alexa snippet

Cerita Pagi

Perjuangan Rohana Kudus Mengangkat Derajat Perempuan

Perjuangan Rohana Kudus Mengangkat Derajat Perempuan
Rohana Kudus. Foto/id.wikipedia.org
A+ A-
Bicara tentang perempuan yang berjuang mengangkat derajat kaumnya, publik selalu teringat sosok Kartini. Padahal, ada nama lain yakni Rohana Kudus, yang perjuangannya tak kalah dari Kartini.

Perempuan Minang dalam lembaran sejarah nasional, seakan sepi dibicarakan. Semua perhatian tertuju pada sosok perempuan ningrat asal Jawa bernama Kartini.

Kepada SINDOnews, pemerhati sejarah Sumatera Barat Fikrul Hanif Sufyan mengatakan, terpinggirkannya peran perempuan Minang dalam panggung nasional dipengaruhi historiografi Kolonial yang memang terasa dominan, sehingga tampak 'belah bambu' antara Jawa dan non-Jawa.

Ya, kala itu, nasib baik memang tidak selalu berpihak pada perempuan Minangkabau.  Ketika mereka ingin menikmati sekolah ala Belanda ataupun partikulir yang sedang giat-giatnya dibangun pada awal abad ke-20, perempuan Minang pada masa itu tidak boleh bersekolah, tidak boleh melebihi laki-laki, dan harus dipingit..
 
Menurut Fikrul Hanif, Rohana Kudus atau Roehana Koeddoes yang dilahirkan di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 20 Desember 1884, merupakan perempuan yang bernasib sama dengan gadis-gadis Minang lainnya.

Anak dari jurnalis Mohamad Rasjad Maharadja Soetan dan ibu bernama Kiam itu, semasa kecil tinggal di Alahan Panjang, Solok. Kedekatannya dengan keluarga Jaksa Alahan Panjang, kemudian mengantarnya mendapat keterampilan dan pendidikan agama.  

Delapan tahun kemudian, Rohana dibawa oleh ayahnya pindah ke Talu, Pasaman. Tamar Djaja (1980: 28) menulis, ketika berada di Talu, Rohana masih sering membaca. Bahkan, Rasjad sengaja berlangganan 'Berita Kecil' terbitan Medan untuk anak gadisnya itu.

Menurut Fikrul Hanif, untuk menarik perhatian kawan-kawannya, Rohana kecil selalu membaca dengan suara lantang. Tak disangka, anak lelaki dan perempuan berkumpul di teras rumahnya, untuk sekadar mendengar Rohana membaca, sampai akhirnya mereka pun tertarik mempelajarinya.

Selama empat tahun bermukim di Talu, Rohana kecil menyulap teras rumahnya sebagai sekolahan, untuk anak yang sebaya dengannya. Tentu tidak terbayang oleh penulis historiografi Kolonial, seorang bocah berumur 10 tahun bisa mendidik kawan sebayanya.

Ketika ibunya meninggal tahun 1901, Rohana berusia 17 tahun. Menurut Mrazek (1996), Rasjad selanjutnya menikah kembali dengan Rabiah, anak dari Jaksa Bonjol. Dari pernikahan kedua Rasjad ini kelak lahir Perdana Menteri pertama RI, yakni Sutan Sjahrir.
 
Ketika ayah dan ibu tirinya memutuskan pindah ke Medan, jelas Fikrul Hanif, Rohana menolak halus. Ia memilih kembali ke kampung halamannya di Koto Gadang, Agam. Rohana kembali berhadapan dengan kenyataan, perempuan Koto Gadang masih saja dipingit, tidak boleh bersekolah, harus melayani suami, dan lain sebagainya. (Fitriyanti, 2001). 

Keterbelakangan perempuan di Koto Gadang ini membuat gusar Rohana.  Sampai akhirnya Ratna Puti, istri Jaksa Kayutanam, ikut mensponsori berdirinya Kerajinan Amai Setia (KAS) pada Februari 1911. (Djaja, 1980: 38). Ini merupakan sekolah keterampilan khusus perempuan.
halaman ke-1 dari 3
views: 17.349
loading gif
Top