alexa snippet

Cerita Pagi

Ilyas Yakub, Wartawan dan Ulama yang Diasingkan Belanda

Ilyas Yakub, Wartawan dan Ulama yang Diasingkan Belanda
Ilyas Yakub. Foto/id.wikipedia.org
A+ A-
Banyak ulama asal Sumatera Barat yang kiprahnya tak perlu diragukan lagi saat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah satunya, Ilyas Yakub.

Lahir di Asam Kumbang, Bayang, Pesisir Selatan, Hindia Belanda, 14 Juni 1903, Ilyas Yakub menjadi sosok yang membuat Belanda khawatir. Diasingkan ke sejumlah daerah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Ilyas Yakub adalah anak ketiga dari pasangan Haji Ya'kub-Siti Hajir. Menurut pemerhati sejarah Minangkabau Fikrul Hanif, di masa kecil Ilyas belajar dengan kakeknya, Syekh Abdurrahman yang merupakan ulama besar di Bayang.

Kala itu, Bayang merupakan basis pengembangan Islam di Pantai Barat Sumatera, berpusat di surau tuo yang didirikan Syeikh Buyung Muda Puluikpuluik-salah seorang dari enam ulama pengembang Islam di Pantai Barat Sumatera, seangkatan dengan Syeikh Burhanuddin Ulakan Pariaman.

Ayah Ilyas Yakub merupakan seorang pedagang kain. Ilyas Yakub mengecap pendidikan Gouvernements Inlandsche School. Setamat sekolah itu, Ilyas bekerja sebagai juru tulis (1917-1919) di perusahaan tambang Oembilin Steenkolenontginning (Tambang Batubara Ombilin) Sawahlunto.

Hanya dua tahun, Ilyas memutuskan keluar dari perusahaan itu. Dia protes terhadap pimpinan perusahaan yang kasar terhadap buruh kontrak.

Ilyas memutuskan memperdalam ilmu agama ke Syekh Haji Abdul Wahab dan Mesir tahun1923. Ketika berada di Mesir, Ilyas Yakub aktif di sejumlah organisasi dan partai politik seperti Hizb al-Wathan (Partai Tanah Air) didirikan oleh Mustafa Kamal, Perkumpulan Mahasiswa Indonesia dan Malaysia (PMIM), Jam'iyat al-Khairiyah, dan lainnya.

Selain aktif di organisasi pergerakan di Mesir, bersama dengan murid Haji Abdul Karim Amrullah yakni Muchtar Luthfi, Ilyas Yakub aktif memimpin majalah Seruan Al-Azhar dan Pilihan Timur.

Majalah Seruan Al-Azhar adalah majalah mahasiswa, sementara majalah Pilihan Timur adalah majalah politik. Kala itu, kedua majalah tersebut banyak dibaca mahasiswa Indonesia-Malaysia di Mesir.

Gerakan Ilyas Yakub dalam jurnalistik dan politik antipenjajah di Mesir, tercium oleh Belanda. Pemerintah Belanda berusaha melunakkan sikap radikal Ilyas Yakub. Namun, upaya itu gagal total. Sejak itu, Belanda menganggap Ilyas Yakub sebagai radikalis, ekstremis.

dibaca 6.972x
halaman ke-1 dari 3
loading gif
Top