alexa snippet

CERITA PAGI

Situs Batu Nunggul Sandaan dan Kisah Eyang Sembah Agung

Situs Batu Nunggul Sandaan dan Kisah Eyang Sembah Agung
Situs Batu Nunggul di tengah Sungai Cijulang. Foto/KORAN SINDO/Syamsul Maarif
A+ A-
Batu Nunggul yang berada di Blok Sandaan, Desa Kondangjajar, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran merupakan salah satu situs bersejarah mengenai perjalanan penyebaran Islam di Pangandaran. Sayangnya situs ini mulai terlupakan tidak banyak hal yang dikerjakan untuk merawat peninggalan bersejarah.

Situs ini kini hanya berupa seonggok batu yang berada di tengah Sungai Cijulang. Padahal berdasarkan buku Babad Cijulang, disebutkan bahwa di Batu Nunggul ini istri Jang Pati atau Eyang Sembah Agung melahirkan putranya. 

Eyang Sembah Agung adalah salah satu ulama penyebar Agama Islam pada masa pergeseran Hindu Budha ke Islam di pesisir laut selatan pulau Jawa tepatnya Kabupaten Pangandaran.

Ada beberapa versi mengenai keberadaan Eyang Sembah Agung, versi pertama menyebutkan Jang Pati merupakan penasihat Kerajaan Mataram pada masa Amangkurat II berkuasa. Namun karena sang raja sudah mulai tunduk dan bekerja sama dengan VOC maka Eyang Sembah Agung, kemudian mengundurkan diri dan mengasingkan diri ke daerah Cijulang yang kemudian menjadi ulama.

Sedangkan versi kedua disebutkan Eyang Sembah Agung, merupakan putra dari Raja Mandala. Raja Mandala merupakan salah satu keturunan keturunan Kerajaan Pajajaran dan dikaruniai lima anak laki-laki, di antaranya Sembah Gede, Jang Pati, Jang Singa atau Maung Panjalu, Jang Raga, Jang Langas atau Sembah Agung.

Salah satu tokoh spiritual Kabupaten Pangandaran Abah Kundil mengatakan, dalam buku Babad Cijulang, Batu Nunggul merupakan salah satu tempat aktivitas Jang Pati tinggal bersama isterinya.

“Ditempat itulah Jang Pati mengajarkan kepada masyarakat untuk mengenal Agama Islam, kalimat ajakan yang diserukan diantaranya adalah, sebagai manusia seharusnya hanya menyembah kepada yang agung yaitu Allah SWT, dari situlah Jang Pati mendapat julukan Eyang Sembah Agung dari santrinya,” kata Kundil.

Menurut Kundil, dalam Babad Cijulang diterangkan, isteri Eyang Sembah Agung mengandung bayi kembar. Saat masih dalam kandungan Eyang Sembah Agung telah memberi nama Sulton Suldi dan Sulton Muradi, namun salah satu bayi yang dikandung oleh istrinya hilang saat masih dalam kandungan.

“Bayi yang lahir ke dunia hanya satu, lahirnya diatas batu yang berbentuk tunggul di sungai kecil tempat aktivitas mencuci peralatan rumah tangga. Ya konon di batu tersebut,” tambah Kundil.

Berdasarkan cerita saat bayi tersebut berusia empat bulan, isteri Sembah Agung meletakkan anaknya tersebut dalam ayunan, karena ada keperluan mau mencuci salah satu peralatan rumah tangga di tepian sungai.

dibaca 28.869x
halaman ke-1 dari 3
loading gif
Top