alexa snippet

Cerita Pagi

Resolusi Jihad NU, 10 November dan Hari Santri

Resolusi Jihad NU, 10 November dan Hari Santri
Foto: Dok. SINDOnews
A+ A-
Tak banyak orang tahu jika Hari Santri yang baru diperingati beberapa waktu lalu pada 22 Oktober 2016 bertepatan dengan peringatan 70 tahun Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama (NU).  Peringatan Hari Santri yang baru lalu begitu semarak diperingati tak hanya warga Nahdliyin tapi oleh segenap umat Islam yang ada di tanah air.

Diantaranya dengan gerak jalan memperingati Resolusi Jihad yang menempuh jarak ratusan kilometer diawali dari Tugu Pahlawan di Surabaya dan sampai di Tugu Proklamasi di Jakarta.

Kebetulan peringatan Hari Santri tersebut juga digunakan oleh beberapa elemen masyarakat di sejumlah daerah untuk menyalurkan aspirasinya dalam menyikapi kasus dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama (Ahok).

Bahkan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo yang menyempatkan diri datang dalam peringatan 70 Resolusi Jihad NU di Tugu Proklamasi Jakarta menyatakan, hikmah dan pelajaran yang diperoleh dari peristiwa Resolusi Jihad antara lain bahwa perjuangan melawan penjajah pada masa perjuangan kemerdekaan, terkait erat dengan Resolusi Jihad yang dikumandangkan oleh Ra'is Akbar NU KH Hasyim Asyari pada 22 Oktober 1945.

Resolusi Jihad NU sejatinya adalah salah satu bukti bahwa Umat Islam Indonesia selalu menjadi garda terdepan dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tanpa adanya Resolusi Jihad NU ini, mungkin Indonesia masih terjajah oleh Belanda yang saat itu ingin kembali menguasai nusantara.

Keluarnya Resolusi Jihad tersebut tak terlepas dari permohonan dari Presiden Soekarno pada 17 September 1945, yang memohon fatwa hukum kepada ulama. Karena NU merupakan organisasi Islam yang terbesar kala itu maka Presiden Soekarno meminta fatwa untuk mempertahankan kemerdekaan bagi umat Islam kepada KH Hasyim Asyari.

Hal yang sama juga dilakukan Mayor Jenderal TKR Mustopo, sebagai komandan sektor perlawanan Surabaya pada waktu itu, bersama Sungkono, Bung Tomo dan tokoh-tokoh Jawa Timur menghadap KH Hasyim Asyari. Intinya meminta fatwa untuk melakukan perang suci atau jihad dengan sasaran mengusir sekutu dan NICA yang dipimpin oleh Brigjend Mallaby di Surabaya. Hal ini didasari situasi Kota Surabaya pada waktu itu.

Kemudian KH Hasyim Asyari mengumpulkan ulama-ulama sebagai konsul Nahdlatul Ulama (NU) se-Jawa dan Madura dalam rapat besar pada 21-22 Oktober di Surabaya, Jawa Timur.

Melalui perwakilan ulama yang datang ke pertemuan tersebut, dibuat seruan berupa fatwa Jihad yang berisikan bahwa perjuangan membela tanah air adalah merupakan jihad fi sabilillah.

Fatwa yang dibacakan dibacakan Rais Akbar Nahdlatul Ulama (NU) Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 yang kemudian dikenal sebagai Resolusi Jihad yang isinya antara lain perjuangan atau berperang melawan penjajah merupakan fardhu ain yang dikerjakan oleh setiap orang Islam laki-laki, perempuan, anak-anak bersenjata atau tidak.

dibaca 16.018x
halaman ke-1 dari 3
loading gif
Top