alexa snippet

102 Kali Donorkan Darah, Pelawak Ini Raih Penghargaan

102 Kali Donorkan Darah, Pelawak Ini Raih Penghargaan
Pelawak Sudjadi (kiri) saat menerima penghargaan dari Pendiri dan Direktur Leprid Paulus Pangka di Semarang, Jumat (21/10/2016). Foto/KORAN SINDO/Ahmad Antoni
A+ A-
SEMARANG - Sejak 1989, pelawak yang satu ini selalu mendonorkan darahnya. Hingga kini, dia telah 102 kali mendonorkan darahnya. Ketulusannya berbuah penghargaan.

Jumat (21/10/2016) menjadi hari yang istimewa bagi Sudjadi. Bertepatan dengan momentum 26 tahun pernikahannya dengan Meliana Prasetiyaningsih, Sudjadi mendapatkan penghargaan berupa piagam dan medali dari Lembaga Prestasi dan Rekor Indonesia-Dunia (Leprid) sebagai seniman komedi lawak yang mendonorkan darah secara kontinu, sejak tahun 1989 hingga saat ini, sebanyak 102 kali. 

Sudjadi mengaku sangat senang dan berterima kasih atas penghargaan tersebut. Namun, bagi pria kelahiran Surabaya 8 Maret 1965, apa yang dilakukannya (melawak dan donor darah, red) bukan semata untuk mendapatkan pengakuan dari penghargaan tersebut.

"Prinsip saya, 'berani hidup berani berprestasi'. Jadi, hidup yang singkat ini harus bermanfaat dan berarti untuk semua orang," kata Sudjadi kepada KORAN SINDO JATENG

Menurut Sudjadi, motivasinya melakukan donor darah secara kontinu karena persaudaraan antarmanusia yang tidak sekadar retorika. Apa yang dilakukan pria yang memiliki nama panjang HM Cheng Hoo Djadi Galajapo ini juga tak lepas dari aktivitas kemanusiaan yang dirintisnya.

Di antaranya, kegiatan bagi-bagi nasi bungkus pada setiap hari Jumat, program Ngaji Seneng Indonesia setiap tanggal 17, dan program donor darah darah. "Aktivitas rutin tersebut saya laksanakan sejak 17 Oktober 2014, khusus untuk donor darah mulai saya lalukan pada 1989," ungkap bapak dua putri ini.

Sudjadi menceritakan, saat usia 24 tahun dirinya mulai melakukan donor darah. Awalnya dilakukan setiap tiga bulan sekali, kemudian ada aturan 2,5 bulan, hingga kini dilakukannya dua bulan sekali. "Bagi saya, donor darah itu bermanfaat membuat badan lebih sehat," kata Djadi.

Meski dilakukan secara kontinu, donor darah yang ia lakukan bukan tanpa rintangan. Permasalahan timbul saat jebolan Srimulat era 1989 ini memasuki usia di atas kepala 40. "Masalahnya sih nggak begitu serius. Cuma saat masuk usia 45, tensi (tekanan darah) naik. Karena itu petugas PMI menunda dulu dan menyuruh saya istirahat. Setelah normal baru bisa diambil darahnya."

Dia berharap, aktivitas kemanusiaan lewat donor darah ini bisa memberikan semangat dan inspirasi bagi para generasi muda terutama para pelawak.

Djadi pun selalu mengingat pesan Gus Dur bahwa melawak itu tidak boleh mencemooh dan mendiskreditkan. "Saya pernah minta doa restu (sebelum berangkat haji) pada Gus Dur malah dibisiki,'sesama setan dilarang saling lempar'. Setelah saya berpikir seminggu untuk mengartikan apa yang disampaikan Gus Dur baru tahu bahwa melawak itu nggak boleh saling mencemooh, mencibir, dan mendiskreditkan," ujarnya.

dibaca 18.890x
halaman ke-1 dari 2
loading gif
Top