsa (Volken Bond) atau yang kini dikenal dengan Persatuan Bangsa-bangsa (PBB). Selain itu, ia juga merupakan jurnalis perang saat Perang Dunia I.

Peran Sosrokartono bagi dunia pendidikan bumiputera juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Saat masih menjadi mahasiswa di Belanda, Sosrokartono yang waktu itu berumur 22 tahun pernah menghadap Willem Roseboom yang akan memangku tugas sebagai Gubernur Jendral Hindia Belanda (Indonesia).

Dalam pertemuan tersebut, Sosrokartono meminta Roseboom agar memberikan perhatian khusus terhadap pendidikan bangsa bumiputera, termasuk pendidikan bagi para perempuan bumiputera.

Selain itu saat Konggres Bahasa ke 25 di Gent Belgia 29 Agustus 1899, Sosrokartono juga menyuarakan tuntutannya agar rakyat Hindia Belanda diperhatikan pendidikannya tanpa merubah budayanya yang luhur.

“Semasa hidup, Sosrokartono lebih memikirkan nasib rakyat kecil. Hanya saja, ia tidak mau perjuangannya dipublikasikan,” kata juru kunci makam RMP Sosrokartono, Sunarto, Kamis (2/5/2013).

Nama besar Sosrokartono yang lahir 10 April 1877 menarik minat banyak penulis untuk menulis tentang perjuangannya. Salah satunya yakni Hadi Priyanto yang menulis buku berjudul ‘Sosrokartono, De Javasche Prins, Putra Indonesia yang Besar’.

Menurut Hadi, Sosrokratono merupakan orang yang menyulut lentera nasionalisme Indonesia. Hebatnya lagi perjuangan tersebut dihembuskan langsung dari jantung negara kolonialis Belanda. Bekal kecerdasan yang dimilikinya juga membuahkan banyak tawaran pekerjaan elit yang memungkinkannya hidup mewah di Eropa.

Meski punya akses memainkan peran strategis di dunia internasional, Sosrokartono justru terpanggil untuk menjadi pengabdi kebudayaan Jawa yang adiluhung. Akhirnya karena panggilan Ibu Pertiwi itu pula, Sosrokartono pun pulang ke tanah air, hingga meninggal pada pada 8 Februari 1952.

Hadi pun menyitir sejumlah ungkapan yang pernah dibuat oleh Sosrokartono. Seperti ungkapan Sosrokartono  yang dibuat di Binjei, 12 November 1931,

Angloeroeg tanpo bolo, tanpo gaman. Ambedah tanpo perang tanpo pedang. Menang Tanpo majehi tanpo ajakiti. Wenang tan ngroesak ajoe, tan ngroesak adil. Jen oenggoel soejod bakti marang sesami...”

Yang artinya kurang lebih demikian Menyerang, tanpa balantentara, tanpa senjata. Menerobos, tanpa perang , tanpa pedang. Menang , tanpa membunuh, tanpa menyakiti. Berkuasa, tidak merusak kebaikan, tidak merusak keadilan. Jika unggul, sujud berbakti kepada sesama manusia.

“Aktivitas dan peran besarnya layak diteladani oleh siapapun dan kapanpun. Terlebih saat krisis identitas yang melanda Indonesia seperti sekarang ini,” kata Hadi Priyanto.

 

(rsa)

shadow