alexa snippet

Kisah Sulton Suldi dan Misteri Goa Cirawun

Kisah Sulton Suldi dan Misteri Goa Cirawun
Goa Cirawun di Desa Masawah, Kecamatan Cimerak. Foto/KORAN SINDO/Syamsul Maarif.
A+ A-
PANGANDARAN - Nama Sulton Suldi kerap dikaitkan dengan sejarah perkembangan Islam daerah Pangandaran. Sulton Suldi merupakan salah satu putra kembarnya Eyang Sembah Agung. Dimana Eyang Sembah Agung merupakan salah satu tokoh penyebaran Islam di Pangandaran.

Dalam kitab Kacijulangan tertera salah satu rangkaian sejarah perjalanan Sulton Suldi atau Raden Rangga Carita. Dalam kitab tersebut disebutkan jika Eyang Sembah Agung memiliki putra kembar yaitu, Sulton Suldi dan Sulton Muradi.

Sulton Suldi merupakan salah satu putra kembarnya Eyang Sembah Agung yang hilang di Batu Nunggul Sungai Sandaan Desa Kondangjajar, Kecamatan Cijulang ketika masih bayi.
(Baca juga: Situs Batu Nunggul Sandaan dan Kisah Eyang Sembah Agung)

Sedangkan Sulton Muradi berdasarkan Kitab Kacijulangan menghilang saat masih berada dalam kandungan namun kemudian menjelma menjadi manusia setelah dewasa di daerah Bojongkondang yang sekarang menjadi Desa Kondangjajar.

Tapi Sulton Muradi kembali menghilang dan memilih pergi ke tanah suci Mekkah menjadi salah satu Syekh yang menyebarkan ajaran agama Islam.

Dalam Kitab Kacijulangan diterangkan, Eyang Sembah Agung beserta istrinya melakukan pencarian bayi yang hilang saat berada dalam ayunan dengan cara menyisir jalur sungai Sandaan hingga daerah Cirawun di Desa Masawah, Kecamatan Cimerak. (Baca: Rahasia Kitab Kacijulangan dan Raja Mandala).

Salah satu Kasepuhan Cijulang Tatang mengatakan, proses pencarian tersebut dibarengi dengan penyiaran ajaran agama Islam ke masyarakat yang tempatnya menjadi persinggahan Eyang Sembah Agung.

“Eyang Sembah Agung melakukan perjalanan dari satu daerah ke daerah lainnya sambil menyiarkan ajaran agama Islam, beliau meninggalkan daerah dan menuju daerah baru setelah seluruh ajaran dasar agama Islam tersampaikan ke masyarakat,” kata Tatang.

Saat dalam perjalanan proses pencarian anaknya yang hilang, Eyang Sembah Agung beserta istrinya banyak menemukan peralatan yang semula berada dalam kanjut kundang atau tas peralatan bayi yang terbuat dari kain. Sehingga daerah tersebut diberi nama sesuai barang yang ditemukan dan nama tersebut abadi hingga sekarang.

“Barang yang pertama kali ditemukan adalah pisau bekas (peso) memutus tali ari-ari bayi, sehingga daerah itu diberi nama Cipeso,” tambahnya.

dibaca 24.229x
halaman ke-1 dari 3
loading gif
Top