Sumatera

Angka kematian bayi di OKI masih tinggi

Muhammad Rohali

Rabu,  26 September 2012  −  14:23 WIB
Angka kematian bayi di OKI masih tinggi
Ilustrasi (dok:Istimewa)

Sindonews.com - Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) angka kematian bayi dan ibu di Kabupaten Ogan Komering Ilir, masih cukup tinggi. Bahkan pada tahun 2012 ini, angka kematian bayi dan ibu tercatat sebanyak 85 orang.

"Angka kematian bayi mulai Januari hingga September 75 orang, sementara angka kematian ibu hamil dan melahirkan sejak Januari hingga sekarang, sebanyak 11 kasus," ujar Kepala Dinas Kesehatan OKI dr Mgs M Hakim kepada wartawan di OKI, Rabu (26/9/2012).

Dia menambahkan, jumlah itu menurun jika dibandingkan tahun 2011 lalu yang mencatat kematian bayi hingga mencapai 97 orang dan kematian ibu sebanyak 97 orang.

"Jmlah kematian bayi dan ibu, sejak 2007 bisa ditekan, tetapi masih fluktuatif. Jika kita lihat data di 2007 angka kematian ibu yang melahirkan dan nifas sebanyak 17 orang, kemudian tahun 2008 sebanyak 17 orang, tahun 2009 menjadi 7 orang. Pada 2010 jadi 11 orang, dan 2011 naik menjadi 14 orang," terangnya.

Dia menambahkan, kematian bayi memiliki banyak penyebab. Diantanya sesak nafas, tingkat ketahanan tubuh bayi yang baru dilahirkan sangat rendah, dan minimnya asupan gizi saat sang ibu tengah hamil. Faktor lainnya adanya kelainan pada sang ibu saat hamil.

"Kami menduga selain karena faktor asupan gizi ibu ketika hamil, juga ada faktor lain yang ikut berperan penting," katanya.

Setiap kematian bayi lahir, lanjutnya, selalu diawali dengan berat badan lahir rendah (BBLR) atau kurang dari 2,5 kilogram, sehingga penanganan yang dilakukan tim medis sering kali didak membuahkan hasil karena bayi tidak bisa bertahan hidup lebih lama lagi.

Selain karena mengalami BBLR, bayi rata-rata juga disertai dengan penyakit penyerta (kelainan) seperti sesak nafas dam jantung. Untuk meminimalkan angka kematian bayi di daerah, Dinkes akan meningkatkan pelayanan medis di setiap puskesmas serta mengefektifkan posyandu dalam memantau perkembangan ibu hamil, termasuk asupan gizinya.

"Selain itu kita juga bagikan susu untuk manambah asupan gizi ibu hamil, agar resiko kematian bayi itu dapat kita tekan dengan semaksimal mungkin," ungkapnya.

Pihaknya juga terus bekerjasama dengan gerakan sayang Ibu (GSI) untuk menekan angka kematian Bayi dan ibu yang melahirkan.

"Saat ini GSI sudah gencar-gencarnya melakukan kegiatan untuk menekan angka kematian ibu dan bayi, mudah-mudahan dengan adanya kerjasama yang baik antara pemkab OKI dengan GSI bisa membantu menurunkan angka kematiab ibu dan bayi lahir," jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris Saerah (Sekda) OKI Ruslan Bahri mengatakan, angka kematian bayi bisa ditekan secara bersamaan dengan angka kematian ibu hamil.

"Kematian ibu melahirkan itu akan berdampak negatif terhadap anak yang dilahirkanya, karena kurang mendapat perhatian dan bimbingan ibunya," ujar Ruslan saat menyambut kedatangan tim penilaian GSI tingkat Provinsi Sumsel.

Pihaknya terus berupaya untuk menekan angka kematian tersebut dengan program-program GSI yang disingkronisasi dengan dinas kesehatan Kabupaten OKI.

"Kegiatan dengan memberikan bantuan asupan gizi ibu hamil, memabantu kendaraan seperti ambulan dan transportasi kesehatan, suami siaga dan bidan desa," pungkasnya.

 

(san)

shadow